I DID IT! Finally berhasil nemuin metode diet santai yang beneran bikin enjoy pas ngejalaninnya...
Tau-tau turun ±11 kg, agak kebablasan sedikit dari target 😂🤏
bahkan untuk ngasih tau orang NU kalo rokok itu haram, gus baha hampir di setiap kesempatan selalu mengulang-ulang cerita ini.
orang yg berakal pasti paham kalo dari kalimatnya, gus baha justru mengharamkan rokok (beliau sendiri tidak merokok, gurunya beliau juga tidak merokok)
anak kecil kalau dididik dengan proper tuh emang perwujudan malaikat di bumi, sumpah, pure hearted banget.
pernah 2x papasan sama anak-anak.
• yang pertama: waktu nanya alamat
mereka ngasihtaunya niat banget banget sampe "kak ntar kesini nih kak, ke kanan, kiri, kiri lagi, ada masjid, abcdefghhkashzjsb ⬆️⬇️➡️⤵️↘️. nah itu dah kak pokoknya. mau dianterin aja gak ka?" 🤣🤣
• yang kedua: liat mereka lagi rembukan
"ngapain dek?"
"mau ngubur kucing kak, kesian ini geletak di jalan. nih kak liat kak." (proceeds bukain kain dan plastik isi jasad kucing yang mereka bungkus) 🥹🥹
Gaurav Srivastava "menyusup" ke keluarga Prabowo Subianto dan elite di Indonesia untuk mendapatkan kontrak pertahanan.
Pura-pura menjadi agen Central Intelligence Agency (CIA).
#TempoPlus
Menenangkan diri setelah ndulang anak yang gak mau makan itu butuh waktu gak sebentar. Tau tau udah masuk jam makan selanjutnya. Lanjut ndulang lagi. Lanjut menenangkan diri lagi. Gitu aja terus tiap hari, 3x sehari.
Pas Mbak Dian Sastro nyebut channel Predictive History (Profesor Jiang) waktu podcast sama Raditya Dika, gue langsung pengen cek.
Terus gue buka cek videonya yang Game Theory #3: Rich Dad, Poor Dad.
Gila, otak gue kayak kena reboot setelah nonton. Dia breakdown pake logika Game Theory kenapa yang kaya makin tajir terus, sementara yang miskin susah banget naik kelas. Bukan cuma ngomong doang.
🗣: "Emang kenapa sih kalau perutnya buncit? Lucu gemoy tahu, bisa dicubit."
Lucu dan gemoy mungkin selera, tapi kalau melibatkan POV sains, kata lucu itu kemungkinan besar berubah.
Kok bisa? 🤔
Sebelum telat sadar, coba saya jelasin detil ya!
🔥A Thread🔥
Sejak menjadi orang tua, pada awalnya aku mikir:
Kita memang harus menghemat agar keuangan stabil in this economy.
Makanya, beberapa kali jika anak meminta sesuatu, kita ngga langsung turuti.
Feeling kita blg harus hemat.
Tapi kemudian ilmuku bertambah ketika baca buku Thrivers.
Di part kedua chapter ketiga, di sana disebutkan ttg self control.
Seorang anak yg berkembang, ia harus mampu mengontrol emosi, keinginan, dan tindakannya. Krna hal tsb berkorelasi dgn kemampuan dan ketahanannya utk sukses.
Dan ternyata, salah satu cara melatihnya adalah menunda kesenangan.
Sejak memahami ini, sudut pandangku sedikit berubah.
Ketika anakku menginginkan sesuatu tp kami ulur, (saat ini kami mengajarkannya agar banyak2 berdoa), alasannya bukan semata krna ingin berhemat.
Ada pelajaran yg ingin kami tanamkan.
Bahwa tidak semua keinginan harus langsung terpenuhi.
Saat ini kami mengajaknya utk banyak2 berdoa agar Allah mengabulkan keinginannya.
Bahwa ada proses menunggu.
Bahwa ada jeda antara meminta dan menerima.
Krna kami berharap, kelak ia tumbuh menjadi pribadi yg mampu mengontrol diri.
