- Rotasi posisi
- Ball Posession
- Regenerasi
- Kolektifitas
- High Pressing
- Mau belajar bahasa Indonesia
- Kalo lagi ga ngelatih paling ketangkep kamera lagi jogging
- Netizen ga kenal penerjemahnya
- Ga banyak babibu diluar lapangan
- Ga janji muluk muluk
- Aktif dipinggir lapangan selama pertandingan
- Ga ngambil spotlight ketum pssi diluar lapangan
JOHN HERDMAN Masterclass 🔥
🚨 BREAKING: Robert Lewandowski meninggalkan Camp Nou pada pukul 00.08 dini hari.
Lewy menghabiskan berjam-jam berjalan menyusuri setiap sudut lapangan Camp Nou bersama teman dan keluarganya. Bernyanyi, menari, mengambil ratusan foto, dan menikmati setiap momen terakhir sepenuhnya.
Ia bahkan ingin berfoto dengan SETIAP staf klub satu per satu.
Lewy benar-benar tidak ingin meninggalkan stadion. Ia tidak ingin malam itu berakhir. 💔
📰: @lluis7bou
Mari coba kita breakdown
• Jumlah SPPG saat ini ada sekitar ± 24.000
• Total per bulan: 24.000 × 1 M = Rp 24 triliun / bulan
• Total per tahun: Rp 24 T × 12 = Rp 288 triliun / tahun
Biaya Pembangunan Puskesmas
• Biaya Pembangunan Puskesmas dengan standar bangunan + alat dasar: ± Rp 5 – 10 miliar / unit
• Kalau pakai asumsi tengah: Rp 7,5 miliar/unit, maka Rp 288 triliun ÷ 7,5 miliar, maka:
Kita akan mampu membangun 38.400 Puskesmas! Wow
Tapi itukan andai, toh kita kan cuma prioritas pendukung aja 😭
@Nadyamulyadi@dosenkesmas Kalo dapurnya bagus daripada bikin video gitu mending share menu dan gizinyaa jadi bisa diliat orang-orang juga.
Apakah beneran bagus apa menurut dia doang.
When AHLI GIZI Beneran "NGULTI" Ahli Gizi SPPG Jatiasih2 yang ngitung nilai gizi "asal-asalan"
Mana penerima manfaatnya anak anak dan balita pula...
vt.suaradotahligizi
Pernyataan bahwa MBG tetap dibagikan saat libur Lebaran bahkan dimajukan tanggal 17 Maret terdengar lebih seperti kepanikan proyek daripada kepedulian program.
Libur sekolah, anaknya di rumah.
Tapi MBG tetap harus jalan.
Kenapa?
Karena kalau berhenti seminggu saja, rantai bisnisnya ikut libur.
Kalau memang tujuannya membantu gizi anak, kenapa tidak diberikan tunai saja ke orang tua?
Lebih sederhana.
Lebih fleksibel.
Lebih masuk akal.
Tapi tentu saja…
kalau tunai, terlalu banyak pihak yang kehilangan “jatah operasional”.
Jadi jangan heran kalau program ini dipaksa tetap jalan bahkan saat libur.
Karena yang takut “anak kehilangan gizi” mungkin sedikit.
Yang takut aliran uang berhenti seminggu, kemungkinan jauh lebih banyak.
Singkatnya:
Ini bukan lagi soal makan bergizi.
Tapi soal proyek yang tidak boleh berhenti, bahkan saat sekolah libur.
Sejak pandemi covid, hotel M tidak pernah menerima tamu manusia, cerita angkernya seolah menjadi rahasia umum di antara masyarakat jogja. Namun, di aplikasi booking online nama hotel M masih tertera, masih aktif dan tetap disewakan dengan harga yang sangat murah
Ini adalah keadaan Pulau Sangihe pada hari ini, pergulatan yang dimenangkan Rakyat di Mahkamah Agung pada tahun 2022 lalu sia-sia. Seharusnya, wilayah Sangihe adalah Pulau kecil yang tidak boleh ditambang tetapi Sangihe Masih terus dihajar oleh perusahaan tambang emas Dari Kanada
Indonesia ini level korupnya udah kaya narco state macam mexico atau columbia, atau kaya cerita di film india di mana pemegang powernya tuh jahat betul betul jahat dan gak bisa dilawan.
