This is not an outdoor expedition
This is not a scene from a movie like The Hunger Games
This is real life
Flood victims in Aceh are forced to cross steep, dangerous terrain just to reach basic food aid and survive.
Their villages are completely isolated by floods and landslides
How can you expect human rights violator(s) to ever see what's currently unfolding in these three provinces from a human rights' perspective?
They lack the decency needed.
Sebuah video mengharukan yang memperlihatkan pertemuan seorang ibu dengan buah hatinya di balik jeruji tahanan, viral di media sosial.
Ibu tersebut, Tina Rambe, terlihat memeluk erat anak balitanya. Ia ditangkap karena menolak pengoperasian pabrik kelapa sawit di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, pada Senin (20/5/2024) lalu.
Kala itu, ratusan warga Kelurahan Pulopadang, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu, melakukan aksi menolak pengoperasian Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT PPSP karena lokasinya berdekatan dengan pemukiman mereka. Warga khawatir pabrik itu menyebabkan pencemaran lingkungan dan kebisingan dari mesin-mesin yang dioperasikan.
Dalam video yang viral itu, terlihat Sang Ibu (Tina Rambe) menahan tangis sambil mencium dan memeluk buah hatinya, sambil tetap berusaha menenangkannya. "Jangan sedih," ucapnya seraya menghapus air mata di pipi sang anak.
| Narasi Daily
Bagus @AlJazeera sudah sampai Aceh Tamiang
Kalau begini akan ada pressure Internasional, dan mungkin Negara Kesatuan Republik Indonesia mulai mikir bahwa sementara ini tidak sanggup menangani, bunch of amateurs
We need to remove him and his cronies from the governmental structure asap and I'm not even joking rn; lives were lost due to their greed and incompetence.
- 961 people deceased
- 293 others are missing
- 5,000 injured
- 1,057,482 people are displaced.
Satu juta. Angka itu bukan statistik. Itu adalah 1.057.482 tatapan kosong di tenda pengungsian, bau basah dari pakaian yang tak sempat diselamatkan, dan 961 kursi kosong di meja makan yang takkan pernah terisi lagi.
Kau tahu apa yang paling menjijikkan dari data 961 nyawa melayang dan hampir seribu orang hilang ini? Estimasi biaya pemulihan.
BNPB bilang, butuh Rp51,82 triliun untuk memulihkan Aceh, Sumbar, dan Sumut. Bayangkan. Kerugian yang disebabkan oleh kelalaian sistematis pembalakan liar, tata ruang abal-abal, dan penegakan hukum tumpul terhadap korporasi perusak kini harus ditanggung negara. Uang kita.
Pejabat datang, pasang wajah prihatin di depan kamera, bilang "Indonesia Mampu Atasi Musibah". Mereka memastikan APBN cukup (Kata Mensesneg 3 Des 2025). Tentu saja cukup! Anggaran untuk event pencitraan, studi banding, atau food security project yang tiba-tiba muncul, angkanya jauh lebih berani.
Lihat kontrasnya:
Biaya pemulihan: Rp51,82 Triliun.
Bantuan yang diserahkan Menag tahap awal: Rp155 Miliar (fakta, 2 Des 2025) – mayoritas dari donasi Baznas dan lembaga lain, bukan murni kucuran APBN Penuh.
Korban meninggal hampir 1.000 jiwa, tapi Pemerintah Pusat TIDAK MAU menetapkan status Bencana Nasional (fakta, dikritik ekonom karena membatasi ruang fiskal darurat - 1 Des 2025). Kenapa? Karena menetapkan Bencana Nasional berarti pejabat harus kerja, bukan pencitraan. Itu berarti membuka dompet sebesar-besarnya, bukan sekadar mengirim 3-4 pesawat Hercules berisi mi instan.
Sementara anak-anak di pengungsian merindukan satu piring nasi hangat, elite di Jakarta sibuk berdebat: Apakah lebih penting kerja lapangan atau administrasi? (fakta, alasan belum ditetapkan Bencana Nasional - 3 Des 2025).
Jutaan nyawa terancam. Ribuan hilang. Puluhan triliun rupiah ludes karena keserakahan yang dilegalkan. Dan kita, yang kehilangan saudara, hanya bisa melihat mereka beradu argumen di podium.
Kita menabur kemanusiaan, yang kita tuai hanya lip service dan angka kerugian yang membengkak.
@worksfess JANGAN BUNUH DIRI, KAK, 2026 INDONESIA TENGGELAM DAN KITA SEMUA AKAN MATI. DESEMBER JAKARTA BANJIR KARENA TAMBANG BOGOR, JANUARI JAWA PUNAH, INDONESIA TENGGELAM. BUNUH DIRI KARENA PUTUS ASA ITU DOSA, TAPI MATI KARENA BENCANA JADI TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH DI AKHIRAT. DONT DIE!
A man has spent days searching for his missing wife following the devastating floods in Sumatra, showing her photo to anyone he meets for help.
“Is she alive? I don't think she is, but I hope they find her body, even if it's just a piece of her hand.”
(https://t.co/8IZaBETOUP)
lu aje hutan di Bima ditebang tebangin gue mention mention ga direspon sama lu sama kementerian lu. Emang lu banyak omong doang. Tunggu ada korban baru turut berduka turut berduka.