Harapan kami: kemampuan sederhana utk menunggu hari ini, kelak menjadi salah satu bekal terbaiknya di masa depan.
Gerakan ini adalah Radio Taiso yang merupakan senam ringan khas Jepang yang sudah ada sejak 1928. Biasanya senam ini disiarkan di radio, kalo sekarang sudah ada di Youtube dengan musik dan instruksi yang mudah diikuti. Durasinya 3-10 menit dengan gerakan sederhana, tanpa alat.
Penelitian menunjukkan bahwa rutin mengikuti gerakan Radio Taiso berasosiasi dengan peningkatan kemampuan fisik, antara lain agility dan endurance. Selain itu pada lansia bisa menurunkan risiko terjadinya demensia dan penurunan kemampuan fisik.
Gerakan ini cocok sebagai pemanasan pagi hari atau latihan ringan sehari-hari. Namun bila kalian punya cedera bahu, nyeri medis, atau kondisi medis tertentu, pastikan sudah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum memulai gerakan ini ya.
Semoga bermanfaat!
Sumber:
Osuka (2024). Effects of Radio-Taiso on Health-related Quality of Life in Older Adults With Frailty: a Randomized Controlled Trial.
Lo baru sadar HPnya ilang, langsung buka Find My Device lewat laptop.
Last seen 5 jam lalu di Stasiun Gambir. Abis itu? Udah.
Nggak gerak lagi. Langsung offline.
Si maling langsung matiin internet biar ga ke trace. Itu cara jadul.
Dulu sampe situ doang.
Sekarang? Nggak lagi.
Langsung matikan youtube. Gak mau dengerin lebih lanjut penjelasan beliau.
Mungkin sepanjang hidupnya beliau adalah orang yg beruntung dalam finansial, makanya tidak pernah ada di posisi itu.
Dan mungkin juga bukan aku segmen penikmat ceramah beliau ✌️
Pernah denger ceramah dari seorang tokoh terkemuka..
"Orang yang murtad bukan cuma yang keluar dari islam, tapi orang yang khawatir besok bisa makan atau engga, besok dapat uang cukup atau engga, itu juga termasuk murtad. Karena meragukan gusti allah."
Stop.. Cukup..
Gus Baha pernah bilang:
"Dulu waktu kecil, tenang-tenang saja tanpa mikir besok makan apa. Itu bukti bahwa rezeki sudah diatur. Sekarang saat sudah besar, malah lupa kalau masa kecilnya dicukupi Gusti Allah."
Mungkin Gus Baha lupa, bahwa tidak semua anak kecil bisa punya nasib seberuntung itu.
Kalau pun beruntung, jadi tidka mikir besok makan apa, ya, orang tua mereka yang nasibnya gak beruntung karena harus banting-tulang supaya besok ada makan.
Motivasi seperti ini baik, minimal bisa husnuzan pada Gusti Allah. Tapi ini baiknya untuk anak-anak kecil. Karena bagi orang tua pekerja kelas menengah, yang dibutuhkan adalah lapangan kerja.
Baru setelah perut mereka kenyang, dikasih motivasi untuk berzakat, infaq, sedekah, dan membantu sesama.
Hhe~
😔💔 Turut berduka cita yang sangat mendalam
Ibu Laili Fauziah kehilangan bayinya yang baru lahir caesar. Di ruang operasi, tanpa persetujuan penuh darinya, petugas dan perawat langsung memberi susu formula (sufor) dengan alasan “ASI belum keluar”.
Padahal Ibu Laili sudah mempersiapkan ASI sejak hamil 7 bulan. Setelah diberi sufor, bayinya langsung mengalami diare berat, radang usus berat (NEC), hingga akhirnya meninggal dunia.
Saat bayi kritis, ibunya bahkan tidak diperbolehkan melihat anaknya. Ketika meninggal, tidak ada kata maaf dari pihak rumah sakit — mereka langsung pergi. Sebagai ibu yang sudah siap ASI, rasa sakit dan kekecewaannya pasti tak terbayangkan.
Semoga dokter dan perawat yang abai dalam kasus ini menyadari betapa beratnya akibat dari kelalaian mereka.
