"But I'm sure that even if we had written 1,000 messages back and forth... our hearts probably wouldn't have moved even 1 centimeter closer"
5 Centimetres per Second (2007) dir. Makoto Shinkai
Kemiskinan memang hal yang menyakitkan. Namun, pada titik tertentu, ia bisa menjadi hal yang paling indah untuk diromantisasikan.
Saya masih ingat dengan cerita-cerita kemiskinan yang indah dan sangat sentimentil. Tentang seorang anak yang girang bukan main karena akhirnya kesampaian buat menonton film di bioskop. Ia girang karena selama menonton film di bioskop, ia tak perlu menonton selingan iklan seperti yang bisa ia lihat saat menonton film di televisi.
Saya juga ingat dengan cerita seorang anak sekolah yang menabung berhari-hari demi bisa membeli Sprite karena sebelumnya, ia sama sekali belum pernah meminum minuman bersoda itu. Ketika akhirnya ia meminumnya untuk pertama kalinya, ia begitu takjub.
“Airnya kayak ada semutnya, bikin lidah gatel dan bikin hidung semriwing,” ujarnya.
Saya tentu punya kisah sendiri soal kemiskinan. Sebab, kemiskinan adalah bagian dari hidup saya. Ia nama tengah saya. Saya menghabiskan sebagian besar hidup saya bersamanya.
Kita semua pernah punya standar kekayaan konyol yang kita buat sendiri karena faktor ketidakmampuan kita.
Dulu, bagi sebagian kita, orang yang punya kulkas dan mampu menyuguhkan air putih dingin kepada tamunya sudah layak disebut kaya. Bagi sebagian kita, anak yang berangkat renang dan punya cukup uang membeli Pop Mie di kantin kolam renang sudah layak disebut kaya. Bagi sebagian kita, orang yang menyeduh susu kental manis tanpa perlu ditambahi gula sudah layak disebut kaya. Bagi sebagian kita, orang yang bisa makan buah pir sudah layak disebut kaya. Dan aneka standar konyol lainnya.
Bagi saya pribadi, standar itu hadir dalam wujud roti tawar. Dialah garis batas yang memisahkan mana orang miskin dan mana orang kaya.
Ya, saya punya banyak kenangan tentang kemiskinan dengan makanan bernama roti tawar ini.
Dulu sewaktu kecil, roti tawar menjadi makanan yang rasa-rasanya mustahil untuk saya gapai. Seingin-inginnya saya makan roti tawar, semerengek-merengeknya saya kepada orang tua untuk minta dibelikan roti tawar, ia tetap mustahil terwujud.
Harga roti tawar bagi keluarga saya terlalu mahal. Apalagi jika lengkap dengan margarin dan mesesnya.
Saking jauhnya jarak sosial saya dengan roti tawar, saat kecil, saya sampai punya standar tersendiri soal kemiskinan melalui roti tawar.
Bagi saya, orang miskin adalah mereka yang tak kuat membeli roti tawar. Keluarga saya masuk dalam golongan ini. Orang kaya biasa adalah mereka yang kuat membeli roti tawar beserta margarin dan mesesnya. Sementara orang yang kaya raya adalah mereka yang kuat membeli roti tawar versi kupas tanpa kulit, lengkap dengan margarin, meses coklat, sampai selai buahnya.
Standar yang konyol. Namun, akui saja, kita semua, manusia-manusia miskin ini, pernah menentukan standar-standar konyol seperti itu, bukan?
Waktu kemudian bergerak sesuai dengan garis edarnya.
Sekarang saya menjadi seorang penulis dengan gaji dan uang royalti yang, walau tidak bisa dianggap sangat besar, tetapi sangat cukup untuk menghidupi saya, dan orang-orang yang saya sayangi.
Saya sekarang punya kesempatan untuk membalaskan dendam kemiskinan masa kecil saya. Saya sekarang punya uang untuk membeli roti tawar tanpa kulit, lengkap dengan margarin, meses, bahkan selainya.
Malam hari, di sela-sela mengerjakan pekerjaan menulis atau menonton Netflix, saya sesekali menyempatkan diri menikmati balas dendam saya: Mengoleskan margarin ke roti tawar sampai merata, kemudian menaburkan meses dengan porsi yang kolosal, kemudian melahapnya dengan penuh nafsu selayaknya anak manusia yang dihinggapi dendam.
Jika saya masih bertahan menggunakan standar miskin-kaya masa kecil saya, maka sekarang saya adalah orang yang kaya raya.
Tiap kali saya pulang kampung ke Magelang, di pagi hari, saya selalu mendengar sirine dari gerobak penjual roti Swiss atau Sariroti yang melintas di jalan kompleks perumahan dekat tempat tinggal saya.
Saat mendengar suara sirine tersebut, perasaan saya selalu berubah sentimentil dan membuat saya terpaksa merenung sejenak.
“Itu roti yang dulu saat kecil tidak sanggup saya beli,” batin saya.
Ya Tuhan. Terima kasih atas kekayaan yang Engkau titipkan kepada saya. Maafkan jika hambamu ini masih belum bisa bersyukur sebagaimana mestinya.
Dulu Pas kecil pngen cepet2 jadi dewasa biar bisa kejar mimpi.
sampe punya catetan yg sampe skrng tertempel di pintu kamar di fajar indah.
Pas dewasa udah tau bakal kehabisan waktu buat kejar mimpi itu.
Hahahahaha
Fak.
Willem Remmelink
BABAD TANAH JAWI (THE CHRONICLE OF JAVA) - THE REVISED PROSE VERSION OF C.F. WINTER SR
Leiden: Leiden University Press, 2022
Unduh : https://t.co/8Gq6ErfLmt
#catatannusantara
Jadi ingat materinya @pandji yg bicara om nya saat tua denial dg realita.
Omnya pandji nyesel saat muda gak lakuin ini dan itu. Saat tua hanya bisa ngomel x denial. Terjebak halusinasi.
Makanya pandji bilang : saat muda, jangan pernah bunuh mimpi elo. Just dont.
@Telkomsel@myorbitid 081283722729, aktivasi 22.54 WIB
Terima kasih responsnya. Karena saya tadi sudah menghubungi customer service, apakah permintaan bantuan saya tadi tidak dilanjutkan dan harus diulang dengan chat ini?
@Telkomsel@myorbitid Bisa dipahami. Dibandingkan menunggu 4 hari tanpa internet rumah, berganti provider tentu solusi yang lebih masuk akal. Aktivitas tidak bisa distop hanya untuk menunggu paket internet datang, bukan?