Bagaimana cara berhenti menjadi #praktisimarahmarah?
Ada bahan bacaan untuk belajar bersama melalui ebook Anger Management Perspektif Islam. Lewat link ini https://t.co/Ak33RO5Sqr mari memulai niat meninggalkan predikat #praktisimarahmarah.
Sekolah dasar dan menengah perlu mulai aware terhadap pembelajaran interdisipliner karena masalah nyata yang dihadapi anak-anak tidak pernah datang dalam bentuk “mata pelajaran murni”.
Di dunia nyata, satu persoalan biasanya menuntut gabungan banyak cara berpikir. Misalnya isu sampah plastik tidak cukup dibahas dari IPA saja, tetapi juga terkait matematika untuk membaca data, IPS untuk memahami perilaku masyarakat, bahasa untuk kampanye, seni untuk desain poster, dan PPKn untuk tanggung jawab warga. Artinya, pengetahuan menjadi lebih bermakna ketika siswa melihat hubungan antarbidang.
Batas mata pelajaran tetap penting sebagai fondasi konsep. Namun jika terlalu rigid, siswa bisa terbiasa memahami ilmu secara terpisah-pisah.
Pembelajaran interdisipliner juga membantu siswa memahami bahwa ilmu bukan sekadar materi ujian, melainkan alat untuk membaca kehidupan.
Tahukah kamu, bahwa kalau kamu nggak suka americano, itu nggak apa-apa?
Kalau kamu belum pernah nyoba donat dari kios masa kini, itu pun ngak apa-apa.
Kalau kamu ngerasa salt bread rasanya aneh, itu juga nggak apa-apa.
Kalau kamu belum pernah denger lagu dari artis edgy yg temen2 kamu omongin, juga ga apa-apa.
Di antara banyaknya hal penting dalam hidup, banyak juga hal di dunia ini yg enaknya dibawa selow ajalah. Nggak juga gapapa..
Tolong dicatat baik-baik oleh semua orang tua:
Kalau anak demam tinggi 3 hari, lalu di hari ke 4 demamnya turun TAPI anaknya malah:
1. Makin Lemas / Tidur terus
2. Muntah terus-menerus
3. Sakit perut hebat
4. Ujung tangan/kakinya dingin & berkeringat
JANGAN KASIH VITAMIN LALU DISURUH TIDUR.
Itu bukan "lemas karena kurang makan". Itu alarm bahaya. Bawa langsung ke UGD atau Lab terdekat. Minta Cek Darah Lengkap!
Demam Berdarah itu penyakit yg tricky. Dia membunuh justru di saat termometer menunjukkan angka normal.
Kewaspadaan orang tua di hari ke 4 dan ke 5 adalah penentu nyawa. Jangan sampai kelegaan palsu berubah menjadi tangisan penyesalan di ruang ICU.
Di saat seperti ini, kalau seseorang lagi cari rezeki, sekonyol apa pun, asalkan halal, jangan diledekin. Kalau seseorang sukses, doakan yang baik. Iri wajar, yang gak wajar itu iri dengki yang berujung nyinyir. Kita semua sama-sama berjuang. Gak perlu bikin konflik horizontal
Inget sekali ketemu Pak Dar, pertama kalinya berhadapan, rasanya gemetar.. krn dari sejak SMP, suka sekali baca artikel Beliau dengan tema Psikologi Keluarga 😭
menikah itu tidak pernah worth it.
mau pakai indikator apapun pasti terasa rugi.
jadi ibaratnya kita punya segelas air.
kita punya satu piring nasi.
lalu harus kita bagi.
jadi haus tidak hilang
kenyang tidak didapat.
semua itu ditukar dengan kebersamaan. bersama istri.
bersama anak.
istri juga rewel ngomel terus.
anak juga bawel karena dia belum tahu apa-apa. banyak nanya.
kita disuruh jadi imam.
padahal dulu lebih sering nonton Naruto daripada ngaji.
kita disuruh jadi guru. padahal kuliahnya bukan jurusan pendidikan.
pokoknya banyak banget hal-hal yang tidak masuk akal. yang dialami setelah menikah.
Balik jaman dulu belajar, apakah religiusitas berkorelasi positif dengan spiritualitas, atau sebaliknya?
Tapi kalo di Psikologi Islam, dulu sekali ya yang dipelajari (Krn sekarang sudah ga belajar lagi), terpikir kalo kita2 ini, masuk lubang biawak 🙂
Dari daftar negara2 maju, mengapa 10 besarnya "kurang beragama" tapi sangat menghargai sains, sementara 10 negara paling terbelakang rata2 "sangat beragama" tapi cenderung memunggungi sains?
Mengapa negara2 dg tingkat kriminal tertinggi rata2 sangat beragama?
