Dunia tidak diisi dengan dikotomi hitam putih, baik – jahat dan salah -benar. Dunia diisi dengan banyak kepala yang berpikir berbeda satu sama lain. Semuanya memiliki maksud dan tujuan tertentu, yang terkadang sama, namun berbeda dalam penyampaian dan pelaksanaannya.
Ya kalau gamau KPR nabung aja. Tapi in this economy emang bisa? Bisa tapi sulit juga kan karena pasti ada biaya tak terduga.
Kalau dikasih fasilitas ya pili atau ngga aja, membantu juga kan. Lagipula bunga diambil juga untuk gaji karyawan dan memfasilitasi layanan itu juga.
Orang² sok agamis ini gatau dari dulu gapernah paham konsep time value of money. Ngaku² syariah tapi baca akad aja gamau. Munafik memosisikan diri sebagai korban padahal dari awal gaada yg menjebak, mereka sendirilah yg dengan sadar memosisikan diri seperti itu
Lu akan kaget bahwa KPR bank syariah jauh lebih tinggi nominalnya dari konven. Kok gaada yg protes: "ini bank syariah jahat banget?" Apa karena embel² syariahnya?
Ni ya, sistem keuangan kita (yg non instrumen² spekulatif) itu sistemnya sudah baik, semmua tergantung cashflow kita. Kalo cashflow aman, ya aman, kalo engga ya engga. Jadi kalo kita merasa dirugikan, coba check, yg ga bener tu sistemnya apa cashflow mu selama ini?
*bentar jd org bener sekejap
D sinilah peran arsitek dibutuhkan, bukan sekedar membangun, tp tau apa yg dibangun, dampak dan manfaatnya buat ekosistem sekitar.
Suka sama desain yg begini, jujur aplg d negara ini, mau bikin desain ramah lingkungan kyk gini tu susah. Lawannya birokrasi dan 'keuntungan'
INI BAGUS BANGET!!!! Tapi akan lebih baik lagi kalo jalurnya dibuat lebih mudah untuk gajah dengan ramp instead of tangga 🥹. Ini ngebuktiin kalo kita bisa loh hidup berdampingan asal kitanya ngga serakah sama sesama makhluk hidup 🥹
Buat yang kaya raya.
Buat yang miskin, mau boomer, mau millenial, mau gen Z, mau gen Alpha. Tetap aja susah.
Masih aje pakai narasi adu domba generasional begini. Padahal masalah utamanya keserakahan, bukan usia.
Enggak juga nder, emang ketidak adilan bagi masyarakat untuk mendapatkan hunian yg layak & terjangkau baik secara finansial maupun jarak. Toh dari tahun ketahuan pemerintah abai dalam hal kontrol bunga pembelian, peminjaman modal & kebasahan tanah.
Bukan riba yang ngeri, tapi:
1. Kebodohan. Sebelum akad KPR, semua hitungan sudah dijembrengin. Cicilan tiap bulan itu ada porsi pokok dan bunga. Pokok utang akan selalu berkurang. Bacalah semua yang diberikan kepada kalian pada saat akan membeli rumah. Pelajari dan tanyakan agar kalian benar-benar paham.
2. Kemunafikan. Sejak awal dia sudah tau bahwa KPR itu ada bunganya, tapi tetap diambil, lalu di kemudian hari teriak-teriak "ngerinya riba"? Gimme a break.
3. Ketiadaan kemampuan berpikir. Liat point no. 1, sehingga jika pokok utang adalah 250jt, pada saat dilunasi, tidak mungkin pokoknya bertambah jadi 260 juta. Selama 4 tahun pokok utang akan terpotong sedikit demi sedikit. Berbeda dengan pembiayaan kendaraan bermotor, ketika KPR dilunasi, maka yang wajib dilunasi adalah pokok utangnya saja. Paling hanya penalti pelunasan lebih awal, itupun jika masih dalam batas waktu yang ditentukan.
4. Penyebaran kebohongan yang dilakukan oleh akun yang mengaku "dakwah." Lucu banget. Ngefitnah tapi mengaku dakwah.
Sebagai longtime fan of Monica Bellucci yg dulu nonton Malena, ini perumpamaan yg cukup akurat. Intinya selalu akan ada orang yg jauh di atas kita dlm segi apapun, termasuk dlm hal keindahan fisik. Iri boleh tp logika tetep dipake, klo orangnya ga salah apa2 knp dijahatin.
the rise of red pill content will drastically increase rape cases because it's targeting small boys who will grow up believing no woman will ever want them, so they will bulk muscles and take pussy for 'free' because they will be too broke to have the money they think women want.
That's why I don't want to claim I'm a good man. Sure, I have a bad side when somebody don't know me. And I'm not shy to show it. Even my sarcasm or being rebel mode.
Being good person is nice, but too much claiming is like a being fake.
Gue sadar satu hal yang cukup menarik.
Banyak orang mikir dirinya kurang motivasi.
Padahal sebenarnya cuma lingkungan sekitar yang bikin otak terbiasa dapet dopamine cepet: video pendek, notif, hiburan terus-terusan.
Pas ganti pake konten yang lebih berkualitas, kemampuan fokus juga pelan-pelan balik lagi.