Pidato @prabowo soal banjir Sumatera dan pentingnya pendidikan lingkungan tampak lebih mirip didengar sebagai kemunafikan politik yang menutupi akar persoalan. Di satu sisi, ia mengucapkan duka dan menyalahkan pemanasan global serta kerusakan lingkungan, lantas mengajak guru dan murid menjaga hutan dan sungai; di sisi lain, pemerintahannya justru memperkuat model ekonomi ekstraktif lewat percepatan hilirisasi tambang, perluasan proyek energi besar (PLTA, PLTP), dan konsolidasi oligarki sumber daya di hulu DAS yang jadi ruang hidup warga di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Banjir bandang sepekan terakhir, jelas sebagai bukti krisis tata kelola—bukan sekadar cuaca—dan justru lahir dari ledakan izin tambang, kebun, dan proyek energi di kawasan penyangga dan hulu sungai, sebuah jejak kebijakan yang tidak disentuh sama sekali dalam pidato manis Prabowo.
Dengan menggiring narasi ke ranah “kesadaran individu” dan kurikulum sekolah, Prabowo menggeser tanggung jawab dari negara ke guru dan murid, seolah nasib banjir Sumatera ditentukan oleh seberapa rajin anak sekolah menanam pohon, bukan oleh pemerintah yang membagi-bagikan izin dan karpet merah investasi di hulu.
Analisis JATAM (https://t.co/1wTGomO0zc) tentang banjir Sumatera justru memperlihatkan bahwa aktor utama perusak hutan, pengubah aliran sungai, dan penghancur kawasan resapan adalah kebijakan negara yang memanjakan korporasi tambang, kebun, dan energi—kebijakan yang di era Prabowo bukan dihentikan, melainkan dipacu atas nama kedaulatan energi dan pembangunan nasional.
Dalam konteks ini, seruan “melindungi hutan dan sungai” dari mulut presiden yang mengawal ekspansi ekstraksi bukan hanya kontradiktif, tapi menjadi bentuk cuci tangan politik di atas lumpur dan puing rumah warga yang terseret banjir.
Negara terbesar keempat di dunia.
Negara paling rentan terancam bencana nomor dua di dunia.
Negara dengan gempa terbanyak 2023-2024 di dunia.
Negara dengan gunung api terbanyak ketiga di dunia.
Ini yang bodoh siapa?
Sawit monokultur disamakan dengan hutan, dari sini aja terlihat dia melihat hutan sebagai komoditas
Dikira hutan cuma pohon, dibabat tinggal tanam sawit
Dia gak melihat hutan sebagai ekosistem diverse, yang setiap entitas punya fungsi unik
Resep mujarab bencana sosio-ekologis
Nahhh ini bakalan seru nih, gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto berpotensi di-PTUN-kan! Menurut Pakar hukum tata negara keputusan ini cacat, karena mengabaikan agenda Reformasi 1998 dan putusan MA soal kasus korupsi Yayasan Supersemar yg merugikan negara triliunan. Pemberian gelar saat kewajiban hukum belum tuntas adalah pengkhianatan terhadap keadilan dan penghianatan terhadap reformasi itu sendiri. Jalan gugatan hukum menjadi harapan terakhir penegakan integritas sejarah.
#SoehartoBukanPahlawan
https://t.co/jnHEDSQa9P
Sempatkan baca di tengah kesibukan kawan2, tidak sampai 5 menit. Bagikan ke semua org.
Jika selesai membaca masih berpikir Suharto layak jadi pahlawan nasional, maka cukuplah usaha kita.
Mata, telinga dan sanubari mereka sudah dicor beton.
@yosuakristian@kleponmaniz Nek ngidu aku ora presisi 😅
Dadi mending sangu hit semprot sing cilik 👍
Nek nesu yo disauti, ora opo2, iki podo racun e karo ududmu 🤣🤣🤔
Seorang anggota Polres Ende, NTT menganiaya pria difabel hingga tewas usai menghadiri acara syukuran.
+ #Polisi#Penganiayaan#NTT#Peristiwa ##Read
Baca di https://t.co/hYDRQZmMnW
Bkn takut, tp eman2 kok NU skrg ngamukan, alergi thdp kritik.
Tokoh kek Gus Dur, Gus Mus, Gus Baha bikin NU dihormati. Islam ramah, humoris, ngayomi.
Yg ngrusak citra NU itu kek Ketua Ansor DKI yg ancam gorok dan bakar gedung, tp dibiarin.
Introspeksi aja, jgn denial!