Mari coba kita breakdown
• Jumlah SPPG saat ini ada sekitar ± 24.000
• Total per bulan: 24.000 × 1 M = Rp 24 triliun / bulan
• Total per tahun: Rp 24 T × 12 = Rp 288 triliun / tahun
Biaya Pembangunan Puskesmas
• Biaya Pembangunan Puskesmas dengan standar bangunan + alat dasar: ± Rp 5 – 10 miliar / unit
• Kalau pakai asumsi tengah: Rp 7,5 miliar/unit, maka Rp 288 triliun ÷ 7,5 miliar, maka:
Kita akan mampu membangun 38.400 Puskesmas! Wow
Tapi itukan andai, toh kita kan cuma prioritas pendukung aja 😭
Reza Pahlavi fell for a prank call from Russian comedians Vovan and Lexus, who pretended to be German officials - with one identifying himself as "Adolf" and dressed to resemble Adolf Hitler
Kita ini sadar nggak sih….?
Narasi yg dijual Trump ke Prabowo memang terdengar begitu manis dan penuh sanjungan, “Palestina butuh kehadiran Indonesia sebagai saudara muslim yg mereka percaya.” Namun jauh dari sorotan kamera pers, peta Gaza tidak ditandai dengan zona aman untuk pengungsi, melainkan zona penyangga strategis.
Israel walau tidak peduli, tapi lelah juga dengan kecaman global dari banyak negara yg mengutuk aksi kejahatan kemanusiaannya. Belum lagi ancaman serangan dari negara pendukung Palestina yg tak berkesudahan, mereka membutuhkan “tameng pelindung” baru.
Tembok beton bisa diledakkan, dan Iron Dome bisa ditembus, tetapi ada satu penghalang yg jauh lebih sulit untuk diserang oleh pejuang Palestina atau para sekutunya, yakni saudara muslim yg mendukung mereka sendiri.
Rencana itu bukanlah tentang memberdayakan tentara Indonesia sebagai Penjaga Perdamaian, melainkan menempatkan mereka sebagai pion di papan catur yg paling mematikan.
Mengingat watak Zionist Israel dan liciknya Trump, hampir dapat dipastikan posisi-posisi pos penjagaan Indonesia tidak akan dirancang untuk melindungi warga sipil Gaza, melainkan diletakkan secara presisi mengelilingi titik-titik operasi klandestin Israel.
Ini adalah jebakan psikologis yg sempurna. Ketika unit-unit khusus Israel melancarkan serangan “bersih-bersih” atau provokasi senyap dari balik garis pertahanan koalisi, setiap balasan roket atau serbuan dari faksi perlawanan Palestina akan dipaksa melewati pos penjagaan Indonesia terlebih dahulu.
Dilema itu dirancang untuk mencekik para pejuang Palestina. Menembak berarti membunuh tentara dari negara sahabat yg selama ini mendukung mereka (sebuah bunuh diri diplomatik yg akan mengucilkan Palestina dari pendukung terbesarnya). Namun jika tidak membalas berarti membiarkan Israel menyerang tanpa hukuman dari balik punggung “Garuda” yg tidak sadar sedang diperdaya.
Bagi Trump di Gedung Putih, ini adalah kemenangan mutlak. Jika tentara Indonesia gugur terkena serangan balasan, narasi global akan bergeser, “Lihat, teroris bahkan membunuh penjaga perdamaian Muslim”, tapi jika serangan balasan terhenti karena keraguan, Israel bebas beroperasi, menembaki penduduk sipil, bahkan wanita dan anak-anak.
Tentara kita tidak dikirim untuk menjadi wasit. Dalam skenario gelap ini, besar kemungkinan mereka dikirim untuk menjadi tameng hidup. Daging dan darah yg dipaksa berdiri di antara pelatuk dan sasaran, sementara dalang sesungguhnya tersenyum aman dari kejauhan, terlindungi oleh “niat baik”yg palsu.
Sejatinya Trump ini mewakili wajah moyang kulit putih Amerika yg dulu membantai penduduk asli negara yg kini dipimpinnya itu. Ia kembar identik non biologis Netanyahu.
Mempercayai apa yg keluar dari mulut keduanya persis seperti mempercayai Iblis dengan Da’jal, yg satu tegas menyatakan akan menjadikan penduduk Palestina terbakar api genosida, dan yg satunya berpura-pura menjadi sahabat agar mudah menikam bangsa Palestina dan para pendukungnya dari belakang.
Aneh dan bodohnya, kok kita dengan begitu na’if menyumbangkan uang dan nyawa tentara sendiri pada keduanya.
kalo mau protes nih orang jangan cuma di twitter, karena mayoritas di sini emang udah pada gedeg
cobain di semua platform lalu rasakan sensasi replyan dan balasannya di DM 👍
@Mythicalforest Rakyat kita terlalu baik. Jika disakiti, hanya butuh 2-3 bulan kedepan, mrk sudah lupa dan tidak ada masalah lagi.
Masalah kita, pejabat justru memanfaatkan kebaikan rakyat utk menipu mereka. Dan itu berjalan secara terus menerus tanpa disadari oleh mayoritas rakyat kita.
@irularr_@prabowo Itu liriknya sudah bener, "pemimpin rakyatnya" gak pake koma. Jd maksudnya yg makmur itu pemimpinnya, bkn rakyatnya. Alias pemerintah dzolim.
@RayvalAbdi@ConcacafID Ya itu juga pengaruh dari pendahulu kita saat masa revolusi, dan pasca kemerdekaan. seharusnya bisa di adaptasi yang bagus2 dan di implementasi ke Indo, tapi nyatanya mereka Anti-Londo