momen debat denny dan jubir pemerintah :
Denny: MBG 268 triliun, kroninya yang korupsi. Presiden dengar apa pura-pura?
Levenia: Dengar kok, Bang. Sekarang refocus ke daerah 3T.
Denny: Yang korupsi orang dalamnya sendiri. Kok lu jual "presiden tulus" mulu?
Levenia: Saya ke Aceh, anak-anak senang dapat MBG.
Denny: itukan pov kalian saja. Petani diperas, guru honorer digaji recehan, lu diam.
Levenia: Saya cuma nyampein POV pemerintah.
Denny: loh kok malah pemerintah, jadi disini kita bela pemerintah atau rakyat?
Jujur bingung banget
Negara mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Rupiah menguat, pasar merespons positif, koruptor mulai ditangkap, reshuffle disiapkan. Tapi masih ada yang ngotot demo 12 Juni.
Jadi sebenarnya yang dicari solusi atau memang ingin bikin gaduh?
Nah ini contoh twit buzzer ya ges, biasanya harganya 1 twit begini 3000-5000 rupiah.
Kalau ditawarin begini, jangan mau ya. Masa bayarannya kalah sama pertamax 1 liter
Fun Fact
Mau tau seberapa mengerikan pajak kendaraan di Indonesia?
🇲🇾 Malaysia
UMR = 7,4 juta
Pajak mobil Avanza = 330k/tahun
🇮🇩 Indonesia
UMR = 3,4 Juta
Pajak mobil Avanza = 4 juta/tahun
Pantas aja banyak yg udah kerja keras setiap hari, tapi tetap sulit untuk bisa hidup layak
demo tuh yah emang harus distruptif, bikin macet, ngeganggu kegiatan sehari-hari, karena tujuan demo ya biar di denger pejabat dan bikin mereka TERGANGGU untuk merubah kebijakan, kalau ada "area khusus demo" ngapain coba? teriak2 dilapangan ga didenger?
si Mama kan ada dtg waktu kamisan...
kalau tiba2 ada rekaman dengan narasi, berbeda...
ya gk usah heran... artinya kan ada sesuatu.
ada yg takut bola panas "PESTA BABI".
ada babi yang terusik "Proyeknya".
Buzzer Omon2 lagi pada kerja, sedangkan jejak digital tidak mungkin berubah. Jelas sekali ada intimidasi terhadap beliau tentang FIlm dokumentasi pesta babi
Uniknya, ayahanda Prabowo, Soemitro Djojohadikusumo pun pernah melarikan diri ke luar negeri karena menjadi buronan pemerintah Orde Lama.
Bermula dari ketidaksetujuan Soemitro terhadap kebijakan Presiden Soekarno yang dianggapnya terlalu dekat dengan kelompok kiri, ketimpangan Jawa - luar Jawa, dan buruknya pengelolaan ekonomi nasional.
Selain itu, Soemitro juga menghadapi kriminalisasi dengan tuduhan korupsi saat menggalang dana untuk PSI.
Soemitro yang muak dengan Soekarno akhirnya melarikan diri ke Sumatra dan bergabung dengan pemberontakan PRRI. Soemitro bertugas merancang kebijakan ekonomi dan mencari dana bagi PRRI dari luar negeri.
Setelah PRRI ditumpas, PSI dan Masyumi dibubarkan, tokoh-tokohnya ditangkap. Soemitro sendiri memilih tinggal berpindah-pindah di luar negeri.
Karena itulah masa kecil Prabowo Subianto pun ikut berpindah-pindah dalam pelarian. Prabowo tercatat pernah bersekolah di Malaysia, Swiss, dan Inggris.
Ketika Soekarno tumbang, Soemitro dipanggil pulang oleh Soeharto untuk menjadi arsitek ekonomi Orde Baru. Prabowo pun ikut pulang ke Indonesia dan melanjutkan pendidikan ke Akademi Militer.
Siapa sangka, puluhan tahun kemudian Prabowo harus melarikan diri juga ke luar negeri setelah jatuhnya Soeharto dari kekuasaan.
Like father, like son.
📷 Dokumentasi Pribadi / Kompas, 1963
Jeleknya reformasi 1998 itu begitu..
Dia membuang yang baik dari orde baru: Repelita, industrial policy, pertumbuhan ekonomi yang stabil, pembangunan infrastruktur masif, kepedulian dan subsidi negara ke pendidikan...
Tapi malah ga menghapus masalah sesungguhnya rezim orde baru:
- Elit yang super korup dan KKN
- Cukong-cukong yang rakus dan terbiasa melanggara hukum
- Aparatus bersenjata yang politis, korup dan tidak profesional
- Institusi hukum kuno (mayoritas warisan kolonial) yang penuh ketidakpastian, tidak memihak rakyat dan sulit ditegakkan
- Rakyat yang kurang terdidik
Walhasil, ketika demokrasi liberal dengan sistem one man-one vote, kita terapkan. Bukannya makin bagus institusi politik, malah makin hancur.
