KCI gercep juga ye benerin KRLnya, waktu itu TM6030 lampu dan kaca depan pecah langsung ketok magic dinas lagi, sekarang gue naik 205-16 yang beberapa hari lalu leveling suspensinya lepas di Pancasila..
@acidicfacewash Justru horor, dalam tradisinya, adalah genre film yang paling mudah untuk kita kritik. Banyak subjek perempuan dalam film horor yang menjadi dasar pembentukan form-images filmnya. Kamera mengarahkan kita ke tubuh yang menjadi situs kekerasan dan arah spectatorship dari gaze kita
Menyayangkan orang-orang yang justru mencemooh Runi ketika dia memberikan pembacaan yang melawan arus dominan. Meskipun aku tidak sepenuhnya selaras dengan ulasan Runi, aku sangat bisa memahami posisinya, dan teringat dengan keresahanku dengan film horor lain yaitu The Substance
OBSESSION seperti berusaha mengemis iba untuk laki-laki incel, dan juga mimpi basah laki-laki. Navarrette's exceptional performance couldn't even save this lame film. Film sama sekali gak menunjukkan keberpihakannya pada seseorang yang hak otonominya dirampas gitu aja sama orang yang super duper cupu dan gak berani bertanggungjawab itu. Pun, setelah banyak kejadian aneh—terutama satu kejadian yang menyedihkan itu—Bear ngga diberikan sedikitpun rasa bersalah atas apa yang ia lakukan pada Nikki, bahkan sampai akhir filmnya. Bear hanya merasa bersalah dan sengsara ketika kenyamanannya diusik, bukan karena ia sadar ia telah menyengsarakan orang lain.
Film juga ngga mempertanyakan kewarasan Bear di setiap kejadian anehnya, ia justru mempertanyakan Nikki—Barker menciptakan karakter teman-temannya yang melihat Nikki sebagai "si cegil" dan menempatkanya sebagai sumber masalah, hingga (sebagian) penonton pun dibuat berpikir demikian. Sampai akhir pun, Nikki tetaplah "the freaky Nikki" tanpa agensi atau victory apapun, very unfortunate karena she was a lovely person in the beginning. Yhaa tapi kalau kita hidup di tengah lingkungan yang apa-apa menyalahkan perempuan—termasuk penggunaan kata "cegil" yang ditujukan kepada perempuan yang "menggila" akibat tindakan laki-laki—susah juga...
@acidicfacewash Perlu diingat bahwa kritikku = kritik formalis yang menyasar implikasi ideologis dari pilihan formal sebuah film, terlepas genre apapun itu. Menurutku, perbandingan Ghostface atau Valak juga kurang ekuivalen, sebab keduanya tidak memakai pengalaman perempuan sbg operasi horornya.
@videhrickho lingers on these women end up reproducing the same representational logic they're trying to critique. So it's less a question of what the film is saying, and more of how it says it. If you're interested, these four formalist reviews its worth reading https://t.co/zjMCpmbpd9
@formersnoogli1 Sayangnya engga huhu, karena pas itu baca di web berbahasa Perancis wkwk. Tapi, kalau mau baca kritik yang berbagi sentimen serupa, ada beberapa di letterboxd yang sangat insightful
https://t.co/Lp870ybehH
https://t.co/fSqDmSuiqy
https://t.co/TRDeTxI5v5
https://t.co/x8Jvz0NmYd
@videhrickho Very good writing! I actually don't disagree with your reading. I fully understand why Nikki's lack of POV and the extremity of Elisabeth's suffering serve the narrative. But i'm leaning into formalist critique, asking whether the film's formal choices—how it frames, stages, and-
@vndxtrs Aku cuma ingin bilang kalau perspektif seperti yang Runi keluhkan soal keberpihakan juga sudah banyak beredar di dunia kritik film, terutama untuk film-film yang sama-sama menjadikan tubuh perempuan sebagai situs horor sekalipun keduanya sedang mendekonstruksi isu tertentu
Mereka gak tahu aja opini persis seperti Runi banyak keluar dari french critics ketika The Substance premiere di Cannes. Both adalah film yang melitimasi adanya konfrontasi terhadap implikasi yang lebih serius, baik itu ageism atau incel-misoginisme, sementara karakter perempuan-
A lot of u people are condescending fucks. Dari nuduh Runi pakai AI sampe nyuruh nonton film bagus. Seolah2 kontradiksi sama dgn ketidaktahuan. Pdhl kritik Runi udh cukup elaborate dan coherent. Sayang aja ketemunya sama yg ga ngerti cara ngerespon perbedaan pendapat dgn normal.