Tuhan tidak pernah tidur. Hukum karma pasti berlaku, entah di dunia atau di akhirat. Semoga Allah berikan kesabaran dan kekuatan luar biasa untuk Ibu Laili dan keluarga.
Semoga sang buah hati tenang di sana, ya Allah… 🤲
Buat yang MALAS MEMBACA tapi BUKAN PARJO PARCOK. Saya bantu translasi article the Economist biar ga IKUTAN DUNGU teriak antek asing dan "semua akan hilang ketika IHSG bullish":
"Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, pernah menyaksikan negaranya hancur sebelumnya. Itu terjadi pada tahun 1998, saat krisis keuangan Asia. Kala itu, runtuhnya ekonomi memicu protes massa dan tumbangnya bapak mertua Pak Prabowo, Suharto, seorang diktator yang terkenal korup. Peristiwa itu juga melemparkan Pak Prabowo, yang sempat berharap bisa menggantikan Suharto, ke dalam pengasingan politik. Butuh waktu seperempat abad baginya untuk merangkak kembali, hingga akhirnya berhasil meraih kursi nomor satu pada tahun 2024.
Jadi, Anda mungkin berpikir dia akan sangat berhati-hati terhadap krisis fiskal lainnya: Anda salah.
Pemimpin negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia ini telah memusatkan kekuasaan dan mengelilingi dirinya dengan sekelompok penjilat. Dia mendepak menteri keuangan yang dihormati dan menggantinya dengan Purbaya Yudhi Sadewa, yang pernah menyebut IMF "bodoh" dan mengatakan kepada The Economist pada bulan April bahwa presiden tidak perlu khawatir tentang "perkembangan ekonomi global [atau] harga minyak dunia". Para pelaku bisnis di Indonesia takut untuk bersuara, mungkin karena Pak Prabowo adalah mantan jenderal antikritik dengan rekam jejak hak asasi manusia yang dipertanyakan, atau mungkin karena belakangan ini dia kerap mengintimidasi bisnis-bisnis besar.
Pak Prabowo tampaknya mengisolasi diri dari kenyataan. Jadi, dia mungkin tidak akan mendengarkan nasihat yang masuk akal. Namun, inilah beberapa masukan untuknya. Proyek-proyek kesayangannya tidak terjangkau. Sebelum perang Iran, menghabiskan proyeksi 10% dari anggaran hanya untuk dua proyek saja—makan siang gratis di sekolah dan jaringan 80.000 koperasi desa—hanya sekadar pemborosan. Sekarang, krisis energi telah menghapus semua ruang untuk melakukan kesalahan. Pak Prabowo harus mengubah arah atau menghadapi risiko krisis.
Dia harus memotong pengeluaran untuk proyek-proyek kesayangannya, atau memangkas subsidi bahan bakar fosil Indonesia yang sangat besar, atau melanggar undang-undang yang membatasi defisit anggaran sebesar 3% dari PDB. Setiap pilihan memiliki risiko. Memangkas proyek mubazirnya akan membuatnya tampak lemah. Membiarkan harga energi naik akan mengundang kerusuhan. Jadi, Pak Prabowo mungkin akan mengambil jalan ketiga: membiarkan defisit menembus batas hukumnya.
Itu akan menjadi sebuah kesalahan. Memang benar, batas 3% adalah angka sewenang-wenang yang disalin-tempel dari Perjanjian Maastricht Eropa. Namun sejak krisis 1998, angka itu telah menjadi sinyal bahwa pemerintah Indonesia serius menjaga disiplin fiskal. Sekarang para investor mulai cemas. Pembayaran bunga sebagai bagian dari pendapatan pemerintah melonjak tajam. Lembaga pemeringkat kredit sedang bersiap untuk menurunkan peringkat. Di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, modal asing senilai $6 miliar telah keluar dan rupiah telah melemah sebesar 11% terhadap dolar ke rekor terendah. Menjebol batas anggaran akan mendorong biaya pinjaman menjadi lebih tinggi.
