Terima kasih banyak, Kak Hariati! Karena sudah berkenan meluangkan waktunya untuk menjadi kontributor dan berbagi perspektif dengan kami, it’s been an honor for us. Semoga kita bisa berkolaborasi lagi di Chara Magazine edisi selanjutnya! ❤️
Diundang oleh @nadirazkr utk membuat tulisan di majalah Chara Magazine, di mana aku menuliskan pengalaman buruh perempuan "buruh lingkungan", sebuah divisi kerja terendah di 1 perkebunan sawit. https://t.co/enRg7Hz3io
🚨🚨DOSEN PEREMPUAN BEBANNYA DOBEL🚨🚨
Ada penelitian yang sangat serem banget, karena berani membongkar rahasia umum, yg tjd di dunia kampus. sebuah factos yg kerap disepelekan, padahal penting.
riset yang dilakukan oleh
Bu. @nabiylarisfa PhD, @kpertiwi29 PhD, Fitria H.O
Para penulis menjelaskan bahwa menjadi dosen perempuan di Indonesia itu tantangannya dobel. ya saya mengalami sendiri, S3 di @UINJKT kemarin sambil momong anak gadis ku. . . jujur capek banget. banyak Ya Allah... Ya Allah nya.
Perempuan, selain harus pintar secara akademik, mereka juga sering diberi beban kerja non akademik, yang melelahkan tapi tidak dianggap sebagai prestasi. Ini adalah pengingat penting bahwa sistem pendidikan kita masih punya utang besar dalam urusan keadilan bagi perempuan.
>>rangkuman riset ini, lebih lengkap nanti baca sendiri<<
🌱 Riset ini mengungkap bahwa dosen perempuan sering dikasih tugas-tugas administratif atau urusan "rumah tangga" kampus (seperti mengurus dokumen, rapat-rapat kecil, atau pelayanan) yang menyita waktu, tapi sayangnya tugas ini tidak membantu mereka naik pangkat atau jadi profesor.
🌱 Ada tekanan budaya bahwa perempuan harus jadi sosok yang "pengabdiannya" tanpa batas (seperti konsep Ibuisme). Akibatnya, saat diberi kerjaan lebih, mereka sulit menolak karena merasa itu sudah "kodrat" atau bentuk bakti, padahal itu sebenarnya beban kerja tambahan yang tidak adil.
🌱 Di zaman sekarang, kampus menuntut dosen untuk terus ngebut mengejar prestasi (mode neoliberal). Masalahnya, standar sukses ini hanya melihat hasil akhir (seperti jumlah jurnal), tanpa peduli bahwa dosen perempuan waktunya sudah habis duluan untuk mengurusi urusan birokrasi dan pengabdian yang tidak kelihatan tadi.
Jadi... minat jadi dosen ngak?
https://t.co/8jOs07GuZj
Prof. Norman Finkelstein: “I won't condemn H*mas. I refuse to do that because I don't believe they had any choice except to die as it were a slave. They tried everything. They really did. They realized that in order to survive they have to make some compromises and they did...”
Data menunjukkan laki2 rata2 lebih diuntungkan dr pernikahan dibanding perempuan, sementara risiko kekerasan & beban domestik lebih byk ditanggung perempuan. Jd pertanyaannya bukan “cewe bisa kasih apa”, if women can provide for themselves, what makes marriage worth it for them?
Fyi, Ormat Geothermal ini ditolak karena risiko destruksi ekologis & eksklusi partisipasi rakyat
Kini terbongkar proyek ini terhubung dengan ekonomi Israel
Bukan hanya mengisi kantong oligarki, rezim Prabowo juga mendanai mesin genosidal Zionis
"Clean energy, bloody profit"
pas banget lagi baca bukunya Vandana Shiva, aktivis pangan dan lingkungan India yg mengutuk keras industri agroteknologi.
dikasih contoh langsung dari negara sendiri 🥲
This is polyculture farming. It’s how Indigenous people engaged in agriculture for thousands of years. When Europeans came to Turtle Island, they looked at these meticulously tended lands and decided it was wild and uncultivated.
Putin issues a strong statement.
“Under what pretext did they attack Yugoslavia, Iraq, Syria, and Libya? Were there Security Council sanctions? No. They simply decided to do it and did it. That's all there is to international law.”
I teach the Venezuela case study, and there’s one thing people conveniently forget, so let me spell it out.
Sovereignty is not optional. It is the highest priority of any country whether it’s run by geniuses, clowns, or failed leaders.
If a country’s leadership is bad, that is for its people to change. History is very clear on this! When people unite, regimes fall. Unity, not foreign missiles, is the most powerful force a society has.
But here’s the part the “liberators” never tell you! When foreign forces parachute in claiming they’re here to “save” you, what follows is not freedom. It’s chaos, extraction, and decades of abusing resources.
Kidnapping presidents doesn’t create democracy!
Bombs don’t build institutions!
And sovereignty doesn’t survive “humanitarian invasions”!
Expect your resources quietly changing hands.
Open your fucking eyes.
Penjelasan yg terlalu disederhanakan ttg sawit dan alternatif sawit. Tentu saja reformis tidak akan sampe nalar utk membongkar relasi produksi yg mendasari ekspansi monokultur sawit, sehingga alternatif yg ditawarkan tetap berhenti di produktivitas. https://t.co/18n413KvBa
Takengon Saat Ini Butuh Kita.
Bencana yang terjadi di Desa Atu Gogob, Kecamatan Kute Panang, Takengon hingga kini belum sepenuhnya tersentuh bantuan.
Akses jalan yang terputus membuat distribusi logistik terhenti total.