Mahasiswa Rheza Sendy Pratama meninggal dunia setelah bentrok dengan aparat di sekitar Polda DIY, Minggu (31/08).
Saat mengambil jenazah Rheza di rumah sakit, ayah Rheza mengaku harus menandatangani surat yang menyatakan tidak akan menuntut pihak mana pun terkait kejadian ini.
Orang tua yang anaknya jadi korban kekerasan aparat, diminta tanda tangan surat pernyataan tidak melakukan otopsi dan tidak akan menuntut pihak manapun demi bisa membawa pulang jenazah anaknya dengan cepat.
Biadab.
Surat pernyataan seperti itu juga TIDAK MENGIKAT secara hukum.
🤯🤯BREAKING: temuan wartawan dibalik dalang penjarahan. 🤯🤯
Kesaksian oleh "paid actor" yg ketinggalan rombongan bernama Ahu:
-4 mobil konvoy berangkat bareng dari cimahi, terus lanjut jemput orang di bandung, bandung barat, sukabumi, cianjur sampai bogor rombongan 600 motor.
-Mampir ke tanggerang dulu, kamis nyampe senayan lemparin molotov.
-Sebelum berangkat, diperintshkan membuat dulu bom molotov. “Ada 160 botol dibuat,” isinya minyak tanah.
-Botol itu kemudian diangkut ke kendaraan minibus putih. “Macam Alphard tapi bukan, saya lupa namanya,” kayaknya hiace ya?
-Di DPR ketemu rombongan lain yang direkrut dengan cara yang sama dari daerah jawa & bekasi.
-Sebagian kelompok beraksi di DPR, rekan-rekan Ahu yang lain membakari halte-halte Transjakarta.
“Itu pakai molotov yang dibuat di kampung,”
-Sebagian dari anggota rombongan, kata dia, ditugaskan mengunggah siaran live di TikTok.
-Dapet brief penjarahan ke 4 rumah, Pimpinan rombongan memberi tahu ada empat rumah yang bakal dijarah dan lokasinya mulai dari priuk. tapi ga berangkat karena kepencar dari rombongan.
-Saat diperlihatkan video penjarahan sama wartawan Ahu mendaku mengenali sebagian penjarah. “Itu yang baju biru juga rombongan saya, Bang”
https://t.co/tKRvWuNz0M
Penjarahan yang terjadi sepertinya adalah manipulasi elit politik ke masyarakat miskin kota. Kelas menengah kemudian menuduh mereka yang "tidak makan bangku sekolahan" karena melakukan penjarahan. Padahal "tidak makan bangku sekolahan" adalah persoalan struktural.
People saying the protests in Indonesia are funded by the US or China: that’s literally the rhetoric that our government wants you to believe instead of the blatant corruption and injustice we face everyday because of their incompetence.
Semua pihak yang menuduh Aksi di Indonesia ditunggangi asing itu punya kesamaan otak; rasisme dan klasisme. Manusia Indonesia dianggap terlalu terbelakang untuk bisa protes atas kesewenangan yang kita alami.
Dan mereka menganggap di dunia ini yg penting hanya blok China vs US/EU.
Salah satu contoh betapa imajinatifnya orang Indonesia adalah ketika aksi sambil live jualan kurma. Atau di aksi lain tahu-tahu menyodorkan ular ke aparat. Aksi lain ketika kawan transpuan lenggak lenggok depan aparat saat aksi.
2025 adalah Indonesia tahan banting.
Kalau di Jakarta buruh ojol ada tewas dilindas rantis Brimob, di Papua Maikel Walerubun jadi korban penembakan aparat
Maikel juga tukang ojek, lagi cari uang buat susu anaknya. Kebetulan melintas saat aksi
Peluru aparat tembus saraf lengan kiri, usus, limpa, sampai paru-paru
Sekali lagi saya mohon dengan sangat untuk sebarkan pesan ini ke WhatsApp keluarga kalian semua: jangan turun aksi dulu, jaga tetangga kalian yang minoritas, jangan terprovokasi penjarahan maupun pembakaran fasum
Our presidents just held a press conference, and he's yapping just like he's in another world. The gap between the realities of Indonesian people and his is unmeasurable.