@tirta_cipeng Inget dok, kata pak kyai Kita harus taat dgn Ulil Amri gaboleh kritik ya. Soalnya pak kyai nya cinta banget Ama dunia ini sampe nyari makan aja di suapin pemerintah.
@KapudS640 Iya tinggalin aja laki gitu mah.
Cari yang rajin sabu trus maen judol, ya maximal yg bisa korupsi 100jt/Minggu. Kalo gabisa ya minimal tukang begal juga gpp.
Baru Cincha Laura Kiehl artis yg brani nyenggol kebijakan pemerintah yg morat-marit ky ranjang Teddy.
Dia tegas menyuarakan kesejahteraan & keadilan rakyat yg TIDAK merata sejak kepemimpinan badut gemoy
Artis lainnya masih aman dan tenang berlindung dibalik lagu ok gas.. ok gas...
Reporternya cerdas, bisa lontarkan pertanyaan yg buka kartu anak ini.
Inilah hasilnya jika memilih pakai perut, bukan pakai otak. Main game saja pakai joki, pasti jokinya lebih hebat dari dia.
Btw, sekarang ini berapa jam yah sehari dia main game..??
Guys..
Ada pasangan muda ngekos di kosan seseorang. Mereka punya bayi dua bulan.
Suatu siang bayinya nangis kenceng banget sudah setengah jam.
Ibu kos yang khawatir datangi kamarnya, ketuk pintu nggak ada yang nyahut.
Intip dari jendela, ibunya ternyata tidur di samping bayinya.
Digedorin nggak bangun.
Bayinya masih nangis jerit-jerit sampai kepalanya jatuh dari kasur.
Cari kunci serep nggak bisa masuk.
Akhirnya mereka buka paksa jendelanya dan teriak manggil nama si ibu.
Tetap nggak bangun.
Telepon suaminya nggak diangkat.
Pikiran sudah kemana-mana takut dia pingsan.
Baru setelah dia bergerak ganti posisi mereka sadar dia nggak pingsan, cuma tidur lelap luar biasa. Kecapean sampai kayak kena bius.
Bayinya digendong ibu kos, dibawa ke kamar yang ada AC-nya.
Langsung tenang tapi masih terisak.
Ternyata di kamarnya cuma ada kipas kecil dengan pintu dan jendela tertutup rapat.
Baru ketahuan setelah itu kalau pasangan ini masih kuliah.
Suaminya kuliah sambil kerja jadi pelayan restoran. Istrinya cuti kuliah karena lahiran.
Mereka besarkan bayi dua bulan di kamar kos sepetak.
Suaminya masak seadanya sebelum pergi kerja.
Nggak ada kendaraan.
Gofood terlalu mahal.
Ibu kos yang sering kirimin makanan ke kamar mereka.
Lima hari setelah kejadian itu mereka keluar dari kosan.
Suaminya kena layoff.
Padahal baru bayar kos bulan depan.
Uang kosnya dikembalikan.
Yang bikin haru, ternyata kosan ini bukan kosan biasa. Ayahnya si penulis sengaja bikin kamar luas supaya yang berkeluarga bisa tinggal.
Harga bisa ditawar.
Penyintas bencana Aceh yang cuma punya 300 ribu diizinkan tinggal dulu bayar belakangan.
Kata ibunya sederhana banget. "Memanusiakan manusia."
Kadang kita lupa bahwa di balik pintu kos yang tertutup ada kehidupan yang jauh lebih berat dari yang terlihat.
Ibu muda yang tidur kecapean bukan karena malas, tapi karena tubuhnya sudah nggak kuat lagi.
Dan di tengah semua itu masih ada orang-orang baik yang buka jendela, gendong bayi orang lain, dan kirim makanan tanpa diminta.
Buat yang lagi berjuang ngurusin newborn sendirian jauh dari keluarga, kalian luar biasa kuat.
Dan buat yang punya kesempatan untuk jadi "ibu kos baik" bagi orang di sekitar kalian, jangan ragu untuk melakukannya.
Kalian pernah nggak merasakan atau menyaksikan kebaikan sederhana dari orang tak dikenal yang ternyata dampaknya luar biasa besar?
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Serangan brutal militer Indonesia di Tembagapura, Mimika, Papua Tengah, 5 warga sipil ditembak, gelombang pengungsian makin meningkat masif. Operasi militer Indonesia di atas tanah Papua, selain membunuh, warga sipil pun harus jadi korban pengunsian besar-besaran.
@ardisatriawan Tonton sampe habis, itu Hakim malah menghina pelaku dari cara nya aja udh dungu. Dalam artian apalagi ketika di Medan pertempuran sesungguh nya dlm menghadapi ancaman musuh dr luar padahal tsk itu dari komando intelegen cara main nya udh kek preman pasar. Begitu maksud pak hakim
Melihat anak sendiri kelojotan seperti video dibawah pasti rasanya jantung mau copot, lutut lemas tak bertulang. Wajar, naluri orang tua pasti hancur.
Menurut kalian apa yg dilakukan ibu ini sudah tepat atau belum ?
Mari kita bahas SOP rumahan yang wajib dikuasai ibu dan bapak ..
Cr : TT vianaintang
Rusia melarang dolar dari perdagangan energinya dengan Eropa.
Semua kesepakatan minyak dan gas di masa depan: hanya Rubel Rusia atau Yuan China.
Perang adalah bisnis :)