Suara2 rakyat yang kurang terdidik kini bisa diatur oleh uang dan algoritma.
Elit-elit korup makin leluasa merampas ekonoomi karena tahu rakyat ga akan menghukum mereka di pemilu.
Aparatus bersenjata makin sering masuk ke dunia sipil karena diperlukan elit2 itu untuk menjaga aset mereka.
Hukum yang tidak imparsial hasil warisan kolonial Belanda, membuat elite-elite dan aparatus itu tidak bisa dihukum kapok dan jera.
Maka makin hancurlah Indonesia.
Apa yang kita lihat sekarang ini.. adalah hasil dari kesalahan punggawa reformasi 1998 yang gagal mengatasi masalah utama orde baru..
Apa bila kita rangkum, masalahnya satu:
Kegagalan membangun institusi politik yang baru dan bersih serta lepas dari warisan orde baru (dan orde lama).
Ternyata menarik banget kalau dipikirin, knp berhenti baca buku bisa bikin kita kehilangan banyak hal ya?
Penjelasan sederhananya adalah saat kita baca buku, otak kita bener2 aktif. Kita diajak mikir, berimajinasi, dan seringkali jadi pengen ngelakuin sesuatu. Nah, pas kita berhenti, otak jadi kurang stimulasi.
Setidaknya dengan membaca akan memengaruhi:
- Intelligence: Melatih otak buat terus nyari info baru. Tanpa itu, kemampuan analisis dan berpikir kritis bisa tumpul.
- Ambition: Buku sering memotivasi kita dengan ide dan perspektif baru. Tanpa inspirasi itu, kita bisa jadi stagnan.
- Imagination: Buku ngebuka dunia baru yang bikin kita lebih kreatif. Tanpa latihan ini, imajinasi jadi kaku.
Setuju ga?
Kenapa fast learner cepat lupa?
Ternyata ini penjelasan ilmiah sederhananya
Fast learner punya kemampuan untuk menyerap informasi baru dgn cepat, yang memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan baik dalam berbagai situasi.
Tp, ada sisi lain yang perlu diperhatikan: kecenderungan untuk mudah lupa.
Knp?
Pertama, otak kita memproses informasi dalam tiga tahap: encoding, storage, dan retrieval.
Fast learner sering kali fokus pada tahap encoding, yaitu menyerap informasi baru.
Tapi, ketika informasi tsb ga diproses lebih lanjut ke tahap storage (penyimpanan), akan sulit untuk mengaksesnya kembali (retrieval).
Selain itu jg bisa disebabkan overload informasi. Fast learner sering terpapar banyak informasi dalam waktu singkat.
Ketika otak terlalu banyak menerima informasi, detail2 kecil cenderung terabaikan dan ga tersimpan dgn baik dalam memori jangka panjang.
Terus gmn caranya agar fast learner ga cepet lupa?
@iPopBase Dalam hati setiap manusia, ada dua ekor kuda yg sdg berlari. Tjinta dan bentji. Yg langkahnja paling deras adh yg ditjambuk berkali-kali ~
( Beni Satryo )
gue suka banget kalimat ini:
“Orang yang gak terbiasa komunikasi sehat, tiap masukan kerasa kayak sindiran.
Orang yang kurang tanggung jawab, tiap kritik kerasa kayak disudutkan.”
Ego itu harus dikontrol, bukan diturutin.
Karena kalau ego yang selalu pegang kendali, semua hal bakal diputer jadi soal harga diri.
Dikit-dikit ngerasa diserang, dikit-dikit pengen ngebela diri, padahal belum tentu orang lain punya niat seburuk itu.
Ego bikin kita susah denger, susah nerima, dan akhirnya susah berkembang.
Padahal gak semua masukan itu jatuhin kadang itu cara orang lain biar kita bisa jadi versi yang lebih baik.
Kalau ego terus diturutin, yang ada kita bakal stuck di situ-situ aja.
Gak belajar, gak berubah, cuma makin pinter ngehindar dan nyalahin keadaan.
dulu dosen ilmu negara gw bilang kalau tonggak suatu negara tuh ada tiga; kesejahteraan rakyat, kesetaraan pendidikan, dan keadilan penegakkan hukum.
indonesia nggak tiga2nya anjir 😭
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
program upgrading 40 kota itu cuma butuh 90-120 triliun selama 5 tahun. kota2nya dapat trans publik, jaringan air minum, vertical housing, ruang publik hijau. bakal dinikmati 120 juta orang scr langsung. kualitas hidup membaik, ekonomi tumbuh lbh merata.