@txtharihariWNI Ya kalo lu ada kepikiran kalo dia guru pengganti ga usah dipermalukan lah, gaji mereka udah kecil masih dan harus dipermalukan kaya gini jg mah emang lu pada udah ga waras
Satu karya di caci maki
Satu karya memukau dunia sampai jadi inspirasi
2 karya didua negara berbeda dengan 1 pencipta
SDM Kita belum layak bergaul dalam pergaulan dunia.
Intinya SMD mayoritas kita Rendah
Sekali lagi SDM kita Rendah
kayaknya masih banyak yang belum tau deh kalo di seberang fX Sudirman ada perpustakaan yang bisa dikunjungi umum. namanya Koryu Space, perpustakaan milik The Japan Foundation. tempatnya nyaman dan zen banget.
koleksi bukunya cukup beragam, tapi tentu aja lebih banyak yang berkaitan dengan Jepang. ada koleksi manga juga! terus ada pojok informasi buat kalian yang tertarik cari tahu soal beasiswa dan kesempatan belajar ke Jepang.
Koryu Space buka weekdays pukul 09.30 - 16.30. tapi perlu dicatat, pukul 12.30 - 13.30 perpustakaan tutup sementara dan pengunjung diminta keluar karena jam istirahat.
gak perlu bingung mau ke mana selama sejam itu, kalian bisa sekalian ISHOMA. di gedungnya ada musola dan FamilyMart juga.
📍The Japan Foundation
Temen gw kerja di front office hotel bintang 4 di Bali.
Suatu malam gw tanya: "Kalau gw mau nginep di hotel lo, booking di mana yg paling murah?"
Dia bilang satu kalimat.
Satu kalimat yg bikin gw gak pernah lagi booking lewat Agoda atau Traveloka.
Dan setelah lo baca thread ini, lo juga gak akan.
Kalimatnya:
"Telepon langsung ke hotel. Bilang lo liat harga di Agoda Rp sekian. Minta harga lebih murah. Kita PASTI kasih."
Gw kaget.
"Serius?"
"Serius. Tiap tamu yg booking lewat app, hotel bayar komisi 15 sampai 25 persen ke app itu. Kamar Rp 1 juta? Rp 150 ribu sampai Rp 250 ribu masuk ke kantong Agoda. Bukan ke hotel."
"Jadi kalau gw telepon langsung?"
"Komisi itu gak ada. Hotel bisa kasih lo harga lebih murah DAN tetep untung lebih gede. Semua seneng. Kecuali Agoda."
Gw coba.
Hotel yg sama. Kamar yg sama. Tanggal yg sama.
Harga di Traveloka: Rp 1.250.000. Harga di Agoda: Rp 1.180.000.
Gw telepon hotel langsung. Bilang: "Saya liat di Agoda harga kamar deluxe tanggal segini Rp 1.180.000. Ada harga lebih baik kalau saya booking langsung?"
Jawaban resepsionis: "Bisa, Kak. Kami bisa kasih Rp 950.000. Sudah termasuk sarapan."
Selisih: Rp 300.000. Plus dapet sarapan yg di app BELUM termasuk.
Satu telepon. 2 menit. Hemat Rp 300 ribu.
"Kenapa hotel gak pasang harga murah itu di website sendiri aja?"
Nah. Ini bagian yg gelap.
Temen gw bilang: "Kita GAK BOLEH."
Hotel punya kontrak dg Agoda, Traveloka, Booking com. Di kontrak itu ada satu klausul yg namanya RATE PARITY.
Artinya: hotel DILARANG pasang harga lebih murah di channel lain, termasuk website sendiri, selama harga itu bisa diliat publik.
Kalau ketahuan, app bisa turunin ranking hotel di hasil pencarian. Hotel jadi gak keliatan. Booking anjlok. Revenue mati.
Jadi hotel terjebak. Mau kasih harga murah ke tamu, tapi gak boleh.
Kecuali lewat satu celah.
Celahnya: TELEPON.
Rate Parity berlaku buat harga yg DIPUBLIKASI. Website, app, iklan.
Tapi harga yg dikasih lewat telepon? Itu PRIVATE. Gak dipublikasi. Gak bisa ditrack sama Agoda.
Makanya temen gw bilang: "Telepon langsung."
Bukan lewat WhatsApp resmi hotel (bisa diaudit). Bukan lewat website (bisa ditrack).
TELEPON. Suara ke suara. Gak ada jejak digital buat Agoda trace
Ini bukan cheat. Ini cara hotel kasih harga yg SEHARUSNYA lo dapet dari awal. Sebelum 15-25% dipotong buat komisi app
Gw tanya lebih jauh: "Trs kenapa gak semua orang tau ini?"
Temen gw ketawa.
