Jangankan nyewa rumah dinas militer apalagi dipakai markas judol, masuk kompleks militer aja mesti lapor, diperiksa ketat.
Ojol mau kirim gofood dimonitor. Speedbump jarak tiap semeter.
Mbok yang cerdas kalau bikin alasan.
Rumah dinas TNI disewa oleh sipil.
Sipil mana yg berani nyewa, sekaligus menjadikan rumah tersebut untuk jadi markas judol?
Kita sebagai rakyat lagi dianggap bego atau gimana?
JANGAN BUNGKAM SUARA SUARA YANG MEMBUTUHKAN BANTUAN, JANGAN BUTA MELIHAT BESARNYA KOBARAN KOBARAN API,JANGAN PURA PURA TIDAK TAHU DISAAT BERITA INI SUDAH MERAJALELA!! SUARAKAN KAMI YANG BERADA DIKAWASAN KARHUTLA!!! JANGAN TERKECOH DENGAN ISU ISU LAIN!! KAMI BUTUH UDARA SEGAR KAMI BUTUH HIDUP YANG SEHAT !!!!
#prayforjambi! #prayforkalimantan!
Stop berpikir seolah Wowok dikibulin bawahannya, dikibulin laporan-laporan ya, seolah Wowok gak tau apa-apa! Dia tau, dia lambat, dia bodo amat dan dia JAHAT!
Jika putusan MK yg menyatakan ijazah SMA Gibran tidak ada, tak segera ditindaklanjuti oleh @DPR_RI ,saya meyakini apa yg dikatakan oleh Rocky Gerung "akan terjadi amuk massa" benar-benar akan terjadi.
Ini contoh permulaan:
Mak mak men swiping ijazah polisi.
Kau tamat apa masuk polisi?
SMA
Bukan surat yg disetarakan kan?
Bukan
🤣🤣🤣
Keadaan Taman Nasional Tanjung Puting per hari ini Sabtu 10 Oktober 2026🥹😭
Para relawan sudah kewalahan, berharap segera dapat bala bantuan dari pemerintah pusat 🥹
Segera turunkan hujan Mu ya Rabb 😭
...Ada fenomena aneh dari kubu Gibran.
Sejak putusan MK, gak ada 1 pun buzzeRp Gibran yg berani sentuh topik:
Suket "Grade 12" UTS Insearch
Padahal itu substansi utama ijazah Gibran.
100% buzzeRp Gibran geser topik ke MDIS.
Tapi fenomena tsb malah mengungkapkan 1 sisi kelam dunia pendidikan Singapore yg merupakan salah 1 yg terbaik di dunia.
MDIS yg jadi topik pembahasan panas saat ini ternyata ijazah dari sana gak diakui oleh pemerintah Singapore.
Gw aja baru tau yah sejak putusan MK akibat banyaknya netizen lulusan LN mengungkapkan itu.
Konsekuensi dari zaman informasi terbuka yah kita jadi banyak dapat info² dari berbagai sumber.
Yah singkatnya MDIS ini (istilah resmi adalah PEI) lebih ke "makelar" pendidikan aja. Dibiarkan pemerintah Singapore demi kepentingan narik devisa buat negara.
Pada praktiknya, sebagaimana paparan-temuan netizen² yakni bahwa lulusan SMP aja bisa studi di sana tanpa perlu ijazah SMA.
Yah abal-abal, kalo mau ambil simpelnya.
MDIS ibaratnya adalah jalan pintas bagi orang² yg gak lulus SMA reguler tapi pengen dapat ijazah S1. Dengan syarat yah harus punya uang banyak aja.
Dan keknya bukan cuma gw yg baru tahu fakta ini seandainya kasus ijazah Gibran gak pernah masuk MK.
Jadi sebenarnya para buzzer-pembela Gibran walaupun ngeskip substansi suket UTS Insearch dan geser ke MDIS juga gak nolong² banget.
Kenapa?
Karena sekarang makin banyak publik yg mengetahui bahwa MDIS itu pun problematik.
Justru topik MDIS ini bisa membuka babak baru investigasi:
Dokumen "setara SMA" apa kira² yg dipakai Gibran pada saat itu di MDIS agar bisa diterima oleh Bradford University (yg saat itu masih jadi afiliasi MDIS)?
Apakah karena praktik² "gelap" seperti itu makanya Bradford University saat ini gak lagi kerjasama dengan MDIS?
Pada akhirnya, metode Strawman Fallacy dari kubu Gibran yakni menggeser narasi topik dari Suket Grade 12 UTS Insearch ke topik ijazah MDIS tuh gak nolong² banget.
Kenapa narasi tsb masih laku?
Yah sekali lagi karna rata² IQ bangsa ini aja yg jeblok literasinya. Mereka memanfaatkan kelemahan fundamental bangsa ini soal literasi.
Mereka, kubu Gibran, paham bahwa cuma segelintir publik aja yg mudeng sama topik teknis-spesifik Suket Grade 12 UTS Insearch.
Mereka sadar publik lebih mudah memahami narasi retorika yg diucapkan Gibran:
"Kalo saya S1 ya kan gak mungkin gak lulus SMA"
Mayoritas rakyat yah bakal makan narasi simpel tsb walau kenyataannya itu adalah narasi sesat.
Sesat di mananya?
Yah hari² ini kan dah terungkap fakta bahwa lulusan SMP pun bisa kuliah di MDIS.
Awam rendah literasi pun bakal gak paham bahwa narasi (retorika) sesat yg diucapkan Gibran itu adalah hasil arahan konsultan PR mereka... (``,)
Semalam pas nobar Indonesia vs Thailand, beberapa kali kamera di sorot ke beliau dan selalu disorakin.
Hampir keseluruhan penonton di warkop nyorakin, ga sedikit juga yang maki-maki.
Ini bikin gue sadar, kalo citra beliau udah sangat-sangat buruk di mata masyarakat.
Asumsi gue pribadi, kebanyakan pendukungnya di sosmed-sosmed itu emang bayaran atau bisa dikatakan bot.
Tapi hati gue seneng sih semalam, berarti yang ngerasa beliau itu ga layak ternyata banyak banget di dunia nyata.