Извини Ли Хисын, но я больше не верю, что это песня о твоей настоящей семье и тоске по настоящему родительскому дому. 💔
(Разбор лирики Going Home)
«Я не знаю, за чем гонюсь»
После ухода он начинает новый путь, но сам ещё не знает, куда этот путь его приведёт
«Почему из-за любви мне снова приходится страдать»
Если читать love шире, это может быть не только романтическая любовь.
Это может быть любовь к тому, что пришлось оставить — к людям, к прошлой жизни, к группе.
«Из смутных воспоминаний я снова вызываю тебя»
Вот здесь уже можно представить ENHYPEN как это «тебя».
Он физически ушёл, но воспоминания продолжают возвращать его туда.
И особенно:
«Каждую ночь я пытаюсь уйти и забыть ещё больше
Но почему это продолжается снова и снова?»
То есть он пытается двигаться дальше, но прошлое не отпускает.
«В незнакомом сне — оставленный один микрофон / И я один на сцене»
Вот это после ухода становится очень символичным.
Раньше сцена ассоциировалась с ENHYPEN и шестью другими людьми рядом.
А теперь он видит себя одного.
Тот же микрофон.
Та же сцена.
Но уже другая жизнь.
И сразу после этого:
«Иду один, но теперь
Все идут прямо за мной»
Это можно прочитать как начало сольного пути: теперь он идёт самостоятельно, и люди уже следуют за ним как за EVAN.
Но при этом внутри песни всё равно остаётся HOME.
И вот здесь появляется самое интересное — «ты»
«Так что подожди, пока я не стану
Тем, кто не оставит тебя в покое»
Если «ты» — ENHYPEN, то эта строчка может звучать почти как обещание:
«Подожди. Я ещё не тот, кем должен стать.
Но однажды я вернусь к тебе уже другим человеком».
И именно поэтому:
«Почти возвращаюсь домой»
может быть не про физическое возвращение домой к семье.
Это может быть намёк на возвращение к ENHYPEN после того, как он сначала должен пройти свой собственный путь.
Причём слово «почти» здесь становится ещё важнее.
Он не говорит:
«Я возвращаюсь домой».
Он говорит:
«Я почти возвращаюсь».
То есть сначала должен произойти какой-то внутренний переход.
HOME в таком прочтении — ENHYPEN.
И мне особенно нравится, что это не выглядит как «я хочу просто вернуться в прошлое».
Наоборот.
Он сначала должен стать EVAN, пройти свой путь, обрести себя — и только потом вернуться к тому месту, которое всё ещё ощущается домом.
Поэтому последняя строчка тогда звучит почти как:
«Я ещё не вернулся.
Но мне есть куда вернуться». ❤️🩹
Ternyata banyak yang tertarik dengan buku cerita anak tema bencana. Saya ada beberapa buku lagi yang bisa diakses gratis.
Sebentar tak buatkan utas dulu, ya. Kebanyakan sudah tak unduh, buat menyelamatkan data. Jaga-jaga kalau akses webnya ilang.
Cara paling mudah melihat militerisme di era Prabowo bukan dengan menghitung berapa jenderal yang masuk kabinet atau berapa batalyon baru yang dibentuk. Itu hanya permukaan institusional.
Yang lebih menyingkap adalah kemunculan kembali sosok seperti Hercules Rosario Marshall di ruang publik Jakarta pada malam 27 Agustus 2026.
Hercules bukan sekadar “preman Tanah Abang”. Ia adalah artefak hidup dari operasi militer Indonesia di Timor Timur tahun 1980-an.
Sebagai TBO Kopassus, ia menjadi bagian dari jaringan kekerasan informal yang dibangun militer untuk mengendalikan wilayah pendudukan.
Hubungan personalnya dengan Prabowo terbentuk di situ: hubungan hierarkis antara perwira dan anak buah lokal yang kemudian diangkat ke Jakarta.
Ketika Hercules mendirikan GRIB Jaya pada 2011 dan menempatkan Prabowo di dewan pembina, yang terjadi bukan sekadar aliansi politik elektoral. Itu adalah reproduksi jaringan kekerasan yang sudah ada sejak masa pendudukan.
Yang menarik dari insiden Agustus 2026 adalah bahasa yang dipakai sendiri oleh sekretaris jenderal GRIB Jaya: mereka bertindak sebagai “Pam Swakarsa”. Istilah Orde Baru itu tidak muncul secara tidak sengaja.
Pam Swakarsa adalah mekanisme negara untuk men-outsource kekerasan kepada kelompok sipil bersenjata agar negara tidak terlihat langsung menekan demonstran.
