@ruliemaulana@choaciao@BetaEpsilonPhi Kamu yang tukang tipu. Kamu tidak baca aturan turunannya, tidak ikut sosialisasi juknisnya, bahkan tidak ikut prosesnya sama sekali. Kamu screenshoot tulisan entah sumber dari mana dan entah valid atau tidak, kamu jadikan referensi. Kamu menipu dan kamu yang tukang tipu.
@HaikalFirza1@bilbiils_@enoliska_ Assistant Professor itu level paling bawah posisi dosen. Di Indonesia, posisi Assistant Professor jadi 2 posisi; Lektor dan Asisten Ahli. Masih jauh banget dari jabatan Professor.
@msafarnurhan Imo, TS tidak bilang Zen RS menerjemahkan dan menerbitkan hasil terjemahannya, thus bukan claim kalau buku terjemahan itu adalah karya Zen RS.
Menerjemahkan di sini mungkin maksudnya, baca dr sumber bahasa asli dan menerjemahkannya sendiri ke bahasa Indonesia untuk pribadi.
“In practice, however, technology is never neutral, because it takes on the characteristics of those who devise it, finance it, regulate it and use it.”
THANK YOU POPE LEO FOR SAYING THIS.
Time for the “technology is a tool with no inherent moral position” idea to die!
Nggak nyangka sekarang udah sampe di umur kalau bilang ke mahasiswa “saya dulu masuk kuliah 2010…” dijawabnya “wah, itu saya masih umur empat tahun, mbak…”
😮💨😮💨😮💨
Guys kencengin ikat pinggang. Gw sama suami bener2 memutuskan di rumah aja pas liburan nanti. Meskipun ada rejeki lebih baik disimpan or dibagi ke orang tua dan adik2.
Tough time ahead. Tapi semoga semua ini bisa kita lewati sama-sama.
Jangan lupa momen2 ini guys pas pemilu 2029 nanti. Beneran deh, gw pun mengingatkan ke diri gw sendiri. Selalu edukasi diri.
Polesan kamera itu menyakitkan. Uda stop justifikasi2 orang baik, politik itu harus damai, pilih pemimpin yg punya pengalaman. STOP.
Next time, gw cuma mau milih yg mendorong perubahan sistem. Ga ada lagi ngomong2in program kerja. Capek. Banyak banget program kerja, tapi ujung2nya mental juga kondisi ekonomi kita.
Kalo institusi bener2 jalan, at least kita ga ngerasa clueless kaya gini. Kita ga harus saling blaming each other. Kita ga harus dipaksa mikir setiap saat untuk issue yg seharusnya tugas yg menjalankan pemerintah.
Kuat2 semua. Apalagi sandwich generation, I feel you. 🫶🏼
udah liat tingkah menjijikan mimi peri? masih mau ngasih ruang untuk bencong? masih mau bela para boti dan LGBT kah?
-dia terang2an mengaku suka tusbol/sodomi, di mana dia ngambil anak2 kampung, katanya anak2 kampung lebih bersih dari HIV. kurang ajar sekali, pun kalo mereka bersih, bisa saja nanti justru dia yang tertular dari si bencong ini. daya rusaknya luar biasa untuk anak2 dan masa depan
bejat. hina. dia menularkan penyakit kelamin dan bisa menularkan orientasi seksnya yang menyimpang itu ke anak2 kampung yang kemungkinan masih ada yang polos
jangan lagi bilang sifat dan kelakuan bencong itu gak bisa nular. bisa. jurnal barat yang jadi rujukanmu soal LGBT gak bisa nular itu gak valid, emang yang buat jurnal itu udah ngambil survey dari seluruh dunia? gimana kalo yang buat jurnal itu ada beberapa yang pro ke LGBT juga? stop denial
bagaimana kalo anak2 kampung itu anakmu? keponakanmu atau kerabatmu? masih ada kah ruang untuk tidak marah?
