lebih urgensi. Contoh saja seperti melawan ketidakadilan yang terjadi pada wanita di Afganishtan. Jika saya tanyakan pada anda lelaki, sudahkah anda berkontribusi dengan keras untuk ikut bersuara terhadap case ini?
Satu dari sekian bentuk-bentuk toxic dari para feminist yang-
Is literature an appropriate medium for approaching ethical questions?
This collection of incisive essays interrogates literature's suitability as a vehicle for moral philosophy, exploring the debate between ethics and aesthetics.
Learn more: https://t.co/qdGQj2IovE
Buku ini adalah karya Jean-François Lyotard yang berjudul “The Postmodern Condition: A Report on Knowledge”, sebuah karya kunci dalam memahami pergeseran budaya dan intelektual di era kontemporer.
Lyotard menyoroti runtuhnya naratif besar atau cerita-cerita induk yang sebelumnya melegitimasi kebenaran, serta menggantinya dengan konsep permainan bahasa dan pragmatisme. Lyotard juga menguraikan bagaimana informasi telah menjadi komoditas utama dan bagaimana postmodernisme menantang struktur kekuasaan serta tradisi berpikir lama dalam dunia akademik maupun sosial.
Menurut Lyotard perubahan status pengetahuan dalam Masyarakat Komputerisasi terjadi pada Masyarakat Pasca-Industri. Dalam era pasca-industri dan komputerisasi, status pengetahuan mengalami transformasi di mana produksi dan transmisinya bergantung pada bahasa, komputasi, dan pemrosesan data. Terjadinya Komersialisasi Informasi: Pengetahuan tidak lagi dianggap sebagai tujuan pada dirinya sendiri (pembentukan karakter/jiwa), melainkan dieksteriorisasi menjadi komoditas informasi yang diproduksi untuk dijual dan diperdagangkan demi kekuasaan ekonomi serta politik
Dalam pandangan Jean-François Lyotard, ilmu pengetahuan modern melegitimasi keberadaan dan kebenarannya melalui rujukan pada narasi-narasi besar (metanarratives atau grand narratives). Narasi besar ini memberikan dasar filosofis dan politis bagi praktik ilmiah, yang umumnya terbagi menjadi dua model utama, yaitu: 1) Narasi Emansipasi Kemanusiaan: Pengetahuan ilmiah dipandang sebagai sarana untuk membebaskan manusia dari kebodohan, prasangka, dan tirani (tradisi Pencerahan dan Revolusi Prancis). 2) Narasi Spekulatif Roh: Pengetahuan dilegitimasi melalui pembentukan kesatuan sistem filsafat dan perkembangan Roh atau pengetahuan itu sendiri (tradisi Idealisme Jerman dan Hegel).
Krisis legitimasi—atau proses delegitimasi—terjadi ketika narasi-narasi besar tersebut runtuh dan kehilangan kredibilitasnya dalam masyarakat kontemporer. Lyotard menjelaskan krisis tersebut melalui beberapa faktor kunci, yang diantanya ialah sebagai berikut:
1. Erosi Internal Tuntutan Kebenaran
Krisis legitimasi berakar dari dalam prinsip ilmu pengetahuan itu sendiri. Tuntutan pembuktian yang ketat dalam sains akhirnya berbalik pada narasi yang melegitimasi sains tersebut. Ketika kriteria kebenaran ilmiah diterapkan pada narasi legitimasi (seperti narasi emansipasi atau spekulasi), narasi tersebut terbukti tidak dapat diuji secara ilmiah dan diturunkan derajatnya menjadi sekadar mitos, prasangka, atau ideologi.
2. Pemisahan Permainan Bahasa (Language Games)
Terjadi pemisahan yang makin jelas antara jenis-jenis pernyataan. Pernyataan denotatif (yang berurusan dengan kebenaran/fakta ilmiah) tidak secara logis melahirkan pernyataan preskriptif (yang berurusan dengan keadilan, etika, dan tindakan politik). Mengetahui suatu fakta benar tidak serta-merta membuktikan bahwa keputusan politik atau moral yang didasarkan padanya adalah adil. Akibatnya, sains tidak lagi memiliki otoritas untuk melegitimasi tindakan sosial atau moral.
3. Pergeseran ke Arah Performativitas Teknologi dan Kapitalisme
Perkembangan teknologi dan sistem kapitalisme pasca-Perang Dunia II menggeser perhatian dari tujuan akhir tindakan ke sarana dan efisiensi. Prinsip legitimasi baru yang menggantikan narasi besar adalah performativitas(performativity), yaitu optimasi rasio input/output demi peningkatan kekuasaan dan efisiensi sistem.