Bahkan saat dia membuat ekonomi menjadi lebih genting, Pak Prabowo juga mengikis demokrasi Indonesia. Oposisi legislatif hampir sepenuhnya dilumpuhkan, dan proposal untuk mengakhiri pemilihan langsung gubernur provinsi bukan merupakan pertanda baik. Masyarakat sipil diintimidasi. Ruang untuk berbeda pendapat sangat sedikit, dan jika ada, minim pergulatan kreatif antar-gagasan yang saling bersaing. Terlalu banyak hal yang bergantung pada naluri seorang mantan tentara tunggal yang mendapat saran buruk.
Dia perlu mendengar kebenaran yang pahit. Ya, bahan bakar murah memang populer. Namun hal itu mendorong konsumsi di tengah situasi kelangkaan. Ya, orang-orang menyukai makan siang gratis di sekolah. Namun memberikannya kepada semua orang adalah pemborosan. Lebih bijaksana untuk fokus pada ibu hamil dan balita dari keluarga miskin, yang membutuhkan nutrisi lebih baik guna mencegah stunting (tengkes). Ya, petani Indonesia kerap diperas oleh tengkulak saat membeli pupuk. Namun ada cara yang lebih murah untuk mengatasi hal ini ketimbang membangun 80.000 koperasi desa, yang kemungkinan besar justru rentan korupsi. Dan ya, batas defisit 3% bisa saja dinaikkan suatu hari nanti. Namun pertama-tama, Pak Prabowo harus meyakinkan pasar bahwa keuangan Indonesia berada di tangan yang aman.
Persimpangan jalan baru
Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam seperempat abad terakhir. Di bawah serangkaian pemerintahan yang cukup pragmatis, pendapatan per kapita telah meningkat lebih dari dua kali lapor dan demokrasi mulai berakar. Pak Prabowo bukanlah penguasa kleptokratis seperti mendiang bapak mertuanya, tetapi dia sedang mengikis kemajuan yang telah dicapai negaranya sejak masa-masa kelam dulu.
Presiden harus berhenti mencoba membungkam oposisi di legislatif, media, dan masyarakat sipil. Perbedaan pendapat yang tidak menemukan saluran dalam politik akan tumpah ke jalanan, seperti yang terjadi dalam kerusuhan tahun lalu. Bersikeras bahwa oposisi harus "sopan" adalah resep yang suatu hari nanti justru bisa mengubahnya menjadi kekerasan.
Masih ada harapan. Pak Prabowo peduli dengan warisan kepemimpinannya. Jadi, dia perlu menyadari bahwa negara kepulauan yang sangat besar, luas, dan multi-etnis seperti Indonesia tidak bisa begitu saja diberi perintah layaknya sebuah unit tentara. Indonesia membutuhkan seorang panglima tertinggi yang mendengarkan banyak suara, bukan yang mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang hanya bisa berkata "ya""
Ini gratis ya.
Ini namanya perpustakaan digital, gue naro berbagai topik di sini.
Gue ga akan minta balasan apa-apa, kalau mau donasi, mau balas dengan berbicara baik, dan lain-lain is up to you guys.
Ambil aja semua bentuk digital dan kontributor mostly gue sendiri, sisanya donasi dengan consent.
https://t.co/gya9i44Q9j
Barusan lagi ngobrol di teras bareng Ibu.
Aku sempat nanya, kok Ibu sering banget meluk kita?
Ibu cuma senyum, lalu pelan-pelan cerita.
Katanya, tiap kali dia meluk anaknya, orang lain mungkin lihatnya Ibu yang ngasih pelukan. padahal, menurut Ibu, justru dia yg lagi dipeluk.
Ibu tuh kadang capek, katanya pelan. Tapi kalau meluk kalian, rasanya Ibu ikut tenang… kayak dipeluk balik.
Dari situ aku ngerti pelukan Ibu bukan cuma buat anaknya,
tapi juga cara Ibu buat merasa dipeluk.
Pas masih mahasiswa aku sering lihat youtube Aa andri 2 milyar untuk mengetahui seberapa jauh manusia bisa mencerna tumbuh tumbuhan sebelum timbul side effects seperti keracunan. + aku jadi tau kalau kaktus, batang pepaya, batang pisang, buah randu itu bisa dimakan