@bardanslm my fav pick "hidup bawa beban bukan taruh beban" - "tentang apa yang lo bisa, bukan yang lo mau" - "if you wanna go fast, go alone. If you wanna go further, go together"
for anyone asking where to learn this stuff:
• RAG → https://t.co/4bzbUIwV5g
• Agentic RAG → https://t.co/IotOiGmV1Y
• AI Agents → https://t.co/nEeMnVJQbk
• Multi-Agent Systems → https://t.co/pavDPVJEFj
• LangGraph → https://t.co/3miEqqFzF0
• LangGraph (code) → https://t.co/v7kxHZXqba
• MCP → https://t.co/lKawRb4etX
• Memory Systems → https://t.co/LSaT2UaPAS
• Evals → https://t.co/vxChxa1kqQ
• Context Engineering → search "Context Engineering Survey" on arXiv
and please skip the "build an ai agent in 10 minutes" videos
build something, watch it fail, then figure out why.
Indon techbros, you have the opportunity untuk niru ini & jadi yg pertama bawa konsep Buy Now Pay Maybe (BNPB) ke konsumen 🇮🇩
Unicorn startup idea. Apalagi masy kita udh ketagihan judol. Regulasi juga ga bakal ngejar itu boomer2 bangkotan ga akan paham.
I think a big part of this is having a weekly social event of a few hours (like church) is incredibly healthy
We now did 53 weekly coworking events in my house and it's a great way for people to stay social
Being social in 20s is easy (or was for me), there's always something going on, and you're single so dating is social itself
In your 30s it gets harder, people are more busy, you're probably in a relationship, you might hav kids, so you think you need less social cause you get it already from your family but you need friends outside of that
Organizing a weekly event whatever it is and kinda putting effort to ask people to come works
Some weekly coworking days we have had 30 people, others it's just 3 people, one time nobody came and it was just me! But regardless I (or @rameerez when I am not at home) organize it
This one was after my birthday party last week!
Anyway I can recommend everyone to organize a weekly event, mine was inspired by @csonotes original Bali coworking events, and you can do same in your town or neighborhood! It doesn't have to be coworking, can also be group workout or board game meetup or debate club, whatever, something to get people off their phones and out the door!
And it's healthy!
#intinyadeh
Emang skill issue
Dan loker kurang nyebar
Surprisingly, diskriminasi umur banyak. Mungkin aku bakal diskriminasi juga kalo dulu ga punya anak buah "fresh grad" junior engineer usianya 39 tahun (I was 28 back then). Sekarang doi dah senior engineer di Nvidia
Halo :) Ini aku ada kode program buat everyday tasks seperti convert PDF, resize PDF, split PDF, generate QR code, remove image backrgound, unit converter, dll (bisa lihat di referensi screenshots terlampir).
Kamu bisa unduh kode programnya di https://t.co/aYlX2H9jgd
dan jalanin secara lokal di komputer kamu, supaya data-data kamu nggak bocor ke mana-mana.
Instagram dan Tiktok bikin pria terobsesi pada wanita yang gak bakal mau sama mereka.
Instagram dan Tiktok juga bikin wanita merasa berhak punya pasangan yang bisa provide lifestyle yang gak mampu mereka miliki.
Semua orang mengejar khayalan, lalu kecewa saat kenyataan gak sesuai ekspektasi.
Setiap hari pria scroll Instagram dan TikTok, lihat wanita cantik, body goals, makeup flawless.
Tanpa sadar, standar mereka naik. Mereka mulai membandingkan setiap wanita di kehidupan nyata dengan influencer yang mereka lihat online.
Lupa bahwa semua itu hasil filter, lighting, editing, dan makeup berjam-jam. Lupa bahwa wanita-wanita itu gak akan pernah mau sama mereka.
Pria jadi terobsesi pada sesuatu yang gak realistis. Mereka ngejar wanita cantik dan sexy yang pada kenyataannya gak tertarik sama mereka.
Wanita di kehidupan nyata yang baik, real, dan available? Dianggap biasa aja. Kurang menarik. Kurang exciting.
Akhirnya mereka stuck: gak bisa dapetin yang mereka mau, tapi gak mau sama yang available. Sendirian, tapi tetap ngejar ilusi.
Di sisi lain, wanita scroll Instagram dan TikTok, lihat couple goals yang liburan ke Maldives, makan di restoran mahal, dapet hadiah branded.
Tanpa sadar, ekspektasi mereka naik. Mereka mulai merasa berhak punya pasangan yang bisa provide gaya hidup seperti itu.