Ini yang degrading ulasan Runi segitunya, yang nyuruh dia nonton film bagus, penasaran emang pada baca dan nontonnya apa sih? Gue sih ngamuk ya digituin, kecuali elu pada emang pembaca freezed-imagenya Daney, menamatkan Rivette, dan menganalisis film Straub-Huillet (nantangin)
@formersnoogli1 Sayangnya engga huhu, karena pas itu baca di web berbahasa Perancis wkwk. Tapi, kalau mau baca kritik yang berbagi sentimen serupa, ada beberapa di letterboxd yang sangat insightful
https://t.co/Lp870ybehH
https://t.co/fSqDmSuiqy
https://t.co/TRDeTxI5v5
https://t.co/x8Jvz0NmYd
Its still a decent film for me, apalagi horornya sangat efektif, tapi pertanyaan kritis soal bagaimana filmnya mengonstruksi perempuan menurutku juga harus dipertanyakan. Tradisi kritik film feminis justru menuntut adanya kritik ideologis dan melebar seperti yang diajukan Runi
A lot of u people are condescending fucks. Dari nuduh Runi pakai AI sampe nyuruh nonton film bagus. Seolah2 kontradiksi sama dgn ketidaktahuan. Pdhl kritik Runi udh cukup elaborate dan coherent. Sayang aja ketemunya sama yg ga ngerti cara ngerespon perbedaan pendapat dgn normal.
nya dibingkai dalam images yang lowkey eksploitatif, karena gak henti-hentinya dijadikan bahan stimulus reaksi penonton. Mau itu untuk ketawa-ketawa ataupun takut sekalipun. Gak ada tuh yang kontra sampe segininya 😅 Emang dasar orang-orang gak mampu aja berdialog soal film
apapun intensi pembuat filmnya, ketika dia ga ngasi ruang sama sekali terhadap “korban” di film, ketika karyanya keluar dan dikonsumsi khalayak umum yg memang didominasi misognis, ya yg terjadi akhirnya diskursus film ini yg bertebaran skrg
Kedua film ini adalah ageism-beauty standard dengan incel-misoginisme, sementara sebaliknya terlalu menjadikan perempuan sebagai pusat images yang merangsang stimulus-stimulus penonton, terutama dengan penderitaan serta violence&Gore yang gak ada habisnya.
Ini padahal ulasan yang menurutku sudah elaboratif dan valid. Penilaian ini persis dikeluhkan juga oleh banyak film critic perempuan saat The Substance premiere di Cannes lalu: ketika sebuah film melimitasi konfrontasinya terhadap subteks yang lebih problematis, dalam kasus-cont
OBSESSION seperti berusaha mengemis iba untuk laki-laki incel, dan juga mimpi basah laki-laki. Navarrette's exceptional performance couldn't even save this lame film. Film sama sekali gak menunjukkan keberpihakannya pada seseorang yang hak otonominya dirampas gitu aja sama orang yang super duper cupu dan gak berani bertanggungjawab itu. Pun, setelah banyak kejadian aneh—terutama satu kejadian yang menyedihkan itu—Bear ngga diberikan sedikitpun rasa bersalah atas apa yang ia lakukan pada Nikki, bahkan sampai akhir filmnya. Bear hanya merasa bersalah dan sengsara ketika kenyamanannya diusik, bukan karena ia sadar ia telah menyengsarakan orang lain.
Film juga ngga mempertanyakan kewarasan Bear di setiap kejadian anehnya, ia justru mempertanyakan Nikki—Barker menciptakan karakter teman-temannya yang melihat Nikki sebagai "si cegil" dan menempatkanya sebagai sumber masalah, hingga (sebagian) penonton pun dibuat berpikir demikian. Sampai akhir pun, Nikki tetaplah "the freaky Nikki" tanpa agensi atau victory apapun, very unfortunate karena she was a lovely person in the beginning. Yhaa tapi kalau kita hidup di tengah lingkungan yang apa-apa menyalahkan perempuan—termasuk penggunaan kata "cegil" yang ditujukan kepada perempuan yang "menggila" akibat tindakan laki-laki—susah juga...