"Krn Agoda dan Traveloka spend MILIARAN buat iklan. Google Ads. Instagram Ads. Influencer. Cashback. Promo.
Semua itu biar lo TERBIASA booking lewat mereka.
Biar lo gak pernah kepikiran buat telepon langsung.
Biar lo gak pernah tau bahwa Rp 150 ribu dari setiap booking lo itu masuk ke kantong app, bukan ke hotel yg ngelayanin lo."
Dan satu lagi yg temen gw bilang.
"Kalau lo telepon dan bilang lo MEMBER loyalty program hotel, harga bisa turun lebih jauh lagi."
IHG Rewards. Marriott Bonvoy. Accor ALL. Daftar GRATIS.
Member rate kadang 10-20% lebih murah dari harga publik. Dan itu SAH. Krn member rate masuk kategori "private rate" yg gak kena aturan Rate Parity.
Jadi stacknya:
Harga Traveloka: Rp 1.250.000. Harga telepon langsung: Rp 950.000. Harga member rate: Rp 850.000.
Selisih total: Rp 400.000. Buat yg PERSIS SAMA
Senjata lo:
Satu. JANGAN langsung booking di app. Liat harga di sana, catat, tapi JANGAN klik bayar.
Dua. Telepon hotel langsung. Bilang: "Saya liat harga di Agoda Rp sekian. Ada harga lebih baik kalau booking langsung?" Kalimat itu aja. Gak perlu negosiasi keras.
Tiga. Daftar loyalty program hotel GRATIS. IHG, Marriott, Accor , semua bisa daftar di app tanpa bayar. Member rate bisa lebih murah lagi.
Empat. Kalau hotel chain besar: cek website resmi mereka. Banyak yg punya "Best Rate Guarantee" kalau lo nemu harga lebih murah di app lain, mereka MATCH dan kadang kasih diskon tambahan.
Lima. Kalau hotel independen atau boutique: WhatsApp atau DM Instagram mereka. Hotel kecil LEBIH fleksibel soal harga krn gak seketat chain besar soal Rate Parity.
Agoda dan Traveloka bukan musuh.
Mereka berguna buat CARI hotel. Bandingin fasilitas. Baca review. Liat foto.
Tapi begitu lo udah tau hotel mana yg lo mau?
Tutup app. Buka dial pad. Telepon.
2 menit. Satu kalimat. Rp 300-400 ribu lebih murah.
Temen gw bilang ini ke gw. Sekarang gw bilang ke lo.
Dan sekarang lo tau kenapa Agoda gak mau lo tau ini.
cc : emmawithai
udah liat tingkah menjijikan mimi peri? masih mau ngasih ruang untuk bencong? masih mau bela para boti dan LGBT kah?
-dia terang2an mengaku suka tusbol/sodomi, di mana dia ngambil anak2 kampung, katanya anak2 kampung lebih bersih dari HIV. kurang ajar sekali, pun kalo mereka bersih, bisa saja nanti justru dia yang tertular dari si bencong ini. daya rusaknya luar biasa untuk anak2 dan masa depan
bejat. hina. dia menularkan penyakit kelamin dan bisa menularkan orientasi seksnya yang menyimpang itu ke anak2 kampung yang kemungkinan masih ada yang polos
jangan lagi bilang sifat dan kelakuan bencong itu gak bisa nular. bisa. jurnal barat yang jadi rujukanmu soal LGBT gak bisa nular itu gak valid, emang yang buat jurnal itu udah ngambil survey dari seluruh dunia? gimana kalo yang buat jurnal itu ada beberapa yang pro ke LGBT juga? stop denial
bagaimana kalo anak2 kampung itu anakmu? keponakanmu atau kerabatmu? masih ada kah ruang untuk tidak marah?
anak2 kampung yang dia sebut itu mungkin ada yang sama2 mau, tapi besar kemungkin ada juga yang awalnya gak mau tapi karena banyak faktor seperti iming2 dikasih imbalan, dirayu atau apapun lah caranya sampai pada akhirnya dia mau melakukannya. ditambah dengan keadaan ekonominya yang sulit, begitu ditawari uang dan hadiah bisa saja pendiriannya goyah. ini banyak terjadi
-saat ditegur soal kelakuannya itu, dia teriak "hidup boti, saya bangga menjadi boti. dosa itu gak ada, gak ada disiksa (di neraka), itu hanya dongeng, dongeng masa kecil buat nakut-nakutin"
apa gak bahaya kalo predator seperti ini dibiarin berkeliaran semaunya tanpa ditindak? tanpa memasukkan unsur agama pun, kita semua harusnya gak boleh bebasin dia ngerusak anak2 dan menularkan penyakit fisik dan mental ini
teman2, jangan biarkan kemungkaran terjadi di depan mata. lawan