Yang merupakan effort antara lain :
Anter-jemput
Beliin hadiah
Ngajakin jalan
Apapun yg ngeluarin tenaga , waktu dan uang
Dan effort layak dapet apresiasi.
Yang termasuk effortless :
Chatan
Telponan
Yang disebut bare minimum :
Setia
Kejujuran
Komunikasi
Gak genit ke lawan jenis lain
Kuharap gak ada campur aduk lagi atau bikin laki2 merasa serba salah 🙃
“menurut kamu, queers dan feminisme itu gimana?”
🙋”simple aja sih. kan ada hadits larangan laki laki menyerupai perempuan dan sebaliknya. jadi queers udh jelas bertentangan dengan agama”
“kalo feminisme?”
🙋”untuk apa mencatut ideologi yang asalnya bukan dari islam? toh islam udah sempurna dan jauh lebih dulu memuliakan wanita dibanding ideologi ideologi itu.
buktinya?
Rasul menikahi janda janda di saat stigma janda itu buruk
istri kesayangan Rasul adalah Aisyah, yang padahal tidak punya anak darinya
anak perempuan Rasul cintai luar biasa di saat anak perempuan dikubur hidup hidup karena dianggap aib
wanita mendapat warisan, pdhl di saat itu wanita ga berhak warisan sedikitpun
wanita diajarkan utk aktif belajar mengajar, ikut perang, ikut bermusyawarah, pdhl zaman jahiliyyah wanita gapunya hak atas itu semua
lalu kenapa ikut ideologi feminis? sedangkan feminis aja banyak menentang hal hal yg berkaitan dgn syariat. wanita didukung jd pekerja seks, istri bikin bekal suami dihujat, istri cium tangan suami dianggap relasi kuasa, zina gapapa asal consent, dll
islam sudah sempurna tanpa perlu tambahan ideologi”
ini kan yg dimaksud cowo pinter itu?🙏
Nemu bapak ini di fesnuk lagi jualan soft copy materi pembelajaran bahasa Jepang yang beliau susun. Real aseli guru bahasa Jepang, karena beliau buka les juga. Siapa tau ada yang butuh, bisa langsung kontak bapaknya atau mampir ke fesnuknya beliau
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
tanda Allah sayang kita yg kita sering ga sadar :
🔅dikasih rasa bersalah saat ngelakuin maksiat
🔅dikasih rasa gelisah kalo belom solat
🔅dikasih keinginan untuk ibadah
🔅dikasih rasa sadar diri sebagai pendosa
🔅dikasih dorongan untuk bertaubat
🔅digerakkan untuk berdoa
karena nyatanya, banyak org even muslim sekalipun yg udh ga dikasih rasa rasa ini sama sekali🥲
Tahu apa yang berhasil dihindarin karena keputusan satset kanda?
Indonesia Terhindar dari Chaos Shortage Oil Bulan Maret April kaya di Thailand dan Filipina sekarang.
akh itu cuman krna pa Prabowo aja. Engga men.
ganti ESDM sekarang sama orang akademisi. Kelar itu di rapat kajian doang.
Ganti sama Purnawirawan, gak Kelar nunggu komando yg ragu ragu, atau ngebossy ga jelas.
Ganti sama Istri pejabat ? ditnya DPR ga bsa jawab.
dikatain buzzer kanda ga apa apa dah sya ditkngkat ini.
Btw yg berbahaya dari orang2 tipe night owl tuh ini.
Andai mereka ga harus dipaksa bangun pagi krn sekolah/kerja, jd night owl tuh masih tolerable.
Tp klo udah night owl, bangun pagi, durasi tidurnya jd kepangkas dan itu yg oleh bnyk jurnal diasosiasikan dg penyakit kronis macam diabet, hipertensi, strok, serangan jantung, dll.
Biar makin paham, aku jelasin pelan2 yaa
@revol7hink @tsetchaiklatte mungkin scr hukum tidak salah sebagaimana yg telah disebutkan. tapi selain norma hukum, ada yg namanya etika, adab, kesopanan dan kepantasan. pertanyaannya apakah pantas seseorang yg katanya terdidik dan berpendidikan tinggi memiliki perangai seperti itu?
@IwanKating11677@UareDestinyy@mepetkiri@MuhammadTuhasan 330 jt itu juga belum tentu duit dia sendiri. Siapa tau itu duit punya klien dia, duit perusahaan, duit dana sumbangan yg intinya duit org lain. Mindset lu utk nolong dan ngarep imbalan tuh udah salah kocak
@rpsx30@hellowmarseu @cjo_ojc @worksfess Dulu sempet denger, yg intinya kenapa pamen disimbolin melati & pati disimbolin bintang. Krn melati ada di bumi, ckp ditanam disiram dirawat maka akan tumbuh. Sdgkan bintang tuh di langit, perlu kuasa Tuhan agar dpt ditempel di pundak. Krn sengaruh itu faktor eksternalnya