Gila....
Punya anak itu tidak menyenangkan dan tidak menguntungkan?? ๐ฑ๐ฑ
Ada apa dengan kejiwaan ibu ini....
Ibu ini sudah punya anak tapi kok tega ngomong seperti itu ๐๐ฅบ
PRABOWO & KDM KALAH SAMA UAS
PIDATO INSPEKTUR UPACARA TERBAIK TAHUN INI JATUH KEPADA USTADZ ABDUL SOMAD.
PESANNYA
- JELAS
- LUGAS
- TEGAS
TIDAK PANDAI BER-TELE-TELE LANGSUNG KEINTINYA
KALO ANAK BUTUH MAKAN MAKA ***
Laiya, namanya juga ngumpul sama Habib Industri. Pasti bersinggungan dengan komoditi seperti ini.
๐
Tapi saya sempat ngobrol dengan Habib Husain soal ini dan membicarakan hal ini.
Dari penuturannya, ia pernah mengalami fase dilematis sebagai pendakwah, yaitu ketika orang-orang meminta waktunya dan menanyakanโฆ
โฆrate card.
Lucu, karena kedua hal ini memang cukup dilematis.
Di satu sisi pendakwah seperti Habib Husain dituntut agama supaya menyampaikan ajakannya dengan ikhlas. Tapi di sisi lain, dimana jalur dakwahnya memang penuh spotlight, ia dipaksa untuk berkompromi.
Kebetulan Islam punya ajaran yang cukup menenangkan, bahwa fikih membolehkan menjual buku (bukan gratis!) dengan niat menyebarkan ilmu.
Menyebarkan ilmu jelas bernilai ibadah. Tapi apakah ibadah boleh diperdagangkan dan dijual belikan seperti itu?
Nah, bagi fikih, orang yang menjual buku seperti ini dapat dua hal: laba penjualan, sekaligus pahala di mata Tuhan.
Pepatah mengatakan:
ููุฅูููู ุงูุฏููููููุง ู ูุฒูุฑูุนูุฉู ุงูุขุฎูุฑูุฉูุ ูููุง ููุชูู ูู ุงูุฏููููู ุฅููุงูู ุจูุงูุฏููููููุง
Dunia ini adalah ladanh akhirat, dan ia tidak sempurna kecuali perlu hal-hal duniawi.
Ada juga nasihat:
ููุธูุงู ู ุงูุฏููููู ูุง ููุญูุตููู ุฅููุงูู ุจูููุธูุงู ู ุงูุฏููููููุง
Sendi atau keteraturan agama itu tidak akan berhasil kecuali duniawinya sudah teratur.
๐ฌ
Aku membaca di 90 tempat di dalam Alquran bahwa Allah telah memastikan dan menjamin rezeki hamba-hambaNya. Dan aku membaca di satu tempat bahwa setan menakut-nakuti manusia akan kemiskinan (ayat 268 surah Albaqarah).
Kemudian, kita meragukan (mengabaikan) perkataan Dia Yang Maha Benar yang ada di 90 tempat, dan membenarkan (memikirkan) perkataan si pendusta yang -padahal- hanya ada di satu tempat.
Al-Hasan Al-Bashri
[Qam'ul Hirsh bi Al-Zuhdi wa Al-Qana'ah, Hal. 60]