Real Madrid memang menang, tapi mereka belum bermain sebagai sebuah TIM.
Di bawah asuhan José Mourinho, tiga poin perdana atas Espanyol di La Liga diraih lewat faktor keunggulan kualitas individu dan momentum pergantian pemain di menit-menit akhir, bukan karena hasil dari sebuah mesin yang bekerja secara kolektif dan harmonis.
Saat ini, Real Madrid masih terlihat seperti sekumpulan pemain bintang yang dipaksa berada dalam satu lapangan tanpa adanya ikatan kemitraan yang jelas.
Selain skema bola mati, alur serangan Los Blancos terasa sangat individualis, di mana setiap pemain depan cenderung ingin menyelesaikan peluang sendiri ketimbang membangun kombinasi yang cair. Komunikasi antarlini pun masih sangat longgar, para pemain masih sering abai dengan pergerakan tanpa bola pemain lawan yang jadi proses terciptanya gol Espanyol.
Kolektivitas permainan inilah yang menjadi tugas paling mendesak bagi Mou. Jika ia gagal menyatukan ego para bintang ini ke dalam satu kesatuan visi bermain, kemenangan-kemenangan berikutnya akan selalu diraih dengan cara yang melelahkan dan penuh risiko.
Mungkin ini alasan mengapa Mou membuat peraturan agar para pemain makan bareng di Valdebebas, biar pada ngobrol 🗣️
Ada yg menarik dari gaya Mas Wapres @gibran_tweet di Manggarai Timur kemarin.
Mas Gibran datang ke Puskesmas Waso, ketemu warga korban gempa, dan suasana langsung ramai.
Banyak yg merekam..banyak yg ingin sapa.
Tapi yg paling saya perhatikan justru momen kecilnya. 😊
Ada seorang kakek yg bilang, “Pak ini kan berdebu…”
Mas Gibran tidak menjawab dg banyak kata2..dia langsung melepas kacamata pribadinya, lalu memberikannya ke kakek itu.
Sederhan..terasa tulus.
Setelah itu Mas Gibran terus bergerak, menjabat tangan warga satu per satu, mendengarkan, dan rumah2 warga yg rusak akibat gempa didatangi langsung sampai ke lokasi rumahnya masing-masing (bukan cuma ke posko atau puskesmas aja).
Tidak ada pidato panjang.
Tidak ada bahasa formal yg berjarak. Hanya kehadiran yg terasa dekat.
Ini yg selalu saya lihat dari gaya Mas Gibran.
Mas Gibran cenderung memilih pendekatan yg personal.
Bukan dg membuat jarak, tapi justru mendekat.
Bukan dg banyak janji, tapi dg tindakan kecil yg bisa dirasakan langsung oleh orang di depannya/hadapannya.
Di tengah situasi sulit seperti gempa, rakyat seringkali tidak butuh banyak penjelasan.
Mereka butuh merasa dilihat dan didengar.
Di momen itu Mas Gibran memilih utk hadir dg cara yg sangat manusiawi.
Mungkin itu juga yg membuat banyak warga terlihat lega dan berterima kasih berulang kali.
Gaya seperti ini terkesan sederhana, tapi justru meninggalkan kesan yg dalam.
Respek. 🌹
Rangkuman perseteruan Fabrizio Romano dan Florian Plettenberg terkait saga transfer Yan Diomande:
1. Fabrizio Romano lebih dulu mengumumkan: Yan Diomande ke Real Madrid: HERE WE GO!
Fabrizio mengklaim bahwa kesepakatan antara Real Madrid dan RB Leipzig telah tercapai untuk biaya transfer di atas €100 juta. Diomande kemudian disebut akan terbang ke Madrid untuk menjalani tes medis dan menandatangani kontrak hingga Juni 2031.
Dengan istilah andalannya, “Here We Go”, maka publik berasumsi bahwa transfer tersebut sudah done deal.