Hidup adalah perjalanan tanpa akhir, kadang kita melukai, kadang kita terlukai. Semua orang pernah salah langkah, keliru dalam mengambil keputusan, bahkan gagal dalam memahami sudut pandang orang lain. It’s okay, teruslah rendah hati, jadilah pemaaf, dan jangan pernah berhenti untuk memperbaiki diri.
Rachel Vennya said:
selalu siapin ruang kecewa untuk siapapun, because people change easily, manusia yang biasanya kamu ceritakan seluruh kisahmu itu bisa jadi manusia yang kamu gak mau kenal lagi untuk selamanya karna “people change easily."
SEPAKAATTTT
Waktu yang akan menyembuhkan.
Kuncinya, jangan berhenti. Terus bergerak maju, meskipun pelan.
Nggak apa-apa kalau hari ini belum baik-baik saja. Yang penting, kamu tetap melangkah.
Gue nemu kutipan dari novel "Adam Tanpa Hawa" karya Elkairo Izora.
Bunyinya gini:
"Aku akan berusaha menafkahimu seperti ayahmu, tapi apakah kamu bisa berusaha mencintaiku seperti ibuku?"
Gue baca itu. Dada gue sesek.
Menyala pikiranku. Ini bukan cuma kalimat indah. Ini pertanyaan yang paling jujur dari seorang laki-laki.
girls, kamu yang terlalu lama hidup di mode LAKIK alias dominan di masculine energy, I highly recommend kamu untuk konsumsi konten kakak ini deh.
sedikit cerita, aku bertahun-tahun harus hidup dengan masculine energy yang lebih dominan. sampai suatu hari aku lihat kontennya Kak Shasa Zania yang super cheerful, girly, dan somehow semua orang ikut happy kalau lihat dan ada di dekat dia.
diri aku yang lain, yang udah lama aku pendem, seolah bilang, "AKU MAU HIDUP KAYAK GINI!! INI HIDUP YANG AKU CARI."
mulailah aku kepoin.. gimana sih caranya? aku harus mulai dari mana?
sampai akhirnya ketemu konten YouTube Ferina Triananda. perlahan aku belajar banyak hal soal feminine energy dan ternyata.. aku suka banget??
gimana nggak suka 😭 belajar self-love, menerima diri, sampai punya mindset "everything comes easily to me." ternyata afirmasi dan manifestasi juga banyak dibahas dalam konteks feminine energy.
dan makin dipelajari, makin aku sadar. mungkin selama ini aku bukan nggak bisa jadi “girly”. aku cuma terlalu lama terbiasa hidup dalam mode survive, mandiri, dan harus selalu bisa handle semuanya sendiri
selamat belajar juga! 😋💗
Random thought at 3 am.
Cerai, gapapa.
Putus, gapapa.
Bilang engga, gapapa.
Mulai lagi dari nol, gapapa.
Berhenti dari sesuatu yang udah ga sehat, gapapa.
Bahkan memilih untuk tetap sendiri pun, harusnya gapapa.
Kita terlalu sering diajarkan bertahan mati-matian. Seolah-olah pergi berarti menyerah. Seolah-olah mengakhiri sesuatu berarti gagal.
Padahal keputusan yang paling berat justru sering kali adalah keputusan yang paling menyelamatkan.
Not everything is meant to last forever.
Ada hubungan yang emang harus selesai. Ada pertemanan yang cuma bertahan di satu fase kehidupan. Ada pekerjaan yang dulu diperjuangkan mati-matian, tapi akhirnya justru jadi alasan kehilangan diri sendiri. Ada tempat yang pernah terasa seperti rumah, tapi perlahan berubah jadi tempat yang paling ingin ditinggalkan.
Leaving doesn’t always mean you stopped caring. But sometimes walking away is simply the most honest way of choosing yourself.
Ga harus nunggu semuanya jadi terlalu buruk untuk punya alasan pergi. Ga harus nunggu dikhianati berkali-kali. Ga harus nunggu sampai benar-benar hancur.
