@thenextbatutah@Adriandhy Tapi premis jumbo soal si cungkring pembully yg akhirnya kerjasama dg si gendut pemimpi itu ya emang mencurigakan sejak awal hahaha
@Mawarituviolete@worksfess Jadi udah tau kan bro alasan kenapa lu masih bicara keinginan, sementara orang2 yg kata lu "aneh" udah pada sukses perusahaannya?
@fajarnugros Kalo di daerah ya karena ada aturan ini. Kalo total anggarannya dikurangi dengan yg diefisiensi, ya otomatis belanja pegawai harus diturunkan juga supaya ga lebih dari 30%
@Faraz_kepri@tirta_cipeng Tidak mau posting dengan tujuan biar dianggap sebagai "orang yg tidak riya" juga sebenernya bentuk lain dari riya itu sendiri.
@MikaelDewabrata Terakhir 20+ tahun lalu. Berhenti supaya ga perlu repot bohong dan susah-susah cari alasan dan pembenaran kalo suatu saat anak datang dan bilang "yah, aku mau ngerokok"
@_gladhys Menarik. Tapi kenapa ya kalo kita dengar ada orang indonesia lebih senang go intl karena karyanya ga diapresiasi di lokal, maka yg dianggap "salah" adl masy lokalnya. Tapi untuk case paulo coelho ini, kok seolah jd salah dia karena gagal dapat apresiasi di lokal?
@ilhampurnama887 Inilah contoh nyata islamophobia itu ada dan nyata di republik ini. Entah apa yg salah dari ortu yg kasih namanya dg bahasa arab? Toh nama adalah doa dan ortunya pasti berniat baik berharap anaknya dekat dg agamanya sendiri.
Baru ini pula tau ada spesies baru: SJW nama anak ๐ฅฑ
Pertama, perusahaan tahu persis problem mereka diboycott solusinya adalah berhenti support zionist, tapi mereka malah memilih PHK karyawan dan tetap support zionist kan? jadi jelas kan karyawan ngga pernah jadi concern mereka?
Kedua, seperti halnya "orang dalam" yang pada peristiwa perampokan bank;
"ketika yg dirampok sebesar 5M tapi yang dilaporkan 10M dan sisanya dirampok orang dalem, karena; mumpung ada yang disalahin!"
jelas konsep ini yang digunakan perusahaan untuk menjadikan aksi boikot sbg "kambing hitam" paling empuk untuk mereka bisa merampas hak karyawan lebih besar lagi dari sebelumnya, mumpung ada yang disalahin!
karena tanpa aksi boikot, memangnya perusahaan tidak pernah merampas hak karyawan sebelumnya? cuti dipersulit, lembur gak dibayar, peremajaan tenaga kerja, pengurangan insentif, bahkan sampai peniadaan THR, dll
Perampasan hak2 karyawan adalah cost yang paling gampang dan paling sering dicatut duluan untuk mempertahankan profit ketika penjualan menurun instead of mematangkan strategi, memperluas market dan menambah modal usaha
There is no humanity in business, to deal with these pengusaha2 adalah dgn menjadi saingan bisnisnya, mengalahkan offering zionist atas profit benefit whatevershit yg mereka offer with these companies,
Only monsters stand with other monsters, all we have to do is just wait until they're beating each other!
@tanyakanrl sadar ga sih yg toxic itu kalian yg hobi ngomentarin pernikahan orang lain. kalo emang pengantinnya ga senang di makeup dan dia bahagia2 aja dg itu ya trus kenapa kalian yg sibuk?? dia ngundang aja itu udah bentuk penghargaan ke kalian, heran malah dijulidin.
@WidasSatyo bukan cuma masalah kebocoran data sih, tapi kemudahan orang punya simcard itu yg patut dipertanyakan. dulu perasaan mau punya nomor, simcardnya harus registrasi KTP, KK, dll deh. sekarang kok sama aja ga ada ngaruhnya.
@AaronDVankov Kok ga nyalahin edukator2 kesehatan yg sering campaign junkfood ga bagus buat badan? Kok ga nyalahin fried chicken pinggir jalan yg makin menjamur? Padahal semua jg punya dampak ke KFC. Paling gampang emang nyalahin orang yg ga sependapat sama lu, padahal lu beli KFC jg kagak.
@dexglenniza Setuju dg ini. Harus diakui timnas2 langganan pildun itu pemainnya rata2 kumpul di big 6 liga eropa, bukan main di liga domestiknya sendiri.
Negara2 yg lebih awal kenal sepakbola aja liga kelompok usianya banyak yg gitu2 aja, kok bisa berharap indo lebih baik pembinaannya??