@DukcapilKDN halo. Saya mau legalisir akta kelahiran kok gak bisa ya di tulungagung. Alasanya data tidak sesuai. Trus disarankan cek keabsahan. Sudah di cek ternyata tidak terdaftat di tulungagung. Apakah arsipnya dimakan tikus?
Mungkin unpopular Opinion:
Pernikahan itu menyeramkan bagi yang tidak bahagia.
Dan menyenangkan bagi yang bahagia.
Maka, hati2 ambil advice dari sembarang orang.
Saya sih nggak terlalu kaget soal isu sensitif istana yang lagi beredar. Yang justru bikin saya kaget adalah fakta bahwa ternyata Komdigi bisa secanggih itu.
Bisa gerak cepat. Bisa responsif. Bisa menekan platform besar. Bisa bikin akses media sekelas YouTube/Google ikut kena tindakan (walaupun masih bisa diakses lewat VPN h3h3). Bisa bikin pernyataan resmi (padahal target subyek pembahasan di video bukan Komdigi, tapi Komdigi rela nyebokin).
Bahkan bisa sigap ambil langkah hukum dan bisa bypass aturan MK soal pedoman UU ITE yang nggak bisa digugat oleh badan/instansi.
Berarti kemampuan teknisnya ada.
Dan kalau kemampuan itu memang ada, harusnya ruang digital kita bisa jauh lebih bersih dari sekarang.
Harusnya iklan penipuan nggak semudah itu lewat. Harusnya nomor pribadi masyarakat nggak seenaknya dipakai SMS promosi.
Harusnya data kita nggak gampang bocor lalu dipakai buat nawarin pinjaman, j*dol, investasi bodong, sampai lowongan kerja palsu. Harusnya platform-platform digital yang merugikan masyarakat juga bisa ditindak dengan kecepatan yang sama.
Karena ternyata masalahnya bukan karena negara ini nggak punya alat. Alatnya ada. Jalurnya ada. Kapasitasnya ada.
Cuma selama ini kita terlalu sering melihat teknologi negara bekerja cepat ketika yang terganggu adalah kekuasaan, bukan ketika yang dirugikan adalah masyarakat.
Karena ternyata tombolnya memang ada.
Cuma rakyat sering kebagian tulisan:
“mohon menunggu”.
Tapi yaa kita sama-sama paham lah ya, kenapa isu-isu krusial yang lain terkesan sulit diberantas.
Sekelas warung remang-remang saja mesti "koordinasi" dulu biar bisnisnya tetap jalan.
Paham kan ya..
cc:cakraadinegara
Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad:
“Dunia tidak lagi menerima bahwa satu bangsa mendikte nasib semua bangsa lain di seberang lautan. Sistem yang didasarkan pada dolar dan tekanan militer telah kehabisan tenaga. Jika Washington ingin menghindari kehancurannya sendiri, ia harus mempelajari kata ‘hormat.’ Kami bukan koloni—kami adalah peradaban yang berusia ribuan tahun. Setiap serangan yang mereka luncurkan terhadap tanah Iran hanya mempercepat akhir pengaruh mereka di sisi dunia ini.”
Saya mengerti bahasa Persia, spoken & written. Ini terjemahannya SALAH, captionnya juga FITNAH.
Mengingat @saudinesia ini akun Wahaboy, kesalahannya pasti disengaja.
Ada akun yang sudah menulis penjelasannya, silakan simak. Link di komen.
Who bombed Palestine?
- Israel
Who bombed Syria?
- Israel
Who bombed Lebanon?
- Israel
Who bombed Yemen?
- Israel
Who bombed Iraq?
- Israel
Who bombed Qatar?
- Israel
Who is Bombing Iran?
- Israel
Who is terrorist?
- Iran 🤡
Masih berharap wafatnya Ayatollah Ali Khamenei ini sebagai strategi Iran.
Tapi andai berita itu benar bahwa beliau telah wafat, dunia telah kehilangan salah satu sosok pemimpin besar yang dengan segala keterbatasannya berani berdiri tegak untuk menjaga kehormatan bangsa dan negaranya.
Meski sendiri, berani melawan Zionis Israel dan begajulnya Amerika.
Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu.
Selamat jalan, Ali Khamenei.
10 Ramadan Hari Wafatnya Sayyidah Khadijah
Khadijah: Cinta yang Membumi, Ridha yang Melangit
Pernahkah Anda membayangkan sebuah amal manusia yang begitu tulus, hingga Allah SWT tidak lagi menyebutnya sebagai amal hamba-Nya, melainkan menyebutnya sebagai perbuatan-Nya sendiri?
Kita sering membaca ayat 'Wawajadaka 'ailan fa aghna', tapi jarang kita menyadari bahwa sosok 'kekayaan' yang dikirimkan Allah untuk mencukupi Rasulullah adalah pengorbanan mutlak dari seorang Sayyidah Khadijah sa.
Ada kalanya, seseorang melakukan sebuah kebajikan yang tidak hanya diterima dan diberi pahala oleh Allah, tetapi saking mulianya, Allah menyandarkan perbuatan itu kepada Diri-Nya sendiri.
Kisah Sayyidah Khadijah sa. adalah bukti nyata akan hal ini. Allah SWT tidak sekadar menerima pengorbanannya dan memberinya balasan, tetapi Dia menyatakan bahwa perbuatan Khadijah adalah perbuatan-Nya.
Dalam Surah Ad-Duha, Allah SWT berfirman kepada Rasulullah SAW:
وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ ٨
"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang faqir, lalu Dia memberimu kecukupan."
Padahal, kita tahu bahwa kecukupan dan kekayaan Nabi berasal dari "harta halal milik Sayyidah Khadijah sa."
Namun, Zat Yang Maha Suci menerima harta yang diinfakkan oleh wanita suci ini di jalan Islam, lalu menyandarkannya kepada Diri-Nya.
Seolah Allah ingin menegaskan: Harta Khadijah adalah harta Allah, dan perjuangan Khadijah adalah wujud cinta yang paling diterima di sisi-Nya.
Belajarlah dari kisa Ummul Mukminin Sayyidah Khadijah sa, bahwa harta yang paling bernilai bukanlah yang kita simpan, melainkan yang kita lepaskan demi keteguhan iman—hingga Allah sendiri yang menyebutnya sebagai milik-Nya.