Mengapa negara2 dg HDI tertinggi kurang beragama, sementara negara2 yang HDInya rendah rata2 sangat beragama?
Perbandingan daftar itu bisa dilanjut, misalnya tingkat korupsi, indeks gini, perlindungan buruh, bahkan IQ nasional.
Semuanya seperti mengundang tanya, di era modern ini, apa kontribusi agama terhadap kemajuan?
Saya berharap tidak baper. Kita muhasabah saja.
Apa yang tersisa saat jerami dibakar?
Begitu api nyala, yang terbang duluan justru hara paling penting buat hidupnya tanah.
Yang pertama karbon. Jerami itu 40 persen karbon. Sekali kebakar, 90 sampai 100 persennya jadi CO2 dan ngilang ke udara.
Padahal karbon ini nyawanya tanah. Dia yang bikin struktur tanah remah, nyimpen air, dan jadi makanan buat mikroba. Bakar 5 ton jerami sama aja buang bahan organik setara 2 ton kompos.
Sekali dua kali nggak kerasa. Tiap musim dibakar, tanah makin bantat, gampang keras pas kering, dan daya simpan airnya turun drastis.
Kedua nitrogen. N di 5 ton jerami itu setara 20 sampai 30 kg Urea. Kebakar, 80 sampai 95 persennya jadi gas dan hilang. Hemat waktu bakar sejam, tapi musim depan kamu harus nombok Urea lebih banyak.
Ketiga belerang. 60 sampai 70 persen S juga ikut jadi asap SO2. Padahal belerang yang bikin bulir padi bernas dan berbobot. Kalau tiap musim dibakar, tanah pasti pelan-pelan tekor S.
Yang sisa di abu tinggal kalium, fosfor sekitar 70 sampai 80 persen, silika yang bandel 95 sampai 100 persen, sama kalsium magnesium.
Ibaratnya kita masak, tapi daging sama sayurnya dibuang, yang dipakai cuma garem sama micin.
Teman-teman, saya ingin menjelaskan menstruasi kepada para laki-laki.
Sebagian laki-laki mengira menstruasi hanyalah beberapa hari rasa tidak nyaman, sedikit perubahan mood, lalu selesai.
Padahal, jarang sekali yang benar-benar menghitungnya.
Seorang perempuan berada dalam masa subur itu kurang lebih selama 40 tahun.
Menstruasi datang sekitar setiap 28 hari.
Artinya, dalam hidupnya, seorang perempuan mengalami sekitar 521 kali menstruasi.
Setiap menstruasi berlangsung kurang lebih 5 hari.
Jika dijumlahkan, itu sekitar 2.607 hari.
Hampir 7 tahun hidupnya dilalui dalam keadaan berdarah.
Dan bukan kiasan, dia benar-benar berdarah.
Rata-rata darah yang dikeluarkan sekitar 80 mililiter.
Jika dijumlahkan sepanjang hidup, jumlah darah terbuang mencapai sekitar 42 liter.
Rata-rata tubuh kita berisi sekitar 5 liter darah.
Empat puluh dua dibagi lima.
Artinya, sepanjang hidupnya, seorang perempuan mengeluarkan darah setara lebih dari 8x seluruh darah dalam tubuhnya sendiri,
Delapan volume darah tubuh keluar dari satu perempuan.
Dan ada bagian yang lebih jarang dibicarakan.
Ia memulai semua ini sejak usia 11 tahun.
Sebelas tahun.
Usia ketika sebagian besar dari kita masih belajar memahami tubuh sendiri.
Ia menyembunyikan pembalut di balik lengan saat berjalan ke toilet.
Berdoa agar darahnya tidak tembus ke rok.
Mencari alasan kepada guru olahraga.
Berbisik kepada teman-temannya.
Malu luar biasa jika ada anak laki-laki yang tahu trus menertawakan.
Lalu kebiasaan itu terbawa bertahun-tahun.
Menyembunyikan.
Menutupi.
Berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Di sekolah.
Di tempat kerja.
Saat bepergian.
Di ruang rapat.
Di tengah kesibukan.
Di setiap ruangan yang ia masuki.
Ia bisa sedang nyeri, lelah, tidak nyaman, bahkan cemas darahnya tembus. Namun tetap tersenyum.
Tetap bekerja.
Tetap terlihat baik-baik saja.
Tujuh tahun perdarahan.
Empat puluh tahun belajar menyembunyikannya.
Lalu sebagian laki-laki masih menyebutnya, “Ah, cuma moody sebulan sekali.”
Bahkan bikin kepanjangan baru dari PMS, "Prepare to Meet Satan."
Teman-teman,
tugas kita bukan memperbaiki semuanya.
memang tidak akan bisa.
Tugas kita adalah menjadi lebih dewasa dalam memahaminya.
Belikan pembalut tanpa merasa aneh.
