Rakyat jelata apply kerja di BUMN:
Syaratnya gila:
• Minimal S1 lulusan PTN ternama
• IPK 3.5
• Pengalaman kerja 5 tahun
• Fasih 3 bahasa asing
• Umur maksimal 25 tahun
• Harus menguasai elemen bumi, air, api, udara
• Bisa mengalahkan Raja Api Ozai
Gaji? UMR!!!
Sementara jalur “orang dalam” tingkat dewa: Gak lulus S1 pun langsung dapat kursi komisaris + gaji puluhan juta + fasilitas.
Terus heran BUMN rugi triliunan tiap tahun?
Uang pajak rakyat dipakai buat gaji orang-orang yang bahkan gak perlu ngelamar.
Sistemnya emang sengaja dibikin begini.
Kalian masih percaya BUMN bisa diperbaiki dari dalam?
Rakyat jelata apply kerja di BUMN:
Syaratnya gila:
• Minimal S1 lulusan PTN ternama
• IPK 3.5
• Pengalaman kerja 5 tahun
• Fasih 3 bahasa asing
• Umur maksimal 25 tahun
• Harus menguasai elemen bumi, air, api, udara
• Bisa mengalahkan Raja Api Ozai
Gaji? UMR!!!
Sementara jalur “orang dalam” tingkat dewa: Gak lulus S1 pun langsung dapat kursi komisaris + gaji puluhan juta + fasilitas.
Terus heran BUMN rugi triliunan tiap tahun?
Uang pajak rakyat dipakai buat gaji orang-orang yang bahkan gak perlu ngelamar.
Sistemnya emang sengaja dibikin begini.
Kalian masih percaya BUMN bisa diperbaiki dari dalam?
Jusuf Kalla menemui Prabowo di Istana, 11 Juni 2026. Pertemuan tertutup, satu jam.
Setelahnya JK bilang: ia mengusulkan pembangunan 2.000 megawatt PLTA baru senilai Rp60–70 triliun, dan "Presiden setuju."
Yang menemaninya: Solihin Kalla , anaknya sendiri, sekaligus CEO Kalla Group.
Bisnis utama Kalla Group: PLTA.
PT Poso Energy, PT Malea Energy, portofolio 1.500 megawatt sudah beroperasi, ekspansi 1.230 megawatt lagi sedang berjalan.
Jadi skemanya: anak punya perusahaan PLTA.
Ayah temui Presiden.
Ayah usulkan bangun PLTA besar.
Presiden setuju.
Nilai proyeknya Rp60–70 triliun.
Pertemuan itu namanya apa : konsultasi kebijakan energi nasional, atau pitching proyek bisnis keluarga di dalam Istana?
Rabu, 10 Juni 2026. Satu hari. Dua pernyataan dari gubernur yang sama.
Pertamax baru naik hampir Rp4.000 per liter.
Pramono Anung keluar dengan solusi:
"Dengan kenaikan BBM ini, peluang orang untuk naik transportasi umum juga makin besar."
Di hari yang sama, Pramono juga mengonfirmasi tarif Transjakarta dan Transjabodetabek akan segera disesuaikan ,dari Rp3.500 ke kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000.
Tiga sampai empat kali lipat.
Jadi jalan keluarnya dari BBM mahal adalah naik Transjakarta. Dan Transjakartanya sendiri sedang akan naik tiga kali lipat.
Pertamax naik → pindah ke Transjakarta. Transjakarta naik → pindah ke mana?
Ini bukan soal salah satu kebijakan.
Ini soal pola yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Rupiah melemah → biaya impor naik → BBM naik → biaya hidup naik → subsidi tertekan → tarif transportasi umum naik.
Setiap domino jatuh ke rakyat.
Tarif Rp3.500 itu bertahan lebih dari 20 tahun , bukan karena pemerintah lupa menaikkan, tapi karena itu satu-satunya hal yang masih bisa dijangkau jutaan orang yang tiap hari menggantungkan mobilitas hidupnya pada angkutan umum.
Alasan pemerintah menaikkannya sekarang: subsidinya terlalu besar.
Pertanyaannya bukan apakah subsidi perlu diefisiensikan.
Pertanyaannya adalah: di negara yang APBN-nya 3.800 triliun, yang program prioritasnya saja terbukti bocor di mana-mana, kenapa yang pertama dipangkas selalu yang dipakai rakyat , bukan yang dinikmati kekuasaan?
