@merumbaila “Hanya ada kita di sini, tak ada yang melihat,” bisiknya lembut; sembari terus menanamkan kelopak-kelopak bunga di ladang hatimu, menanti saatnya mereka mekar sempurna, menjelma rona merah di kedua pipimu.
Putera Hosea membenci dengan ketidakjelasan diri sendiri,
mengutuk perasaan brengsek yang menggelantungi ini,
menyumpah-serapahi engkau yang berperangai majenun sementara wajahmu seperti dewi. Duh, sungguh sayang sekali.
"Tunjukkan padaku di bagian mana saja memarmu."
Jarinya yang telah berani menodai paras menawanmu kini menari demi menyeka darah yang mengalir dari hidungmu dengan kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun.
"Bajingan kau, Siena." ..
badai tersebut belum pernah ada di seluruh buku yang pernah dibaca atau dipelajarinya.
Dari temaram sorot mata Siena yang kelam, ia bukan hanya melihat warna hidup manusia yang perlahan-lahan kehilangan dayanya, ..
@decathaect Amarah, duka, kesal, putus asa atau apapun namanya, Baramada sungguh tidak pandai memaknai rasa yang meranggas di relung dada hanya melalui satu suku kata.
Badai dalam dirinya tak memiliki asma,
badai itu sukar ia kenali adanya, ..
bulu burung bulbul? apakah sepasang mata abu sebesar biji tasbih yang meredup namun berkilau secara bersamaan? ataukah yang lain, Siena?
Setelah menyisir suraimu, tangan Baramada membagi sekepal itu menjadi tiga, lantas jemarinya menari di antara udara. ..
@decathaect Ruas-ruas jari yang dahulu mengemban tugas untuk memancang tali layar kapal dan menarik jangkar kini menyugar lembut surai panjangmu yang menawan. Dibuatlah Putera Hosea menduga sangka, bagian mana dari tubuhmu yang disuka? Akankah rambut halus bagaikan serat-serat ..
@decathaect Ruas-ruas jari yang dahulu mengemban tugas untuk memancang tali layar kapal dan menarik jangkar kini menyugar lembut surai panjangmu yang menawan. Dibuatlah Putera Hosea menduga sangka, bagian mana dari tubuhmu yang disuka? Akankah rambut halus bagaikan serat-serat ..
@merumbaila Apalah arti kekotoran bagi sosok yang sudah terbiasa membasuh jemarinya di tengah kubangan lumpur? Tunjukkan padanya tiap luka membiru dan borok yang menggerogoti hatimu, dan nona kami tak akan berpaling.
“... Lalu? Apa yang terjadi?”
@merumbaila Ia tunduk pada titahmu tanpa ragu. Jemarinya membelai lembut tegap bahumu, menyusuri jenjang leher hingga bermuara pada garis rahangmu yang tegas. Tanpa jarak, ia mendarat manis di pangkuanmuㅡmenempati tahta kecilnya seolah tempat itu memang sudah ditakdirkan menjadi miliknya.