Tanyakan apa yang ia butuhkan tanpa menghakimi.
Jangan memasang wajah jijik.
Jangan menjadikan menstruasi sebagai bahan candaan murahan.
Jangan bertanya, “Lagi datang bulan ya?” dengan nada yang ngenyek merendahkan.
Jangan membuat perempuan merasa tubuhnya adalah sesuatu yang harus disembunyikan.
Ia sudah belajar menyembunyikannya sejak usia belasan tahun.
Maka jadilah orang yang membuatnya merasa aman.
Yang membuatnya merasa nyaman
Yang membuatnya tidak perlu lagi bersembunyi.
Mari kita coba ubah ke bahasa gen alpha:
Opsi 1
"Anak Muslim harus berani farming pahala walaupun ada yang nge-hate.
Jangan kalah sama aura negatif.
Hari ini udah dapet XP kebaikan berapa, broski?"
Opsi 2
"Sebagai generasi muslim, kita gak boleh kena nerf atau buat berbuat kebaikan, peduli amat sama NPC yang sibuk yapping atau nge-drop komentar L take.
Anyway chat, sudahkah kebaikan kalian hari ini di-looksmaxxing ke level maksimal? Jangan kasih kendor".
Opsi 3
"Jadi muslim itu grindset-nya harus real sigma, jangan takut berbuat baik cuma karena omongan hater yang gak punya aura.
So, udah pada cookin' hal positif belum hari ini?".
Boleh. Salah satu hal yang sering tidak disadari orang tua adalah bahwa banyak anak tidak takut pada matematika, tetapi justru takut pada pengalaman belajar matematika yang mereka alami.
Beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan:
1. Kurangi pertanyaan "berapa hasilnya?"
Dan lebih sering tanyakan:
- "Kamu dapat jawaban itu dari mana?"
- "Menurutmu kenapa begitu?"
- "Ada cara lain nggak?"
Tujuannya agar anak melihat matematika sebagai proses berpikir, bukan lomba cepat menjawab.
2. Biasakan membahas perkiraan (estimasi)
Misalnya:
- "Menurutmu antrean ini sekitar berapa menit?"
- "Kalau kita jalan kaki ke sana kira-kira berapa langkah?"
- "Menurutmu ada berapa permen di toples itu?"
Estimasi adalah salah satu bentuk nalar matematis yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
3. Jangan buru-buru memperbaiki jawaban salah
Saat anak salah, coba tanyakan:
"Boleh ceritakan cara berpikirmu hingga sampai pada jawaban ini?"
Sering kali kesalahan justru memperlihatkan bagaimana logika anak bekerja. Yang seperti itu jauh lebih berharga daripada sekadar mengetahui jawaban benar. Kita juga jadi bisa mengoreksi/meluruskan logika yang kurang pas.
4. Mainkan permainan yang melibatkan strategi seperti catur, congklak, Uno, Sudoku, puzzle, permainan kartu, bahkan tebak-tebakan logika.
Banyak konsep matematika tumbuh dari kebiasaan mencari pola dan membuat keputusan, bukan dari lembar latihan.
5. Tunjukkan bahwa orang dewasa juga menggunakan matematika. Misalnya saat berbelanja:
- membandingkan harga,
- menghitung diskon,
- memperkirakan waktu tempuh,
- membagi makanan.
Anak perlu melihat bahwa matematika adalah alat berpikir orang dewasa, bukan sekadar mata pelajaran sekolah.
6. Rayakan cara berpikir, bukan hanya jawaban benar
Daripada bilang, "Pintar, jawabannya benar."
Cobalah pernyataan seperti, "Aku suka cara kamu mencoba tiga strategi berbeda sebelum menemukan jawabannya." Hal ini membantu anak mengaitkan matematika dengan usaha dan penalaran.
7. Kenalkan pola sebelum rumus
Misalnya sebelum menghafal perkalian, kenalkan pola bilangan:
2, 4, 6, 8, ...
5, 10, 15, 20, ...
Biarkan anak menemukan polanya sendiri. Rumus akan lebih masuk akal jika lahir dari pola yang sudah mereka lihat.
Yang paling penting adalah bahwa matematika awalnya bukan tentang angka. Matematika adalah kebiasaan bertanya "kenapa?", "bagaimana?", dan "apakah selalu begitu?"
Kalau anak sering diajak berpikir seperti itu sejak kecil, saat bertemu pecahan, aljabar, atau kalkulus nanti, mereka tidak melihat matematika sebagai monster dan akan melihatnya sebagai bahasa untuk menjelaskan pola yang sudah lama mereka kenal.
@hosin_engi Jangan dimarahi anaknya, dia sudah melakukan yang terbaik. Coba luangkan waktu untuk membacakan buku cerita setiap hari. Nanti kemampuan literasinya akan meningkat pesat.