Ketika kelompok yang dipimpin figur dengan latar belakang TBO muncul di jalanan dengan palang kayu dan ikat kepala putih untuk membubarkan massa, yang kita saksikan adalah kelanjutan logika yang sama: negara tidak lagi memonopoli kekerasan secara formal, melainkan mengelola jaringan kekerasan informal yang loyal secara personal kepada figur penguasa.
Ini bukan militerisme dalam arti dwifungsi klasik.
Militerisme di sini lebih berupa paradigma: setiap persoalan politik dan sosial dibaca sebagai ancaman keamanan yang memerlukan pendekatan koersif, baik oleh TNI maupun oleh “masyarakat” yang sudah dimiliterisasi.
GRIB Jaya dan Hercules berfungsi sebagai proxy yang memungkinkan kekuasaan menggunakan kekerasan tanpa harus mengeluarkan perintah resmi.
Ini yang oleh sebagian pengamat disebut informal coercive networks, sebuah jaringan paksaan informal yang menjadi ciri rezim hibrida.
Sengketa lahan di Tanah Abang memperkuat pola yang sama. Ketika Menteri Ara datang menuntut pengembalian aset negara, Hercules tidak mundur. Ia menantang negara di depan kamera.
Ini menunjukkan bahwa jaringan informal tersebut tidak sepenuhnya subordinat; mereka memiliki otonomi relatif di tingkat lokal dan bernegosiasi dengan negara berdasarkan loyalitas personal, bukan semata-mata hukum.
Negara Prabowo, dengan segala retorika “rumah rakyat” dan program 3 juta rumah, tetap harus berhadapan dengan aktor yang menguasai ruang fisik melalui sejarah kekerasan, bukan melalui sertifikat.
Jadi, apakah militerisme ada di era Prabowo? Ya, tetapi bentuknya lebih canggih daripada sekadar tentara kembali ke politik.
Ia muncul sebagai perpaduan antara perluasan peran TNI ke ranah sipil (batalyon teritorial, program makan bergizi, produksi obat) dan pengaktifan kembali jaringan preman-milisi yang sudah terbentuk sejak masa pendudukan.
Hercules adalah indikator yang paling kasatmata karena ia membawa sejarah kekerasan kolonial internal Indonesia ke jantung ibu kota pada 2026.
Yang perlu dikhawatirkan bukan hanya “preman turun ke jalan”, melainkan normalisasi gagasan bahwa ketertiban publik adalah urusan kelompok-kelompok yang punya hubungan personal dengan penguasa, bukan semata-mata institusi negara yang terikat hukum.
Itu militerisme dalam bentuk yang paling berbahaya: yang sudah meresap ke dalam masyarakat sipil sendiri.
Wallahi, we're finished.
Buku grammar terlengkap yang aku pakai selama 7 tahun belajar bahasa Inggris. Kalian masih ada yang struggle sama tenses? Di sini lengkap banget, dari berbagai level, plus latihan!
Feel free to download it and print it out for your study :
https://t.co/B6fomf3iFJ
(diskusi dan tinjauan buku)
Riset Sejarah Visual Genosida 1965-1966 di Indonesia oleh Douglas Kammen, Geoffrey Robinson *Exposed: A Visual History of the Destruction of the Indonesian Left https://t.co/moJLTBFLPj
Terbit hari ini!
Exposed: A Visual History of the Destruction of the Indonesian Left by Geoffrey Robinson and Douglas Kammen
Exposed tells the story of the orchestrated mass violence of 1965–1968 in Indonesia and its aftermath.
Checkout di https://t.co/e0X2r7zPE6
Bagi yang menunggu-nunggu sejarah nasional Indonesia edisi terbaru, akhirnya siang tadi sudah diluncurkan versi finalnya oleh Kementerian Kebudayaan. Bisa dibaca secara daring atau diunduh via web https://t.co/olOoC3OgDw ini.
Pengantar Etika dan Moral Komunis karya Dipa Nusantara Aidit, disampaikan di Universitas Kristen Satya Watjana, menolak anggapan kaum Komunis “tak bermoral.” Moral baginya lahir dari kondisi sosial & kelas; moral Komunis adalah pengabdian pada Revolusi.
https://t.co/jg4yRN9NRV
Buku dari @PeterGelderloos ini sempet diterjemahin ke Bahasa Indonesia 6 tahun lalu, tapi waktu itu terjemahannya masih kurang bagus. Mengingat eskalasi aksi yang kayaknya bakal semakin meningkat di waktu yang akan datang, juga karena pembahasan soal aksi damai vs aksi dengan kekerasan selalu berulang tiap ada aksi massa, jadi buku ini diterjemahkan ulang dengan lebih baik oleh teman-teman yang memilih anonim. Oh iya buku ini copyleft, jadi semua orang dianjurkan untuk mendownload, membaca, menyebar, dan mendiskusikannya.
Link downloadnya di sini: https://t.co/A5GFuD5hLa