setelah baca postingan dari mas gara, gw jadi penasaran, sebenernya kecerdasan anak itu lebih banyak diturunin dari gen ibu atau ngga, ada penjelasan ilmiahnya atau ngga?
tadi gw coba baca beberapa jurnal tentang genetika dan kecerdasan.
yg gw temuin hasilnya lumayan menarik
tau gak saking so sweetnya ibunda Khadijah ke Rasulullah dan saking hebatnya beliau dlm membuat suaminya merasa nyaman, tentram, aman, dst
Rasulullah bilang apa coba?
“inni ruziqtu bihubbihaa”
Rasul gabilang “aku dikasih dia nih rezeki banget!”. tapi Rasul bilang “aku mencintainya adalah sebuah anugerah dan rezeki dari Allah untukku”
COIIII AU MANAPUN JUGA LEWAT😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
mudahkan hamba jadi istri sesolihah bunda Khadijah yaRabb🥹
ini yg selalu gue pegang.
kata nyokap “mau pake cara halal atau haram, rezeki kita hari itu udh ditentukan Allah kok. jd pilih cara yg halal aja”
minimal, darah daging kita gamakan harta haram yg bisa bikin masuk neraka🥲
harta halal emang sulit tp semoga jd wasilah kita masuk surga. aamiinn
Sebenernya beda banget antara:
curhat buat ngeluarin isi kepala dengan sehat
sama
curhat cuma buang semua emosi ke orang lain tanpa mikir (emotional dumping)
Sekilas keliatan sama.
Tapi efeknya ke mental orang lain tuh beda jauh banget.
I love that we, as hamba, can berdoa to Allah directly. No middleman. No appointment. No fee
Bayangkan, sekecil-kecil kita ini pun boleh mengadu, meminta, berharap, pada bila-bila masa. Tanpa syarat. Tanpa alat. Hanya hati yang menghadap.
Oh I love being a muslim
Be a wealthy Muslim. Retire your parents. Fund someone’s Umrah trip. Build Masajid. Sponsor orphans. Fund Dawah. Wealth isn’t evil. Wealth is what will move the ummah forward.
sebagaimana jd laki laki qowwam itu sulit, jd istri taat juga sulit.
neken ego, ngalah, jadi rumah ternyaman buat keluarga, ga banyak mempertanyakan tuh butuh effort banget ternyata. the struggle is real.
semoga Allah mudahkan
@karpathy hundreds of my students have come to me over years and complained, “I’m stressed. I’m confused. I’m exhausted.”
my answer is always the same: “That’s what learning feels like. You’re doing it right.”
A teacher at my secondary school told me something I did not understand until I was 35.
I was complaining that the work was pointless. That I would never use any of it.
She stopped me and said, "I am not teaching you maths. I am teaching you to sit with something difficult until it makes sense."
"The subject will change. The skill will not."
I thought she was just defending the curriculum.
She was not.
Every hard thing I have done since — building something from scratch, navigating a crisis, learning something I had no context for — came down to one thing.
The ability to stay in the room with difficulty instead of leaving.
You do not learn that from a subject.
You learn it from every subject you refused to give up on.
The lesson was never the content.
The lesson was the persistence.
Pernah ada di satu waktu, lagi ngobrolin anak saya, pak anies bilang “kalau bisa anak itu jangan ditanya mau jadi apa, tapi diarahkan mau berbuat apa. Karena dia bisa jadi apapun, tapi karyanya yang akan mendefinisikan dia jadi orang yang seperti apa” ini mengubah cara padang saya sebagai orang tua dan jadi manusia sih. Hehe
Kemarin kajian, ada kalimat bagus banget
"Kita gak boleh ridha dengan diri kita yg apa adanya aja,"
Alias jadi muslim emang harus luar biasa. Belajar tiap hari, menjadi lebih baik dari hari sebelumnya, punya karya juga