Lo biasanya booking hotel lewat Agoda atau Traveloka?
Gue juga dulu gitu. Sampai suatu malam temen gue yang kerja di front office hotel bintang 4 di Bali ngasih satu kalimat yang langsung ngegas otak gue.
Gue tanya: “Kalau gue mau nginep di hotel lo, booking di mana yang paling murah?”
Dia jawab santai:
“Telepon langsung ke hotel. Bilang lo liat harga di Agoda Rp sekian. Minta lebih murah. Kita PASTI kasih.”
HP temen gue hilang. Besoknya syok berat, tagihan Paylater Rp12 juta dari transaksi yang gak pernah dia lakuin.
Aplikasinya dengan enteng bilang, "Pelaku masuk pakai PIN asli, berarti kelalaian user."
Temen gue sampai depresi. Gue langsung turun tangan.
3 hari kemudian, tagihan itu resmi jadi Rp0. Total biaya jadi Rp0.
Ini yang gue lakuin:
Bukan nyari HP lewat GPS. Prioritas utama adalah, amankan semua akun finansial dari perangkat lain. Login dari device cadangan, force logout semua sesi aktif. Terus telpon operator, blokir SIM card sementara. Ini krusial biar pelaku gak bisa terima OTP via SMS.
Yang paling penting dan kebanyakan orang gak tahu yaitu, minta log IP address + Device ID dari semua transaksi. Email resmi ke CS, minta data lengkap. Ini bukti kuat kalau transaksi dilakuin dari perangkat dan lokasi yang BEDA dari lo.
Buat laporan polisi (STPL). Banyak orang males ke polisi, padahal ini bukti hukum resmi bahwa lo korban, bukan pelaku yang pura-pura hilang.
Kirim surat sanggahan resmi via EMAIL, bukan chat CS biasa. Lampirkan kronologi, foto STPL, permintaan pembekuan tagihan selama investigasi. Chat CS gampang diabaikan, email formal punya kekuatan hukum.
Mereka masih nolak? Lapor OJK. https://t.co/vDQmTDwwDW atau telpon 157. OJK punya wewenang penuh buat nindak platform yang abai perlindungan konsumen. Begitu laporan OJK masuk, respons mereka biasanya berubah 180 derajat.
Alasan "PIN asli = kelalaian user" itu gak valid secara hukum. POJK 6/2022 bilang perusahaan WAJIB punya verifikasi berlapis untuk transaksi tak wajar. Kalo sistem mereka gak bedain pemilik asli vs pelaku, itu kegagalan MEREKA.
Hasilnya, hari 1 laporan polisi + sanggahan. Hari 2 eskalasi OJK. Hari 3 tagihan Rp12 juta DIHAPUS jadi Rp0.
Btw, stop nyatet PIN di Notes HP lo.
Pak, Indonesia itu butuh 9.000 ton paracetamol setiap tahun.
Sembilan ribu ton, pak.
Itu angka dari Kementerian Kesehatan.
Paracetamol yang harganya 2.000 rupiah di warung sebelah, adalah obat paling banyak dikonsumsi di negara kita.
Pusing? Paracetamol.
Demam? Paracetamol.
Pegal habis kerja? Paracetamol.
Gak enak badan tapi gak tahu kenapa? Paracetamol juga.
Dan kita gak pernah nganggep itu aneh. Sampai aku baca satu hal yang bikin aku "beneran ini?"
Ordering a Pizza for Delivery
1995
– You call
– You order in 2 minutes
– It arrives in 30 minutes
2005
– You go to the website
– You customize it
– It arrives in 45 minutes
2026
– You download the app
– You create an account with email verification
– You add your address with a PIN on the map
– The map can't find your street – You add it manually
– You select a pizza
– The ingredient you want has an extra charge
– You add a card
– Payment error
– You pay with another method – "Your order will arrive in 85 to 140 minutes"
thread update kasus FH UI:
Gambar 1: Ini adalah tampang 16 pelaku pelecehan seksual verbal dan objektifiksasi terhadap perempuan di FH UI. Ini adalah moMen ketika mereka disidang oleh forum mahasiswa dan live di tiktok.
Gambar 2: Ibu yang berpakaian batik dan dipeluk menjadi salah satu korban yang dilecehkan para pelaku di grup chatnya. Beliau adalah salah satu dosen di FH UI. Beliau saat forum bilang “pas saya lihat chatnya, saya kaget ada nama saya”.
You didn’t choose to be strong — you had to be.
Because breaking wasn’t safe.
Crying didn’t change anything.
And needing people only led to disappointment, guilt, or punishment.
Keluarganya dibakar hidup2 hanya krn ayahnya membongkar bisnis judi oknum militer
Hingga kini pelaku masih bebas dan digaji negara
Kini dia menjadi saksi mengenai perbedaan perlakuan hukum antara pelaku sipil dengan pelaku dari unsur militer
woi tadi gue liat di fyp lewat quotes "maaf ya lama, aku nyarinya sendirian, itupun ga semuanya ditabung"
HATI GUE LANGSUNG JLEB BGT DADA GUE SESEK ANJIRRRR WTHELLY 😭😭😭😭😭😭😭😭
Ini adalah keadaan Pulau Sangihe pada hari ini, pergulatan yang dimenangkan Rakyat di Mahkamah Agung pada tahun 2022 lalu sia-sia. Seharusnya, wilayah Sangihe adalah Pulau kecil yang tidak boleh ditambang tetapi Sangihe Masih terus dihajar oleh perusahaan tambang emas Dari Kanada
@mfatahilahakbar Yang di Bandung dan sedang kekurangan uang untuk makan, bisa langsung ke Kedai Lontong Medan yang ada di daerah Dipatiukur sebelahan sama Sambal Bakar Mang Ujang
In Spain, a teacher named Verónica Duque walked into her classroom one morning wearing a full-body anatomy suit — printed with muscles, organs, veins, and bones from head to toe.
At first, her students didn’t laugh.
They stared.
They leaned forward.
And suddenly, the room was silent — not from boredom, but curiosity.
For years, she had struggled with a question many teachers face:
“How do I make students truly understand instead of just memorizing?”
Textbooks weren’t enough. Diagrams weren’t enough. Attention was fading faster than the lesson.
So she tried something bold — and unforgettable.
That day, every hand went up. Students asked questions. Concepts finally made sense. And days later, they remembered everything.
No expensive technology.
No high-budget tools.
Just creativity, passion — and a teacher unafraid to step outside the ordinary.
Since then, thousands of educators around the world have called her “inspiring,” “brilliant,” and “the teacher every child deserves.”
Sometimes, learning doesn’t require the latest invention — it simply needs someone who believes teaching can be magical.
Because education isn’t just about information.
It’s about connection, curiosity, and courage.