Pulau yg ditebang dan ditambang ini, bupatinya dibunuh di pesawat.
Negara terbesar keempat di dunia.
Negara paling rentan terancam bencana nomor dua di dunia.
Negara dengan gempa terbanyak 2023-2024 di dunia.
Negara dengan gunung api terbanyak ketiga di dunia.
Ini yang bodoh siapa?
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan duka cita atas banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia menilai bencana ini berkaitan dengan pemanasan global dan kerusakan lingkungan yang semakin terasa dampaknya.
Di hadapan para guru pada puncak Hari Guru Nasional 2025, Prabowo menekankan pentingnya pendidikan lingkungan sejak dini. Ia meminta agar kesadaran menjaga alam dimasukkan lebih kuat dalam silabus, termasuk mengajarkan pentingnya melindungi hutan dan sungai.
Prabowo juga menyoroti maraknya pembabatan pohon dan perusakan hutan yang bisa memicu banjir. Ia menegaskan perlunya mencegah kerusakan lingkungan agar air dapat mengalir dengan baik saat curah hujan meningkat.
Dalam pidatonya, Prabowo kembali menekankan bahwa kualitas pendidikan adalah fondasi keberhasilan bangsa. Ia menyebut pembangunan nasional akan berjalan kuat jika setiap rumah dan setiap pendidik terlibat menjaga masa depan generasi muda.
📸: Dok. YouTube Sekretariat Presiden.
Follow WhatsApp Channel kumparan untuk dapat Informasi terpercaya dikirim langsung ke WhatsApp kamu. Ketik https://t.co/LTFgN0lziY di browser kamu sekarang, agar bisa share informasi tanpa ragu.
#focus #banjirsumatera #news #vidol #prayforsumatera #sumut #sumaterautara #bencanaalam #aceh #sumbar #prabowo #info #infoterkini #berita #beritaterkini #bicarafaktalewatberita #kumparan
Pidato @prabowo soal banjir Sumatera dan pentingnya pendidikan lingkungan tampak lebih mirip didengar sebagai kemunafikan politik yang menutupi akar persoalan. Di satu sisi, ia mengucapkan duka dan menyalahkan pemanasan global serta kerusakan lingkungan, lantas mengajak guru dan murid menjaga hutan dan sungai; di sisi lain, pemerintahannya justru memperkuat model ekonomi ekstraktif lewat percepatan hilirisasi tambang, perluasan proyek energi besar (PLTA, PLTP), dan konsolidasi oligarki sumber daya di hulu DAS yang jadi ruang hidup warga di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Banjir bandang sepekan terakhir, jelas sebagai bukti krisis tata kelola—bukan sekadar cuaca—dan justru lahir dari ledakan izin tambang, kebun, dan proyek energi di kawasan penyangga dan hulu sungai, sebuah jejak kebijakan yang tidak disentuh sama sekali dalam pidato manis Prabowo.
Dengan menggiring narasi ke ranah “kesadaran individu” dan kurikulum sekolah, Prabowo menggeser tanggung jawab dari negara ke guru dan murid, seolah nasib banjir Sumatera ditentukan oleh seberapa rajin anak sekolah menanam pohon, bukan oleh pemerintah yang membagi-bagikan izin dan karpet merah investasi di hulu.
Analisis JATAM (https://t.co/1wTGomO0zc) tentang banjir Sumatera justru memperlihatkan bahwa aktor utama perusak hutan, pengubah aliran sungai, dan penghancur kawasan resapan adalah kebijakan negara yang memanjakan korporasi tambang, kebun, dan energi—kebijakan yang di era Prabowo bukan dihentikan, melainkan dipacu atas nama kedaulatan energi dan pembangunan nasional.
Dalam konteks ini, seruan “melindungi hutan dan sungai” dari mulut presiden yang mengawal ekspansi ekstraksi bukan hanya kontradiktif, tapi menjadi bentuk cuci tangan politik di atas lumpur dan puing rumah warga yang terseret banjir.