Ulama atau Kyai harusnya seperti ini, JUJUR, bukan jilat menjilat model si “Menag Kurus” itu.
Depan Prabowo dia ngomong blak-blakan, gak ada urusan dengan Buntet dan persetan protokoler basa-basi dan munafik, sorry yeee…!!
Fardhu kifayah itu artinya kewajibannya tetap dilakukan.
Bukan berarti cuek bebek. Misalnya shalat jamaah di masjid bagi laki-laki. Kalau di daerah itu laki-lakinya gak ada yang jamaah, ya semuanya kena dosa. Atau misalnya ada yang meninggal, tapi gak ada yang mau mulasara jenazah di daerah tersebut ya semua warganya kena dosa.
Makanya laki-laki yang malas jamaah di masjid itu ya berutang budi kepada laki-laki yang istikamah jamaah di masjid.
Ini Yik Amang, santri Gus Baha.
Bekerja sewajarnya saja adalah prinsip hidup yang sangat baik untuk menjaga keseimbangan antara karier dan kesehatan mental.
Bekerja secukupnya bukan berarti malas, melainkan tahu batas.
Ego yang kamu bela justru menjauhkanmu dari diri sejati
Seorang filsuf menemukan bahwa jalan menemukan diri justru dimulai saat seseorang berhenti mempertahankan dirinya sendiri.
Ada satu paradoks yang menarik soal multilateralisme.
Justru di era unipolar, pasca-runtuhnya Tembok Berlin hingga awal 2000-an, multilateralisme berjalan paling maju. Sebab ada satu kekuatan, Amerika Serikat, yang cukup dominan untuk mendikte aturan main kepada dunia.
Hari ini, dengan AS yang kian isolasionis dan perselisihannya dengan Tiongkok yang meruncing, multilateralisme justru meredup. Lembaga-lembaga globalnya kehilangan taring, karena tak lagi ditopang oleh konsensus kekuatan tunggal.
Dan konflik-konflik terakhir, Gaza, Levant, Iran, Ukraina, mengkristalkan sesuatu yang lebih dalam. Ia menegaskan lahirnya multipolaritas baru yang sangat revisionis. BRICS mengonsolidasi diri dengan agenda merombak tatanan yang selama ini dikedepankan Barat. Dan semangat itu menjalar ke kekuatan menengah lain, termasuk Turki, Meksiko, Nigeria, bahkan Indonesia, yang ingin tatanan itu lebih adil bagi Global South.
Yang tadinya cair kini mengeras. Decoupling ekonomi AS dan Tiongkok memaksa multipolaritas menjadi jauh lebih terstruktur. Terlihat jelas: siapa kawan, siapa lawan, dan siapa yang berperan sebagai swing state.
Gejolak ini juga menaikkan premi risiko global. Para pemilik modal Barat, yang mengelola likuiditas sekitar USD 140 triliun, berkepentingan menggeser modalnya keluar dari titik-titik konflik menuju kawasan yang lebih aman, seperti Asia Tenggara. Dengan satu syarat: kepastian hukum.
Dan di sinilah peluang kita. Dunia yang retak membutuhkan interlokutor yang tepercaya. Asia Tenggara punya modal untuk itu. Dalam 2.000 tahun terakhir, konflik di kawasan kita merenggut kurang dari 10 juta jiwa, jauh di bawah Eropa yang mencapai ratusan juta. Dengan bentang 5.000 km, 700 juta jiwa, dan kekuatan ekonomi kolektif nomor lima dunia, kita cukup mumpuni untuk menjadi jembatan. Antara Barat dan dunia Islam. Antara Barat dan Tiongkok.
Dunia sedang mencari penengah. Modalnya sudah ada di tangan kita. Yang belum, barangkali, hanyalah keyakinan bahwa kita memang layak duduk di meja itu.
@dinopattidjalal@fpcindo