Lupa bahwa semua itu hasil kurasi. Cuma kasih liat yang bagusnya aja. Lupa bahwa pria yang bisa provide begitu cuma segelintir, dan belum tentu mau sama mereka.
Wanita jadi terobsesi pada lifestyle yang gak realistis. Mereka ngejar pria yang mapan, romantis, perhatian, dan bisa kasih hidup mewah.
Pria di kehidupan nyata yang baik, bertanggung jawab, tapi income standar? Dianggap kurang. Gak cukup untuk bikin bahagia.
Akhirnya mereka stuck: gak bisa dapetin yang mereka mau, tapi gak mau sama yang available. Sendirian, tapi tetap ngejar ilusi.
Inilah efek paling berbahaya dari social media: semua orang mengejar ilusi alih-alih membangun kenyataan.
Semua orang menuntut orang lain memenuhi khayalan mereka. Khayalan yang bahkan mereka sendiri gak bisa provide untuk diri sendiri.
Pria menuntut wanita cantik seperti model, tapi mereka sendiri gak punya apa-apa yang bisa ditawarkan.
Wanita menuntut pria kaya spek CEO, tapi mereka sendiri gak punya value yang setara.
Akibatnya? Makin banyak orang yang single berkepanjangan. Makin banyak yang frustrated karena "gak ada yang cocok."
Padahal bukan gak ada yang cocok. Tapi ekspektasi kamu yang udah terlalu tinggi dan gak realistis.
Kamu sibuk ngejar sesuatu yang gak mungkin kamu dapetin, sementara orang yang bisa bikin kamu bahagia ada di depan mata, tapi kamu abaikan karena "kurang."
Social media bukan cermin realita. Social media itu highlight reel yang dikurasi, diedit, dan dijual.
Kalau kamu terus membandingkan kehidupan nyata dengan ilusi di layar, kamu gak akan pernah puas. Gak akan pernah bahagia.
Saatnya melek dan realistis, mulai hargai orang-orang real di sekitar kamu.
Kalau kamu merasa stuck gara-gara standar yang terlalu tinggi, chat WA 0812-9224-8681. Saya bantu kamu kembali ke realita dan nemuin jodoh yang beneran cocok.
My Monthly Cost of Living in Bali, Indonesia 🇮🇩
17€ housing (parent house contribution)
18€ transportation (fuel + engine oil)
53€ food + weekend coffee (freelance remote work + university student)
5€ gym
18€ university savings
total: 105€/month
my monthly cost of living in Sweden 🇸🇪
🏠890€ rent for the apartment, 50€ utilities
🚂 240€ unlimited public transit
🥙 281€ food
📦 127€ bullshit
🏝️ 100€ international travel
total: 1688€/month
Buat yang nanya kenapa? karena opportunity cost.
Misal lo punya 30jt, terus invest di saham atau emas.
Anggaplah return realistisnya 10-15% per tahun. artinya lo dapet 3-4.5jt dalam SETAHUN. sebulan ga sampe 400rb.
Sekarang bandingin.
30jt lo pake buat invest leher keatas - beli course untuk bangun skill yang rare dan valuable, buku2, atau bayar consultant/mentor.
Skill itu naikin earning power lo.
Misal dari yang gajinya 20jt/bulan naik jadi 30jt/bulan. Itu selisih 10jt SETIAP BULAN.
Atau klo setelah itu bisa kerja remote di luar negeri, dari 20jt/bulan ke 70jt/bulan. Langsung balik modal 100% itu dari selisih kenaikan salarynya cuy.
Dan itu baru bulan pertama.
Sementara skill compound seumur hidup.
Yang lebih bahaya: waktu dan fokus lo.
Kalo cash masih kecil tapi udah sibuk mantau chart, baca analisis saham, panik pas turun dll.
Lo buang resource paling mahal yang lo punya: Attention.
Mending channel itu semua buat ningkatin value lo di market.
Saat lo udah jadi orang yang worth di-invest, baru invest uang lo ke tempat lain. Prioritas pertama selalu diri sendiri.
1,000 Indonesians are now seeking urgent assistance from their embassy in Phnom Penh after fleeing scam centres amid Cambodia’s widening crackdown.
Hundreds are sleeping outside the Indonesian Embassy after escaping operations across the country, many without passports, visas, or money to return home.
“I came here to ask the embassy for help checking my visa and helping me return to Indonesia,” said Ikhsan Maulana. “They said even if we couldn’t speak Khmer or English, we could still work. But when I arrived, it turned out to be a scam job.”
The scenes outside the embassy are just the tip of the iceberg when it comes to the scale of the scam industry in Cambodia. It is time for the Indonesian government to arrange repatriation flights for its citizens.