Indonesian salaries are so low -- even Starbucks Baristas in Singapore make more than Software Engineers in Jakarta.
That's why our top people prefer to leave.
The issue is Indo companies can't afford higher salaries, because of low profit margins.
The only solution to stop our brain drain is to make it easier for top Indos to start their own companies
Ease regulation, remove bureaucracy, and champion local founders.
Pagi ini dikantor.
Ada temen kantor bawa oleh-oleh abis liburan dan ditaro dimeja makan tiap lantai. Si Bapak H yang selantai denganku nyeletuk, “Begini doang nih oleh-olehnya?”
Temenku langsung nyamber, “Masih mending kita diinget, Pak. Ada yang ngakunya sering jalan-jalan tapi sekalipun ga pernah bawa apa-apa.”
Si Bapak seketika langsung diam.
Emang bener ya, orang yang pelit justru yang paling sering rewel menuntut standar tinggi pemberian orang lain 🙂↔️
Sekarang dia kerja di tempat baru, 5 bulan jalan.
Gaji Rp5,4 juta, lebih kecil dari yang lama.
Bedanya, di minggu kedua dia udah pernah nolak satu permintaan di luar jobdesc.
Cara nolaknya dia siapin dari awal, dan gak pakai alasan pribadi.
"Kalau yang ini saya ambil, yang A sama B mundur seminggu. Mau saya dahulukan yang mana?"
Sejak itu kerjaan tambahan yang masuk ke dia jauh berkurang.
H-1 bulan blm dapet 100jt, si cewe dan keluarganya mutusin sepihak.
30jt gak dibalikin.
Long time short, si cowo ketemu cewe baik hati solehah, trs taaruf.
Si mantan tau, ngemis2 balikan wkwk. Plan B dapetin cowo yg lbh kaya buyar, ga dapet🤣
TELAT HAHAHA
Klarifikasi dari kedutaan Iran
Baca tuh @prabowo
Jangan sampai hubungan indonesia-iran yg selama ini baik jadi tegang gara2 bacot liar wowo
@Kemlu_RI@KemensetnegRI
2 teman dekatku ada yg daftar dan lulus jadi manager KOPDES. Mereka bukan 02 voters juga, bahkan pas pemilu dulu sampai skrg (sebelum pelatihan di barak) sering share postingan dan awareness mengenai parahnya kekuasaan rezim sekarang.
Tapi apa aku menyalahkan mereka krn tiba2 daftar program itu? Pdhl kami tau, itu program bancakan dan ladang korupsi. Dari presiden yg sama sekali gak kami sukai.
Aku sama sekali gak menyalahkan mereka. Nggak tega tepatnya.
Kami lulusan salah satu PTN di Jawa, lulus tahun 2025. Freshgraduate yang hampir kadaluarsa karena dah setahun lebih. Pengangguran. Pegang beban dari keluarga dan sekitar, tiap ketemu ditanya dah kerja dimana? Yg lebih parahnya, "Masa sih lulusan PTN situ gak dapat kerja, orang yg lulus dari Univ biasa aja gampang nyari kok."
Bedanya aku dan mereka itu karena aku beruntung dapat kesempatan kerja. Sedangkan teman2ku masih struggle sama interview, dighosting perusahaan, bahkan ketolak pdhl tinggal berangkat MCU.
Alasan mereka daftar, ya mencari peruntungan. Mereka juga butuh uang buat hidup. Dan cuma manager KOPDES ini yang mau menerima mereka karena hanya lapangan kerja ini yg "diusahakan" segitunya sama pemerintah. Miris.💔
Mereka juga terpaksa daftar ini guys, kalau ada kesempatan lain pasti gak mau. Apalagi in this economy, apapun yg menghasilkan uang pasti dilakuin. Btw temenku ini gaada posting apapun kegiatannya pas di barak.
Ternyata mic-nya bisa dimatiin, warga. Dan tiba² ada iklan lewat. Jujur ini antara lucu & seram.
Nggak kebayang bagaimana operator di balik layar waktu dengerin pidatonya yang super sensitif ini.
Dia tahu nggak sih kalau mic-nya dimatiin saking plengernya tuh pidato? Salah² bisa dirudal negara lain. 😳
*Untuk tim di balik layar: KALIAN KEREN BANGET🙌🏻
- Dilarang pacaran * gw manut
- Gaboleh ngerokok *nurut
- Uang jajan 1000 perak sehari hrs ada yg disisihin *gak masalah
- Gaboleh keluar malem *siap nyonya
- Harus rangking 3 besar *Siap laksanakan titah paduka yang mulia
Skrg mau ngapa²in tkt gagal & gapunya tmpt buat cerita-
gini ya adick2
ini based on resources dan lapangan ye, ada career trifecta, yg bagi gue intinya tiga: money - skill - personal satisfaction
pls jgn terlena sama level/grade/title terus masih glorifikasi “manajer” “head” “lead” dan yang “staff” “junior” “associate” lo lepeh2in
Sedikit tips dari contoh di atas buat adik-adik yang lagi bangun career.
Yang bikin orang ini menarik bukan cuma karena dia bisa banyak tools, tapi karena skill-nya saling nyambung dan kepake buat solve real problem.
- Finance + Automation
- HR + Data
- Public Policy + GIS
- PR + Crisis Management
- Supply Chain + Data Analytics
- Legal + Data Privacy
- ESG + Finance
- Marketing + Consumer Psychology
- Operations + Process Automation
- Sales + CRM/Data Analytics
Jangan cuma nambah skill. Coba bangun kombinasi skill yang bisa saling menguatkan.
Karena selain useful buat company, kombinasi itu jg bisa jadi daya jual kalian sendiri.
- Trump discovers the influence and money that football generates and wants the World Cup rights. Infantino needs re-election first.
- UEFA turns against him.
- So Infantino hands the 2026 World Cup to UEFA in exchange for their votes.
- He also promises protection to 'Chiqui' Tapia in exchange for his silence.
- Čeferin (UEFA president) then appoints fellow Slovenian Slavko Vinčić (linked to organized prostitution, drug trafficking and illegal weapons) as referee for the final.
- Argentina didn't go out and play the final.
- Vinčić retires one week later.
- Trump nominate Gianni Infantino as the next Secretary-General of the United Nations.
- FIFA sells a percentage of the World Cup to private investors close to Donald Trump. Infantino would become a “commissioner” of that new company that would administer the World Cup.
Yeah, nothing happened in that final. Totally normal...
perbedaan cewek ama cowok ngartiin pepatah “the most important financial decision you ever make is who you marry”
buat cewek artinya: “pilihlah yang bisa menjamin masa depan kamu, memfasilitasi kamu, memanjakanmu”
buat cowok: “pilih yang ga bakal memiskinkanmu”
I highly recommend having hobbies cause it distracts you from falling in love unnecessarily, and I have an explanation. An ideal mind always mistakes loneliness with love, but busy minds have standards, because when most of your days are filled with things like lifting, creating, reading, learning things like that, you stop chasing people for excitement, because we have a really bad habit of romanticizing every bit of attention that we get. Even if it was not not directed at us with the same intensity of intention, most of the time you are simply wanting something to do.Instead of the feel that you're confusing with wanting.And I strongly believe that best relationships are built when two complete lives meet instead of two bored people who try to become each other's hobby, the interdependence in that situation would create the pressure which finally would become the reason for the eventual breakdown.
There is a Japanese Legend that says:
"Whether it's a machine, a house, or a relationship. Maintenance is always cheaper than repairing." What you don't maintain, you eventually lose.