Akibatnya, pertanyaan dasar dalam pengetahuan berubah dari "Apakah ini benar?" atau "Apakah ini adil?" menjadi "Apakah ini berguna?", "Apakah ini efisien?", atau "Apakah ini dapat dijual?". Pengetahuan tidak lagi dicari demi kebenaran itu sendiri, melainkan sebagai komoditas informasi dan alat kekuasaan.
Dampak dan Legitimasi Postmodern ialah runtuhnya narasi besar yang menyebabkan pengetahuan terfragmentasi ke dalam awan-awan permainan bahasa lokal yang heterogen. Tidak ada lagi satu metalanguage universal yang dapat menyatukan seluruh cabang ilmu. Dalam kondisi postmodern ini, Lyotard mengusulkan bahwa legitimasi sains tidak lagi didasarkan pada konsensus universal atau efisiensi teknokratis, melainkan pada paralogi (paralogy)—yaitu penciptaan aturan baru, pembongkaran kerangka lama, dan penemuan ketidakstabilan (instabilities) melalui perdebatan dan perbedaan pendapat (dissensus).
-Jean-François Lyotard-
One of the strongest and most underappreciated lines of evidence for the Prophethood of Muhammad ﷺ is the historical setting in which the Qur’an appeared.
An unlettered Prophet, raised for forty years in pagan Mecca with no Jewish or Christian communities around him, begins reciting a Qur’an containing an extraordinary body of knowledge about earlier prophets, the People of the Book and their religious traditions.
Where did this knowledge come from?
This excellent video explores that question carefully by reviewing @DrSamiAmeri’s book “Proofs of Prophethood”. It also looks at how modern Western scholarship has grappled with the historical evidence.
I had the privilege of translating the full video into English alhamdulillah, and brother @alta3b has now uploaded the subtitles to the original video.
Turn on the English subtitles through the caption settings.
Very much worth watching and sharing.
38 yıl boyunca Hadis toplamak için yolculuk yapan imam Buhâri 54 yaşında vefat eder
30 küsur yıl sonra eve geldiğinde tüm aile efradının (annesi ve abisi Ahmed) vefat ettiğini öğrenecek
Vee abdestin rüknünü bilmeyen pelin ile Ahmed İmam Buhâri'yi diline pelesenk edebiliyor:
Today!
Join us in Slough for Grounded: Being Muslim in a Godless World, part of The Essentials series with Imran Hussein.
In a world shaped by secular assumptions, doubts and competing worldviews, this session will explore how Muslims can remain intellectually and spiritually grounded in Islam.
📅 30 August 2026
🕓 4 PM – 8 PM
📍 Masjid Al Jannah, Slough
Register now: https://t.co/5wp0VVlhq3
The Hijaz is often forgotten as a major cultural region in the Islamic world, but for centuries, it was a hub of civilization.
The entire culture of refinement (Zarf) that flourished in caliphal capitals like Baghdad or Cordoba has actually its origins in pre-Islamic Medina.
من المكتبات الجميلة الرائعة التي تزخر بالموسوعات الضخمة والكتب القيمة من شتى المذاهب والمشارب والمكان الأنيق المرتب والاستقبال البهي مكتبة جامع الأمين ببوشر،تستحق الزيارة والمكوث فيها للباحثين والناهلين للمعرفة.
One of the books we used in researching for our History Coruse is 'The Arabs: A History: by Eugene Rogan. This was actually a major source for us.
Here are some excerpts:
Great to see a translation and edition coming out. Important commentary by a significant thinker, Jalal al-Din al-Dawani. There’s an interesting part in the commentary where Dawani says the Asharis (yes, very specific) is the saved sect.
#NewPublication
The Forgotten Qur'ans of the Eastern Islamic World
Manuscripts of the Ghaznavid and Ghurid Dynasties 11th-12th Centuries
Alya Karame, Edinburgh Univ Pr 2026
https://t.co/SrTs8rqEkF
#OpenAccess Author's PhD Diss on which the book is based
https://t.co/ye8vh9UIQA
HLA Hart's main philosophical influence as an undergraduate (1926-1929) was that of HWB Joseph, who "really believed wholeheartedly in Platonic philosophical theory" -- "he influenced me the most, until I reacted against it all."
For learning about Islamic Law, I recommend:
•An Introduction to Islamic Law – Wael B. Hallaq
•Islamic Law: A Very Short Introduction – Mashood A. Baderin
•The Lawful and the Prohibited in Islam – Yusuf al-Qaradawi
•The Spirit of Islamic Law – Bernard G. Weiss