Tiga pertanyaan untuk Mendikti soal LPDP digembleng TNI:
1. Sejak kapan warga sipil yang lolos IELTS, esai, dan wawancara LPDP dianggap kurang disiplin?
Mereka bahkan menghitung sendiri pajaknya tiap tahun di SPT, sesuatu yang (mungkin) prajurit tidak diwajibkan lakukan dengan kerumitan yang sama.
2. Sejak kapan warga yang pajaknya dikorupsi bertahun-tahun tapi tetap bayar PPN setiap belanja dianggap kurang berkebangsaan?
3. Kalau tujuannya supaya awardee balik ke Indonesia, kenapa solusinya pelatihan baris-berbaris dan bukan perbaikan ekosistem riset, gaji dosen, dan kepastian karier akademik di dalam negeri?
Yang bikin doktor enggan pulang itu bukan kurang nasionalisme. Tapi karena kurang lab, kurang dana riset, dan kurang penghargaan.
Kalau pemerintah serius ingin awardee pulang dan berkontribusi, cobah perbaiki ekosistem akademik dalam negeri.
Itu jauh lebih sulit, dan jauh lebih dibutuhkan.
Menurut saya, mengirim calon master dan doktor ke barak untuk diajari “kebangsaan” itu membalik logika.
Yang lazim di banyak negara: kadet militer yang dikirim ke kampus, bukan sebaliknya.
Jangan remehkan warga sipil yang duitnya bocor terus tapi masih setia bayar pajak.
Lagian, tokoh-tokoh kebangsaan terbesar republik ini sebagian besar sipil. Hatta, Sjahrir, Sukarno muda, Kartini, Tan Malaka, Agus Salim.
Tidak satu pun dari mereka yang nasionalismenya dibentuk di barak.
Mereka jadi nasionalis karena membaca, berdebat, hidup di pengasingan, dan berhadapan dengan ketidakadilan kolonial.
Bukan karena baris-berbaris.
😬
Pak Chatib bilang: "risiko terbesar bukan pada angka, melainkan kredibilitas."
Nah ini. Tepat sekali.
Dan kredibilitas itu dibangun dari konsistensi kebijakan bukan dari program besar yang diumumkan dulu, baru diralat belakangan.
Koperasi Desa Merah Putih mungkin gak diralat?
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Purbaya : ekonomi kita baik baik saja
bank indonesia : Fundamental Ekonomi RI Kokoh, BI Yakin Rupiah Menguat
Menko Airlangga: Rupiah melemah karena gejolak global, kami pantau terus
prabowo : jalan jalan dulu ke prancis padahal baru aja dari sana
ini indeks ibarat lapor di sekolah
orang2 bisa klaim dirinya pintar matematika
jago ekonomi, jago bahasa inggris
tapi pas ujian dapat nilai di bawah kkm
ya sama aja omon omon
Selat Malaka menjadi sorotan dunia setelah pejabat Indonesia mengonfirmasi AS telah mengajukan proposal untuk mendapatkan izin militer melintasi wilayah udara Indonesia. Para pakar menilai langkah semacam itu berpotensi membawa implikasi geopolitik global. Mengapa Selat Malaka dianggap penting? https://t.co/rMt1Ixb1Ey
Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Pakistan gagal. Kedua negara yang sedang berperang itu tak mencapai kesepakatan apa pun. https://t.co/iwKF0lWbEE
After 21 hours of talks in Islamabad, US Vice President JD Vance said US-Iran negotiations ended without a deal, with key disagreements over the nuclear programme and regional issues, as Washington presented its “final offer,” which Iran did not accept.
Jangan pake AI.
AI merusak kreatifitas otak.
5 hari pake AI, 30 hari rusak otaknya ga bisa menghasilkan kreatifitas
Saya posting semua dari ide dan jari sendiri. Saya hanya pake AI untuk cek apakah foto dan video beredar pake AI atau nggak.
Orang yg pake AI, hasilnya mirip semua.
Saya ingetin, AI membunuh kreatifitas otak. AI mencegah otak berkembang.
Hotel-hotel sudah pake AI, bahkan hanya untuk nulis email, untuk jawab tamu in house ajah mereka pake AI.
Hotel luhuri, hotel mewah yg pake AI sudah pasti kehilangan mewahnya. Kita ke hotel untuk ketemu orang bukan robot.
Walaupun orang pada nyebelin, tapi masih lebih baik daripada ga ada orang dan diganti robot AI.
Sayangi circle-mu.