Cara saya edukasi grassroot dari sisi nakes:
“Tau gak dulu itu APBN kita ada porsi wajib untuk pembiayaan BPJS, sekarang porsi wajib itu dihapus.. jadi bapak/ibu kalau berobat nanti makin susah”
“duitnya kemana? ya buat memperkaya para pemilik dapur MBG itu pak/bu”
Mbak ini belum tau ttg Tri Mumpuni, "Wanita Listrik" yg dpt berbagai penghargaan dunia krn kontribusinya dlm pemberdayaan listrik mandiri di 80-an lebih lokasi terpencil di Indonesia (& Filipina).
Dia alumni progdi Sosial Ekonomi Pertanian IPB. Studi lanjutnya juga soshum. 🤣
belajar multidisiplin karena ego akhirnya ngerti gaada studi yang lebih ini itu dari studi lainnya.
kalau anda memandang studi anda lebih baik sambil memandang orang kena dunning-kruger effect, mungkin tuduhan itu lebih cocok untuk anda sendiri.
Case closed() https://t.co/AWskxDplvX
Ini yg ane bilang. Ngomongin energi itu gak bisa sekedar ngomongin teknologi doank seolah berdiri sendiri. Faktornya bnyk apalg aspek sospol. Jd multidisiplin.
Ente mungkin kaget klo tau ketua asosiasi energi surya Indonesia dari D3 Bahasa Inggris & karir awal di bank. 🤣
ga akan capek capeknya aku ngingetin temen temen queer that you dont owe ANYONE explanation about your sexuality/beliefs, prioritize your own safety! fokus belajar yg tinggi aja biar kita bisa kabur dari sini secepatnya 🥹❤️🩹
I feel like most Indonesians don't realize how stupid colonial romanticization is
"B, but- but, muh large plantations, the nature, strong road infrastructure, beautiful buildings"
Yes, all of this exist. But its not built for you. Its all for the sake of the colony's existence.
Manusia itu rasional, tapi terbatas. Rasional artinya membandingkan. Pembandingnya adalah dua atau lebih hal yang tolok ukurnya macam-macam. Sayangnya banyak yang malas untuk mengakui kompleksitas dan memaksakan alat ukur sederhana alias utilitarian. Padahal, utility untuk siapa?
Semoga kalian tidak perlu know the hard way kalo 112, 113, 118, dan 119 gabisa diakses kalo kalian gapunya pulsa.
I did, and i fucking hate this country
Dalam paper berjudul Ethics of Reading, karya Jane Gallop, ia menulis bahwa membaca secara mendalam membuat kita memperhatikan detail: gambar, footnote, dsb.
Semuanya merupakan pengetahuan dan semuanya hampir mustahil dilakukan dengan skimming.
Papernya 30min reading aja!
Nah akhirnya ada yg ungkapkan hal ini.
Kunci keberhasikan lembaga pendidikan adalah punya identitas sendiri yang kuat, yang tidak ada campur tangan pemerintah di dalamnya.
Kurikulum nasional ada masanya bagus ada masanya hancur lebur.
Jangan berjudi dengan nasib.
INI AJARAN MANOSPHERE BTW‼️
Percaya sama korban kekerasan seksual = bikin makin banyak orang jadiin kekerasan seksual sebagai ancaman/serangan/senjata.
Perempuan digambarkan pasti akan menggunakan KS untuk "manipulasi dan berbuat jahat"
Salah seorang profesor gue waktu Magpro pernah bilang 'kalian tes IQ pakai Weschler anak pelosok Indonesia timur mungkin lebih buruk dari Jawa, tapi mereka ada pemburu handal, membaca langit, pengetahuan tanaman luar biasa. Anak terukur IQ tinggi belum tentu survive di sana'
Saya tuh ngajar di gunung ya. Ketemu murid yg level kognitifnya kurang. Gak bisa berhitung? Ada. Gak lancar berhitung? Banyak. Gak bisa baca? Ada juga. Itu usia SMP. Padahal harusnya saya udah ngajar materi yg tingkatannya lebih tinggi.
Tapi saya gak pernah goblok-goblokin murid