Aku pernah menjadi impiannya. Dalam mimpinya tentang masa depan, aku pernah ada disana.
Saat berpisah, kami sangat menderita.
Aku telah menghancurkan mimpi-mimpinya.
Dan dia berutang masa depan yang telah dia janjikan kepadaku.
Makin lama, makin terbiasa kehilangan. Sakitnya enggak dirasa-rasa. Mau cerita juga malas dikasihani. Akhirnya dipendam begitu saja. Hingga akhirnya lupa, saya ini manusia atau batu yang bisa bicara?
Bawa perasaan aja enggak cukup. Kadang, kita mesti mengalah, berpisah, dan belajar untuk berkompromi. Kemudian sesekali mengenang sembari bertanya pada diri sendiri, “Bakal kayak gimana ya kalau kita masih bareng sampai hari ini?”