Siang-siang yang awalnya mata ngantuk langsung menyala terang benderang.
Anak 10 tahun, demam tinggi batuk pilek sejak 3 hari, gak bisa napas lewat hidung, bisanya cuma lewat mulut, suaranya juga hilang, kalau bicara gak ada suaranya.
Ku tengok dari meja IGD, udah nampak tuh facies difteri, bullneck kiri kanan, pas dibuka mulutnya bener aja… Tonsil T4-T4, beslag (+) kiri kanan
Dalam hati menyebut nama hewan karena tau bentar lagi pasiennya bisa jatuh ke gawat napas karena obstruksi jalan napas atas dan gak mungkin pasang tracheostomy di RS mini ini 😵💫
Selagi pasien KU masih alert ya, compos mentis harus dirujuk se fast mungkin…. Untung punya ordal kakak aing yang lagi PPDS pediatri di RS Tipe A, pas stase infeksi dan jaganya PICU lagi 😮💨
@Hidupsebagai62 Jgn buru2 dilengserin, org desa harus tau klo politik mempengaruhi hidup mereka secara langsung-ga langsung. pelajaran berharga jgn dibiarkan berlalu begitu saja. Mau gamau harus peduli soal politik seblangsak apapun hidup mereka
Krisis gabakal dateng dari arah yg diantisipasi
Guys, ada satu keputusan dalam sejarah Indonesia yang sampai hari ini masih diperdebatkan dan menurut gue adalah salah satu keputusan paling berani yang pernah diambil oleh seorang presiden Indonesia.
BJ Habibie melepas Timor Timur.
Dan konsekuensi politisnya
langsung dia tanggung sendiri:
laporan pertanggungjawabannya ditolak di sidang MPR 1999.
Karirnya sebagai presiden berakhir.
Dia tidak pernah bisa maju sebagai presiden lagi.
Tapi kenapa dia melakukannya?
Pertama konteks sejarah yang sering dilupakan:
Timor Timur bukan bagian dari batas wilayah Indonesia saat kemerdekaan 1945.
Wilayah itu adalah bekas jajahan Portugal selama ratusan tahun bukan Belanda seperti wilayah Indonesia lainnya.
Setelah lama menjadi jajahan Portugal, pada 17 Juli 1976, Timor Timur baru resmi menjadi provinsi Indonesia yang ke-27 di bawah Soeharto.
Dan sejak awalPBB tidak pernah mengakui integrasi itu sebagai sah.
Tekanan internasional tidak pernah berhenti selama 23 tahun.
Dan ini alasan-alasan Habibie yang paling fundamental:
Satu — kalkulasi rasional yang dingin.
Karena analisis untung-rugi yang tidak menguntungkan, keputusan yang paling rasional adalah untuk provinsi yang bukan bagian dari batas asli sejak kemerdekaan 1945 untuk diberikan pilihan demokratis apakah mereka ingin tetap berada di Indonesia atau tidak.
Habibie adalah insinyur.
Dia berpikir dengan kalkulasi.
Dan kalkulasinya sangat jelas:
Indonesia menghabiskan dana militer yang sangat besar untuk mempertahankan wilayah yang tidak diakui PBB, yang terus-menerus menjadi sumber konflik berdarah, yang terus mencoreng nama Indonesia di mata internasional dan hasilnya tetap tidak ada perdamaian selama 23 tahun.
Dua — konteks reformasi dan demokratisasi.
Pilihan ini sejalan dengan program demokratisasi umum Habibie setelah era Presiden Soeharto.
Habibie naik ke kursi presiden di tengah tsunami reformasi.
Memberikan suara kepada rakyat Timor Timur adalah konsisten dengan semangat memberikan suara kepada seluruh rakyat Indonesia.
Tiga — tekanan internasional yang sudah tidak bisa dibendung.
Habibie meminta Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan pada 27 Januari 1999 agar PBB menyelenggarakan referendum di mana Timor Timur akan diberi pilihan antara otonomi yang lebih besar di dalam Indonesia atau kemerdekaan.
Amerika Serikat, Inggris, Australia semua sudah bergerak ke arah yang sama.
Habibie memilih untuk memimpin proses itu daripada terus melawan arus yang sudah jelas arahnya.
Dan ini yang paling mengejutkan hasilnya:
Referendum digelar 30 Agustus 1999 di bawah pengawasan UNAMET, diikuti 451.792 penduduk Timor Timur.
Hasilnya: 78,5% menolak otonomi khusus yang ditawarkan Indonesia.
Hampir delapan dari sepuluh orang Timor Timur memilih pisah dari Indonesia.
Bukan hasil yang tipis.
Bukan hasil yang bisa diperdebatkan.
Sangat telak.
Dan itu menjawab pertanyaan yang selama 23 tahun tidak pernah dijawab secara demokratis:
mayoritas rakyat Timor Timur memang tidak mau bersama Indonesia.
Dan ini yang paling pahit untuk Habibie konsekuensi politisnya:
Laporan pertanggungjawaban Habibie sebagai presiden ditolak di sidang MPR. Satu-satunya faktor adalah lepasnya Timor Timur dari Indonesia.
Tidak ada ruang dan kesempatan baginya untuk mencalonkan diri jadi presiden lagi.
Habibie berbesar hati dan menyadari kegagalannya.
Dia tidak ngotot.
Tidak berkelit.
Tidak mencari kambing hitam.
Dia mengakui konsekuensinya dan mundur dengan bermartabat.
Dan ini yang paling bijaksana dari seluruh cerita ini:
Habibie tahu keputusannya akan menjatuhkan karirnya. Dia tahu dia akan dihujat.
Dia tahu MPR akan menolak laporannya.
Tapi dia juga tahu bahwa mempertahankan Timor Timur dengan paksa tanpa legitimasi PBB, tanpa dukungan internasional, dengan korban jiwa yang terus bertambah dalah pilihan yang jauh lebih mahal bagi Indonesia dalam jangka panjang.
Mahal secara ekonomi.
Mahal secara diplomatik.
Mahal secara moral.
Dia memilih kepentingan bangsa jangka panjang di atas kepentingan politiknya sendiri jangka pendek.
Dan itu di era politisi yang berlomba-lomba mempertahankan kekuasaan dengan segala cara adalah sesuatu yang sangat langka.
Tokoh Katolik Franz Magnis Suseno mencatatnya sebagai sebuah keberanian:
setelah lebih dari 20 tahun diduduki, Habibie berani menawarkan kepada rakyat Timor Timur untuk menyatakan pendapat mereka dan Indonesia merelakan mereka mencapai kemerdekaan.
Habibie melepas Timor Timur bukan karena lemah. Bukan karena tidak cinta Indonesia.
Tapi karena dia cukup jujur untuk mengakui bahwa mempertahankan sesuatu yang tidak diakui dunia dengan biaya darah dan uang yang terus mengalir tanpa hasil bukan patriotisme.
Itu keangkuhan.
Dan dia cukup berani untuk menanggung sendiri konsekuensi dari keputusan yang benar itu kehilangan kursi presiden, kehilangan kesempatan mencalonkan diri lagi, dihujat oleh sebagian besar elite politik.
Pemimpin yang baik tidak selalu membuat keputusan yang populer.
Tapi pemimpin yang besar membuat keputusan yang benar bahkan ketika itu menghancurkan karir politiknya sendiri.
Habibie adalah contoh langka dari yang kedua.
This 2 years old singer shocked everyone 🥹❤️
I was playing piano in los angeles when Leona asked me if I could play "let it go" from frozen💠🎹
As long as I started playing she noticed and microphone above her head and the rest was history ❤️❤️🥹🥹