@zhil_arf reformasi tata kota di jkt?? wkwkwk ngarang. kalo reformasi udah gada tuh macet di tb simatupang, dan kemacetan2 structural lain karena tata kota yang salah. wibu kebanyakan coli wkwkwk
@limalapanpersen@Oneonone1111 ya balik lagi, carrick pake pemain dari bekas pelatih siapa dan di situasi mental kek gimana. gabisa disamain sama situasi pemain ten hag tengah musim, posisi out of 10 dan mentalnya juga gada. gitu juga masih masuk final UEL
@post_peasent@ubegebe1 gada pengaruhnya, lagi sebenernya kebijakan 200T itu ga begitu ngaruh karena tetep bank salurin ke pipeline yang udah ada, bukan nambah, karena gabisa bank asal main kasih kan, ada risiko. itu juga cuma 200T, portofolio bank lebih jumbo dari itu
@ayam_mie12@ChatibBasri pdb gabisa disamain sama pendapatan tahunan, karena itu bukan pendapatan yang diartikan sebagai space bayar utang. tp betul kalo ceteris paribus, makin gede pdb makin gede juga pendapatan pajak
@mirinssky@ChatibBasri kalaupun fixed, yang terjadi dibelakang nya ga semata mata fix. mekanisme pasar tetep terjadi, cuman terus ditambal (pake dollar) buat tetep fix. plus nya kurs jadi stabil, minus nya butuh cadangan devisi yang super gede
@utdfocusid objectively, carrick sama mainoo dimasukin cenderung karena fan service aja, tau lah fans emyu sebanyak apa, mereka butuh engagement. it's award "of the season" bukan "half of the season"
@fanmuhst@Ronaldoggo@MIRHibim_@Rossifinza good point. fans emyu di otaknya cuma formasi doang. padahal kalo amorim ga maksa mainin rashford dkk (bomb squad) musim lalu walaupun ancur, ga akan dilepas management tuh mereka. amorim udah bener implement his system langsung, jadi keliatan mana pemain yg bener
@Ronaldoggo@MIRHibim_@Rossifinza in the end, carrick bisa di posisi 3 sekarang juga berkat pemain rekrutan amorim, bukan pake pemain bekas ten hag. secara hasil bagus. tapi carrick belum teruji di sisi rekrutmen. dan itu root cause kebrobrokan emyu selama ini
Guys, gue mau mulai dengan satu fakta yang menurut gue 90% orang tidak tahu.
BCA bank yang ATM-nya ada di mana-mana, yang transaksi hariannya miliaran, yang market cap-nya terbesar di Indonesia awalnya bukan bank.
Sama sekali bukan bank.
BCA lahir dari pabrik rajutan.
Bukan gedung pencakar langit Jakarta.
Bukan dari keluarga bankir.
Bukan dari modal besar perbankan.
Tapi dari sebuah pabrik kecil di Semarang yang merajut kain.
Namanya waktu itu:
NV Perseroan Dagang dan Industri Semarang Knitting Factory.
Tanggal berdiri: 21 Februari 1957.
Dari benang rajutan ke sistem perbankan terbesar Indonesia.
Siapa yang bisa menduga?
Dan perjalanan menuju bank itu panjang dan tidak mulus:
Di tahun-tahun awal setelah berdiri BCA bukan bank yang diperhitungkan siapapun.
Fokusnya terbatas pada pembiayaan perdagangan kecil.
Tidak ada yang spesial.
Perubahan mulai terjadi ketika kantor pusat dipindah ke Jakarta.
BCA mulai memperkuat fondasi sebagai lembaga keuangan formal.
Tapi lompatan besar baru terjadi ketika satu nama masuk ke dalam cerita ini.
Lim Sioe Liong dan segalanya berubah:
Sudono Salim konglomerat terbesar Indonesia yang punya akses langsung ke Soeharto menjadikan BCA bukan sekadar bank biasa.
BCA dijadikan tulang punggung keuangan seluruh kerajaan bisnis Salim Group.
Dana mengalir ke pangan, agribisnis, manufaktur semua lini usaha Salim.
Di era Orde Baru BCA tumbuh bukan karena paling inovatif atau paling efisien.
Tapi karena paling punya koneksi.
Regulasi longgar.
Proteksi dari pemerintah.
