Prediksi Almarhum Faisal Basri sudah 90% terjadi. Tinggal 10% lagi dan itu akan meledak dalam waktu dekat.
Bersiaplah hadapi goncangan besar. Kencangkan sabuk pengaman kalian wak !Hoax, framing, pencitraan, dan segala macam strategi kotor akan bermunculan bertubi-tubi.
Semua indikator sudah terpenuhi.
WHATT? Pakai tanggungan pribadi?
Di setiap perjalanan yang melebihi anggaran dinas?
Emang 5,3 M buat hotel di Prancis itu ditanggung sama presiden? Yakin?
Coba dong transparansinya. Biar diaudit sama-sama dengan publik.
Lagian ini ga baik karena selain ga tertib administrasi..
Ga jelas juga pertanggungjawabannya
Bisa kecampur juga mana aktivitas pribadi dan negara.
Salah-salah bisa jadi temuan BPK loh.
Kalau bener pake uang sendiri, malah jadi gak tertib administrasi. Ini mah jadi nyampur-nyampur mana agenda pribadi dan mana agenda kenegaraan. Ketika semua yang terkait kebijakan, harusnya pakai APBN supaya jelas pertanggung jawabannya.
An unbelievable season which didn’t end in the way we all dreamed of. That doesn’t change the fact we are still champions of England!
Looking forward to celebrating that with the thousands of fans tomorrow in North London!
Thank you for all the support this season ❤️
Ada momen di mana hutan Kalimantan seolah sengaja membuka rahasianya, mempertemukan seorang pemuda Kalimantan dengan sesuatu yang magis.
Kejadian di aliran Sungai Anai, Kayan Hilir, Malinau bener-bener bikin merinding sekaligus terharu. Di tengah riaknya air sungai dan sunyinya belantara, tiba-tiba muncul sosok gagah dari balik rimbunnya pohon seekor Payau (Rusa Sambar).
Bagi anak muda zaman sekarang, bisa jadi ini cuma dianggap sebagai "kebetulan yang estetik". Tapi buat kita yang darrhnya mengalir bersama tanah Kalimantan, pertemuan ini punya makna yang jauh lebih dalam. Bagi masyarakat Kalimantan, Payau bukan sekadar hewan liar.
Dia adalah simbol dari megahnya hutan pedalaman yang masih terjaga. Video ini viral di jagat maya, hewan endemik ini sudah ratusan tahun hidup berdampingan dengan kebudayaan lokal, menjadi bagian dari cerita-cerita pengantar tidur dari kakek-nenek kita tentang kekayaan bumi Borneo.
Anak muda yang beruntung di Kayan Hilir kemarin seolah mengingatkan kita semua, khususnya Gen Z dan milenial Kalimantan: Hutan kita masih hidup. Di tengah gempuran modernisasi dan berubahnya lanskap alam, rimba Malinau masih menyimpan detak jantung kehidupan yang asli. Ketemu Payau di alam liar secara langsung itu vibrasinya beda banget.
Ada rasa hormat, kagum, sekaligus pengingat bahwa kita adalah tamu, dan merekalah pemilik sah dari rumah hijau ini. Jaga hutan kita, jaga aliran sungai kita, karena di sanalah rumah bagi para "penjaga rimba" seperti Payau ini berada. Kalau rimba habis, ke mana lagi payau-payau ini harus pulang?
First the Brentford goal in 21/22 that everyone celebrated. Then this one. After that, Arteta and Jover said, “alright, bet” and adapted to what the PL had deemed was acceptable.
That should be respected, applauded, admired. Instead we’re getting shameless crying. Grow up 😂
profesi guru telah di rendahkan seolah-olah tidak harus di hargai, tak ada alasan pembenaran dari tindakan seperti ini.
Efek zonasi... dulu jalur NEM sebandel" nya murid gak pernah berani ke guru. miris mengerikan...
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)