@fristian_h Sistem yang adil = Dunia yang sejahtera;
Sistem yang berpihak = Dunia yang timpang.
AI bisa saja mengambil alih seluruh pekerjaan manusia. Namun, masa depan kita tidak ditentukan oleh kecanggihan code-nya, melainkan oleh moral di balik sistemnya.
Who does the future serve?
Pendidik yang eksklusif itu akan membangun tembok. Sedangkan pendidik yang inklusif, ia membangun jembatan. Dan di atas jembatan itulah generasi muda akan tumbuh menjadi peneliti, inovator, dan pemimpin, yang tidak hanya diakui di negeri ini, tapi juga di kancah global.
Semenjak MBG ini bergulir, sistem kepegawaian guru makin kacau.
Pembelajaran pun terpotong akibat MBG, belum lagi kasus siswa keracunan & beban kerja guru yang makin bertambah
Kami sudah muak teman teman…..
Efisiensi ini benar-benar mendisrupsi hampir semua layanan publik.
Anggaran transfer ke daerah dipangkas. Dampaknya, Pemda punya tantangan dalam mengelola anggaran.
Tapi… menyebalkannya, program prioritas dari hasil efisiensi itu justru berujung pada korupsi.
Tahukah Kamu? Banyak Hak Kerja Kita Adalah Hasil Demo
Kamu merasa jam kerja 8 jam sehari itu biasa saja?
Atau THR (Tunjangan Hari Raya) itu sudah sewajarnya diberikan?
Faktanya, keduanya bukan pemberian cuma-cuma dari perusahaan atau pemerintah.
Jam Kerja 8 Jam Sehari✅
Merupakan hasil perjuangan buruh dunia sejak awal abad ke-20. Di Indonesia, ini diperjuangkan keras oleh serikat pekerja dan baru diatur secara resmi dalam UU Ketenagakerjaan.
Tunjangan Hari Raya (THR)✅
Juga lahir dari aksi demo buruh di era 1950-an hingga 1960-an. Awalnya tidak ada aturan, pekerja berjuang agar mendapat THR sebelum Lebaran.
Masih banyak hak lainnya yang kita nikmati sekarang juga hasil perjuangan serupa:
- Cuti tahunan
- Upah minimum provinsi
- Jaminan sosial (BPJS)
- Hak cuti melahirkan
- Pesangon
Hak-hak pekerja yang sekarang terasa “biasa” itu dulunya bukan diberikan, melainkan diperjuangkan lewat demonstrasi, mogok kerja, dan tekanan dari buruh.
Makanya, ketika ada isu ketenagakerjaan yang merugikan, demo bukan hal aneh. Itu bagian dari sejarah bagaimana hak kita bisa ada sampai hari ini.
Jadi, kira2 masih ada gak ya yg ngomong gini:
"anjirrr demo, bikin macet aja sihhh" 😌🙏
Orang masih berharap nasib diri dan keluarganya berubah dengan kuliah S1 (bukan vokasi). Tapi ketidakpastian masa depan itu ternyata meningkat berlipat-lipat.
@fasabimuhammad Yang dijual ke kita sejak kecil bukan mimpi. Tapi ketakutan.
Takut nggak masuk SMA favorit.
Takut nggak masuk PTN favorit.
Takut nggak diterima kerja di perusahaan bagus.
Sampai akhirnya banyak orang lupa kalau hidup itu seharusnya dijalani, bukan cuma dikejar.
walaupun mayoritas mereka dari kampus yg bagus, tp setidaknya aku tau kalau langkah selanjutnya belum tentu kesempatannya datang dari lingkup almamater tp langkah mereka sendiri
Ada sekolah SMA yang berhasil membuat 100% lulusannya masuk PTN!
Prestasi yang luar biasa!
Applause buat SMAN 14 Bandar Lampung. Ini membuktikan bahwa SEMUA ANAK PUNYA POTENSI. Dan semua anak bisa diarahkan asal benar benar dirangkul dan dibimbing.
Dan tentu saja ini tak lepas dari jasa kepala sekolahnya.