Bank lain yang tidak punya hubungan serupa sulit bersaing.
Tapi ada satu nama yang mengubah DNA BCA dari dalam.
Mochtar Riady orang yang banyak dilupakan dari sejarah BCA:
Di awal 1980-an Salim mendatangkan Mochtar Riady, pendiri Lippo Group, untuk membenahi BCA yang waktu itu masih kalah saing dari bank-bank BUMN.
Di tangan Riady BCA mulai berubah wajah:
Pelayanan prima ditanamkan ke seluruh sistem. Jaringan cabang diperluas secara agresif. Kepercayaan kelas menengah kota mulai dibangun.
Tapi Riady punya ambisi yang lebih besar dari yang bisa difasilitasi di bawah Salim.
Dia keluar mendirikan Bank Lippo sendiri.
Tidak ada konflik terbuka.
Hanya dua visi yang berbeda arah.
Tapi sistem dan budaya kerja yang dia tanam itu yang jadi fondasi BCA sampai hari ini.
Inovasi yang sering dilupakan ATM pertama:
Di akhir 1980-an ketika bank-bank lain masih serba manual BCA jadi salah satu bank pertama di Indonesia yang pasang mesin ATM dan komputerisasi internal.
Keputusan itu terlihat kecil waktu itu.
Tapi itulah yang jadi cikal bakal ekosistem digital BCA yang sekarang melayani 22 miliar transaksi per tahun.
1997-1998 dan BCA hampir habis dalam dua hari:
Ketika krisis moneter menghantam rupiah terjun bebas, kepercayaan publik hancur BCA ikut terseret.
Dalam dua hari bank ini kehilangan Rp5 triliun dana pihak ketiga.
Nasabah panik.
Antrean panjang di cabang dan ATM untuk tarik uang. Rush yang hampir menghancurkan semuanya.
Pemerintah melalui BPPN mengambil alih.
Salim Group menyerahkan 92,8% sahamnya ke negara sebagai kompensasi BLBI.
Bagi Lim Sioe Liong kehilangan BCA adalah kehilangan mahkota dari kerajaan bisnis yang dibangun puluhan tahun.
Setelah itu namanya meredup dari panggung bisnis Indonesia.
Dan yang mengambil alih tidak ada yang menduga:
Ketika pemerintah tender saham BCA di 2002 — semua orang menebak pemenangnya: lembaga keuangan asing besar, atau investor internasional dengan modal jumbo.
Yang menang justru Grup Djarum produsen rokok dari Kudus, Jawa Tengah.
Budi dan Michael Hartono dua bersaudara yang tidak punya background perbankan sama sekali mengambil 51% saham BCA.
Nyaris tanpa drama.
Nyaris tanpa gembar-gembor.
Banyak yang skeptis.
Rokok mau pegang bank?
Apa yang mereka tahu?
Jawabannya ternyata:
mereka tahu cara tidak menganggu hal yang sudah berjalan dengan benar dan cara memilih orang yang tepat untuk memimpin.
Dan hasilnya:
38,8 juta nasabah aktif per 2023.
Naik 17% dalam setahun.
22 miliar transaksi per tahun.
Mobile banking tumbuh 43%.
Dinobatkan World's Most Trustworthy Company di kategori bank oleh Newsweek mengalahkan 66 bank dari seluruh dunia.
Dari pabrik rajutan Semarang ke bank paling dipercaya di dunia.
Dan pelajaran paling sederhana dari seluruh perjalanan ini:
Asal usul tidak menentukan masa depan.
Yang menentukan adalah apa yang kamu bangun di atas fondasinya.
BCA pernah jadi pabrik benang.
Pernah hampir bangkrut dalam dua hari.
Pernah berganti tangan dari konglomerat politik ke pengusaha rokok.
Dan dari semua titik itu yang membuatnya bertahan dan akhirnya menang adalah satu hal: konsistensi membangun kepercayaan.
Satu transaksi.
Satu nasabah.
Satu hari dalam satu waktu.
@LambeSahamjja secara objektif. ini akun udah keliatan buzzer BCA atau orang pesenan BCA. tanpa membenarkan kasus yg terjadi, ada perbedaan drastis ketika akun ini posting ttg BCA dan non-BCA. karena faktanya BCA juga punya kasus. cara mainnya gini amat, cemen