Kalo sesuatu terus menerus mengambil ketenangan, harga diri, dan kebahagiaan, mungkin udah waktunya bertanya apa yang sebenarnya sedang dipertahankan.
Jangan lupa, selalu ada perbedaan besar antara memperjuangkan dan memaksakan sesuatu.
Memperjuangkan berarti masih ada ruang untuk tumbuh, memperbaiki, dan saling menjaga.
Sedangkan memaksakan berarti hanya satu orang yang terus berusaha. Sambil pelan-pelan dirinya sendiri perlahan habis.
The hardest thing isn't letting go.
It's admitting that staying is hurting you more than leaving ever could.
Yang paling menyedihkan adalah ketika udah terlalu lama bertahan sampai rasa sakit terasa normal.
Mulai terbiasa ga dihargai.
Terbiasa diabaikan.
Terbiasa meminta hal-hal sederhana yang seharusnya ga perlu diminta.
Terbiasa merasa sendirian hingga lupa bahwa dalam hubungan ga seharusnya selalu seperti perjuangan setiap hari.
Choosing to walk away doesn’t always make everything feel better right away, indeed.
Ada kehilangan. Ada sepi. Ada takut dan ragu. Ada malam-malam penuh pertanyaan tentang apakah keputusan dibuat dengan benar.
Akan ada saat-saat merindukan sesuatu yang sebenarnya dulu juga pernah sangat menyakiti.
But missing something doesn't always mean you made the wrong decision. We’re simply grieving something we once hoped would turn out beautifully.
Dan itu juga bagian dari proses melepaskan.
Jadi kalo suatu hari harus memilih antara terus bertahan atau akhirnya pergi, jangan cuma tanya udah berapa banyak yang diperjuangkan.
Tapi juga tanya, setelah semua yang terjadi, masih ada berapa banyak yang tersisa dari diri sendiri.
Because you deserve a life that doesn't require you to abandon yourself just to keep something alive.
Ga ada yang gagal hanya karena sesuatu berakhir.
Ga ada yang egois hanya karena memilih dirinya sendiri.
Some endings are not failures. Some endings are the beginning of finding yourself again.
Pergi ga selalu berarti kehilangan sesuatu, tapi kadang pergi adalah cara terakhir untuk pulang kembali pada diri sendiri 🤍
fatherless cukup berhenti di gw, dunia terlalu jahat untuk anak laki-laki yang kurang kasih sayang ayah. cukup di gw aja, anak gw nanti gaboleh ngerasain apa yang gw rasain sekarang, anak gw nnti ga boleh tumbuh dengan perasaan
“abis ini gimana ya?”,
“gw harus ke mana ya?”, atau ngerasa harus nyari jalan sendirian.
gw pengen jadi orang tua yang seru. bukan cuma jadi ayah, tapi juga jadi temen ngobrol paling asik buat anak gw. gw mau punya wawasan yang luas biar pertanyaan random mereka, seaneh apa pun itu wkwkwk, sebisa mungkin bisa gw jawab. gw juga pengen kasih dia privilege yang dulu mungkin ga gw punya: guidance, support, rasa aman, dan seseorang yang selalu bisa dia datengin ketika bingung. bukan berarti bakal gw manja atau bikin dia lemah. justru gw pengen ngajarin dia mandiri, berani ambil keputusan, berani gagal, dan bisa berdiri sendiri.
krena menurut gw, anak yang punya tempat pulang bukan berarti anak yang lemah. kdang justru dari rasa aman itulah mereka punya keberanian buat pergi jauh.
luka dari masa lalu cukup berhenti di gw. jangan diwarisin ke anak gw nanti.
MBAK, SIAPAPUN KAMU… TOLONG TANGGUNG JAWAB!! 😭🙏🏻
AKU UDAH RECOOK BERKALI-KALI GAK PERNAH BOSEN. ANAK-ANAK MAKANYA JADI LAHAP, HAPPY BANGET 🥹😍
TELUR MINGGIR DULU YAAAH...
SEKARANG WAKTUNYA UDANG MAU TAMPIL ‼️