Respek kepada Pak Hendra.
Fun factnya ternyata Istri saya sudah ngefans dengan beliau sejak SMA.
Dulu Pak Hendra ini guru fisika dan menjadi wakil kepsek di SMAN 2 Bandar Lampung.
Pak Hendra adalah guru yang cerdas, berwawasan luas, tegas tapi tetap tenang, sangat kharismatik.
Indonesia butuh lebih banyak guru seperti ini.
Indonesia seharusnya bisa lebih mengapresiasi para pendidik bangsa dan para guru yang menjadi tonggak utama kecerdasan bangsa.
"Ketika para cendekiawan memilih diam, bangsa kehilangan kompas."
Malam ini mungkin akan tercatat sebagai salah satu momen penting dalam sejarah pendidikan Indonesia.
Di tengah kegaduhan politik, ketidakpastian ekonomi, krisis kepercayaan publik, dan berbagai persoalan kebangsaan yang semakin kompleks, sejumlah "Begawan" Pendidikan Indonesia memilih untuk tidak hanya menjadi penonton.
Mereka berkumpul. Berdiskusi. Dan memulai sesuatu yang lebih besar dari sekadar forum.
Education Leaders Forum.
Berangkat dari kegelisahan yang pernah disuarakan Bung Hatta dalam pidato legendarisnya "Tanggung Djawab Moril Kaum Inteligensia", bahwa kaum intelektual tidak boleh hanya menjadi penikmat ilmu, tetapi harus menjadi penjaga nurani bangsa.
Ketika bangsa menghadapi persimpangan sejarah, para pemimpin pendidikan tidak boleh bersembunyi di balik tembok kampus.
Sudah waktunya para akademisi kembali "turun gunung".
Bukan untuk merebut kekuasaan.
Tetapi untuk mengembalikan akal sehat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena pendidikan bukan hanya urusan sekolah dan kampus.
Pendidikan adalah urusan masa depan Indonesia.
#EducationLeadersForum #TurunGunung #PendidikanIndonesia #MohammadHatta #KaumIntelektual #KepemimpinanNasional #IndonesiaEmas2045 #HigherEducation #AkademisiUntukBangsa
@hanifproduktif@RidhaIntifadha RIP Ethical clearence. Padahal publikasi kesehatan itu yang paling ketat masalah ethics apalagi menyangkut nyawa. Kalau benar ini penelitian palsu, harus ditegur keras oleh lembaga profesi bahkan kemenkes harus turun tangan
kalo kampus2 negeri skrg ada dugaan plagiat dan alumninya penipuan konferensi, gmn kabarnya kredibilitas kaya kampusku hahahaha dari segi hasil penelitian atau kelulusannya
unsur deliknya bila disederhanakan:
dokumen palsu + dipakai untuk dapat hak (akses konferensi, grant, jabatan) + ada potensi kerugian
→ itu sudah cukup untuk kena pidana, dengan ancaman sampai 6 tahun.
Terlepas benar/tidaknya klaim “skandal” di ISPPD 2026, ini alarm keras: Pasal 31 ayat 5 UUD 1945 telah dilanggar secara TSM.
Indonesia tak punya research university sejati—kampus kita mayoritas hanya teaching university, bahkan sering jadi “SMA Jilid 2”.
Dosen diperlakukan seperti birokrat, bukan ilmuwan dengan ekosistem tenure track. Akibatnya, ilmu baru tak lahir; kita hanya mengulang pengetahuan usang dari luar negeri.
Jangan kaget jika yang tumbuh bukan budaya riset, tapi budaya gelar, sertifikat, dan pencitraan akademik.
#DaruratPendidikan #ReformasiPendidikanTinggi #ResearchUniversity #Pasal31UUD1945 #PendidikanIndonesia
9/
Kita terlalu lama membiarkan perguruan tinggi direduksi menjadi lembaga pelatihan kerja.
Padahal universitas sejati bukan sekadar mencetak tenaga kerja.
Universitas sejati mencetak pemikir, penemu, ilmuwan, inovator, negarawan, dan pencipta masa depan.