anak2 kampung yang dia sebut itu mungkin ada yang sama2 mau, tapi besar kemungkin ada juga yang awalnya gak mau tapi karena banyak faktor seperti iming2 dikasih imbalan, dirayu atau apapun lah caranya sampai pada akhirnya dia mau melakukannya. ditambah dengan keadaan ekonominya yang sulit, begitu ditawari uang dan hadiah bisa saja pendiriannya goyah. ini banyak terjadi
-saat ditegur soal kelakuannya itu, dia teriak "hidup boti, saya bangga menjadi boti. dosa itu gak ada, gak ada disiksa (di neraka), itu hanya dongeng, dongeng masa kecil buat nakut-nakutin"
apa gak bahaya kalo predator seperti ini dibiarin berkeliaran semaunya tanpa ditindak? tanpa memasukkan unsur agama pun, kita semua harusnya gak boleh bebasin dia ngerusak anak2 dan menularkan penyakit fisik dan mental ini
teman2, jangan biarkan kemungkaran terjadi di depan mata. lawan
Mungkin bisa langsung bilang “lagi nyari duit, kerjaan saya memang gini gini.” Mungkin masyarakat/netizen akan lebih memaklumi. Atas nama kerja dan cari duit aja, ga usah atas nama rakyat atau kepentingan publik.
Betul, hari Rabu lalu saya bertemu dengan seorang Eselon 1 di Kementerian ESDM. Beliau adalah Prof. Erani, seorang ekonom institusi, akademisi, dan teknokrat sejak lama. Saat ini beliau menjabat sebagai Sekjen tapi sudah lama di pemerintahan. Kami membahas tentang tantangan-tantangan birokrasi, termasuk perlunya 'kerangka transisi energi bersih yang berlandaskan keadilan iklim dan antargenerasi’ untuk energi terbarukan di Indonesia, serta eksplorasi kegiatan pembangunan kapasitas untuk para ASN di Kementerian ESDM.
Pertemuan ini tidak 'spesial', karena sebagai peneliti kebijakan publik/ekonomi lingkungan, ini memang salah satu bagian inti dari pekerjaan saya. Sejak 2013, saya berinteraksi dengan banyak institusi dan para birokrat K/L. Dalam beberapa bulan terakhir saja, kami sudah bertemu dengan setidaknya 6 orang Eselon 1 dan 13 Eselon 2 di 12 Kementerian/Lembaga.
Tidak ada yang saya publikasikan secara khusus bukan karena menutupi apa-apa, tapi ya ini bagian dari proses bekerja bahkan kami jarang sekali teringat foto (kalau seorang dokter setiap ketemu pasien, apakah foto setiap kali?). Saya bukan pula politisi muda mengincar kursi, tidak punya kepentingan bertemu penguasa untuk caper ke kabinet, paling ya mempresentasikan analisis. Biasanya kami akan mempublikasikan ketika 'milestone' sudah tercapai, misalnya sebuah hasil riset sudah selesai, atau implementasi kegiatan sudah berlangsung di akun resmi organisasi.
Dalam konteks akademik, banyak juga dosen-dosen kita menggunakan buku bajakan buat ngajar, walau sebenarnya banyak open e-book yang dibikin sama dosen-dosen baik hati di luar negeri (ada juga dalam negeri tapi jarang sekali) yang bisa kita gunakan gratis 100%, ga kalah kualitasnya sama yang komersil. Even penerbit besar macam Springer banyak juga buku gratisnya.
Bagi yang pengen buku gratis tapi bebas lisensi bisa cek salah satunya di OpenCulture: https://t.co/zpfiMepNrH
Atau OAOPEN: https://t.co/Q5mGouIn3I
Sejak jaman nadym sampe udah 2026 nih isi webinar guru ya gitu-gitu aja. Aplikasi ini itu, modul ajar, asesmen, gamifikasi. Maksud gw tuh berarti selama ini kagak ada kemajuan apa gimana 😭
Selalu terjebak pada hal-hal teknis sampe lupa hal esensial yg harus ada di kelas.
Teori Pendidikan Finlandia gagal. Bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di Finlandia.
Kemampuan literasi dan matematika anak Finlandia jatuh dalam 20 tahun terakhir.
Finlandia sekarang berada di bawah Amerika Serikat yang rasis.
Sistem yang sukses: China, Jepang, Korea.