Akibat dari hype tersebut adalah kini, yang mendapat bagian eksis di depan kamera bersama, inisial Alan Choi, sedang berusaha Akio panjat pundaknya.
โAlgo itjyo sesangen dangsin honjaga aniran geol! Jujeoanja seulpeoman hago isseul ttaega aniran geol!โ
Minaj.
Alan pun jongkok seperti berak dan mengangkat Akio seperti barbel. Ebuset, berat kali serasa bawa gas LPG. Anjay. โAneun geol uri modu ireonayo, soneul naemireoyo modu da hamkkehaeyo.โ
Setelah menyelesaikan baitnya, Akio pun dibanting. Tangannya
daripada melantun di atas panggung. Ya, kalimat selanjutnya adalah akhir yang sesuai untuk menutup bab ini. โHimangeul hyanghae ttwieo jayuropge, so Iโm running~.โ Halus suaranya mengudara, menggema ke penjuru ruang sebelum lampu meredup.
Pun, kegelapan mengulum keempat insan
@coralideas Gilirannya untuk melantun bait pamungkas seiring nada meniti naik ke puncak tangga. Lagi-lagi ia mengambil sorot lampu, lagi-lagi ia mengabaikan gitar yang seharusnya dimainkan untuk tiang mikrofon.
โIโm ready to run, run nae yeope neoreul ango! Run run neomeojyeodo start
melanjutkan, sekaligus apresiasi bisu karena telah mengemban setengah beban untuk melantun bait ini bersama. Ada makna di dalam bait lirik dan hadir yang lain. โNan dashi nopi naraolla!โ @coenquer
@coralideas Tiap patah kata yang dilantun mengikuti petikan gitar. Satu, satu, dua, duaโdari awal menapak ke atas panggung, simpul senyum tidak kunjung mengurai garis bibir.
โI run geochin baram gareugo!โ Sembari menyapu jemari pada beberapa senar, ia melirik Hyeonjun. Aba-aba untuk
panggung.
โGomin ttawin zero, jigeum baro Running again, running again~.โ Kini, ia melepas jemari dari senar dan beringsut sedikit untuk menggenggam dan menarik tiang mikrofon ke arahnya. โWhoa-aa~.โ @coenquer
gidaryeo-on sungan right now!โ lantunnya, menarik sesimpul senyum pada bibir. Tidak ada yang terasa lebih pas dari momen ini; di mana ia melantun lirik lagu pembangkit semangat bersama rekan-rekan sejawat yang kendati jarang bertukar sapa, akan tetapi selalu akrab di atas