Gini guys, apa yang kita dapat ini bukan taken for granted. Bukan serta merta ada.
- Alhamdulillah tata kelola MBG dievaluasi total selama liburan sekolah, setelah korupsinya terbongkar dan protes-protes tata kelola dari awal program ini
- Pemerintah anggarkan revitalisasi 71ribu sekolah karena kita protes terus kenapa gak dapur MBG lebih bagus dari sekolah. Prioritas harusnya perbaikan sekolah dulu.
- IHSG hijau, Rupiah menguat karena kita konsisten menujukan kekhawatiran kita terhadap situasi dan potensi krisis. Akhirnya banyak intervensi2 moneter dan fiskal, termasuk perbaikan komunikasi publik.
Capaian ini bukan hadir karena kita diam, tapi konsisten BERISIK.
Ada ribuan mahasiswa yang berdemo, guru-guru berteriak, sampai netizen kayak kita yang konsisten menyuarakan keresahan.
Resah itu hak kita sebagai pembayar pajak.
Ingat, Pemerintahan bekerja itu BARE MINIMUM. Kalau butuh diapreasiasi; ya lewat pajak yang kita bayarkan.
setelah kejadian ini
-para pembicara masih jd pejabat pemerintah
-justru dapat screen time lbh banyak krn diwawancara media nasional
-TotalPolitik masih bisa ngonten di youtube dgn segala 'hot takes'nya
tapi, mahasiswa2 yg naik panggung, diprofiling mukanya & hidupnya dipersulit
Saya dan keluarga disurveilance dan dikuntit. Tiyo juga sama. Uda Feri dan keluarganya didoksing. Prof Uceng diteror digital. Prof Saiful di rumah dan kantornya ditongkrongin OTK. Kami juga telah dilaporkan ke polisi. Apa cara begitu yg dibilang lebih mengutamakan diskusi?
Lucu komen arek2 ini menyalahkan aktivis mahasiswa UGM yang mengusir pejabat pemerintah Budiman, Nusron, dkk dari UGM.
Kalian coba tanya Budiman, dulu saat jadi aktvis berapa sering mendemo, mengusir pejabat yang mau "dialog" ke kampus UGM? Tanya juga itu Jumhur, enaknya lantai penjara, akibat mendemo, menolak kehadiran Rudini di Ganesha 10 ITB, yang katanya mau dialog.
Yang pernah jadi aktivis mahasiswa pasti tahu, bahwa mendemo, dan "mengusir" pejabat dari kampus ini adalah salah satu pesan kuat, bahwa mahasiswa tidak bisa dan tidak mau dikibuli lagi dengan retorika2 yang diucapkan pejabat pemerintah.
--------------
Pejabat pemerintah itu adalah orang yang berkuasa. Dengan kekuasaannya mereka bisa membuat kebijakan. Juga dengan kekuasaannya mereka bisa mengkoreksi kebijakan.
Pertanyaannya, apakah saat membuat kebijakan mereka berdialog, dan berdikusi dengan publik, dengan mahasiswa?
MBG, KDMP, misal, apakah menyerap aspirasi publik? Apakah menaikan BBM Pertamax itu pernah menjaring masukan dari publik yang akan terdampak, terutama kelas menengah rentan? Apakah menurunkan batas syarat penghasilan di persyaratan KIPK menjadi di bawah UMP, pernah serap aspirasi publik?
Tidak ada toh? Semua pemerintah jalankan dengan suka-suka, lewat kekuasaan yang ada pada pemerintah.
Sekarang, setelah banyak bukti, terjadi penyimpangan baik MBG maupun KDMP, apakah pejabat pemerintah seperti Budiman dkk itu murni datang ke UGM untuk cari masukan ke Mahasiswa untuk mengkoreksi kebijakan pemerintah?
Kan ndak, mereka datang ---seperti juga pejabat Era Orba yang dulu diusir Budiman dari UGM, justru semata-mata untuk tetap keukeh bahwa program dan kebijakan pemerintah di jalan yang benar.
Buat kebijakan suka-suka, saat salah tidak minta maaf ke rakyat, malah datang ke kampus untuk retorika membenarkan kebijakan yang salah. Ya wajar diusir.
Jika datang untuk mengakui salah, dengan niat mencari masukan untuk perbaikan kebijakan, mungkin bisa jadi diterima oleh Mahasiswa. Tapi wong jelas koq di panggung hanya duduk 3 pejabat dengan retorika pembelaan dirinya, tanpa ada niat mencari masukan.
Ya, sudah benar itu adik2 mahasiswa UGM mengusir kalian, Datang pun ke ITS, saya akan dukung jika adik2 saya juga mengusir kalian. Sudah mirip pejabat era Orba kelakuannya, menganggap mahasiswa bisa dikadali dengan retorika pembangunan.
Terakhir, sebelum terlambat, sudah saatnya pemerintah mengevaluasi diri. Ini era yang jauh lebih terbuka dan mudah mendapatkan informasi dibanding era Orba. Kabar cepat menjalar, secepat jari-jari warganet diatas layat gadgetnya.
Pemerintah itu bekerja untuk rakyat, bukan untuk kekuasaannya semata. Bukan untuk bertahta, dan berbuat suka-suka dengan kekuasaannya.
Salam
FK
Kontestasi terbuka adalah inti demokrasi
Kita bedah acara ini,
Penyelenggaranya Total Politik yg kita sama-sama mafhum sudah menjadi corong rezim.
Temanya normatif, isi pembicaraan di forumnya puja puji rezim.
Pembicaranya Budiman, Nusron dan Sudaryono.
Dua aktivis satu kader Prabowo.
Lokasi di GIK, sentra kegiatan mahasiswa UGM, di waktu lagi panas kritik dari gerakan mahasiswa, selang sehari saja dari aksi Gejayan.
Sudah jelas dari awal tujuannya adalah ‘menantang’ di base lawan.
Jadi jangan bawa-bawa narasi kenapa gak dialog di forum yg staged gitu. Ini namanya deliberative window dressing atau manipulasi dialog.
Tujuannya dari awal memang bukan buat dialog. Tapi buat framing UGM ditaklukkan.
“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
Akhirnya nemu jg
Kata2 mutiara mahasiswa ini yg membuat Budiman Sudjatmiko mengeluarkan watak aslinya 👍🏻
Semua yg disampaikan bener banget tuh...
Makanya Budiman jd kepanasan kek cacing dijemur..
Woiiii gosah kerahkan buzzer jg
Hadapi mahasiswa noh!!
Gosah ngomongin munafik, Sama kek ngludahin muka sendiri
Gosah bahas idealnya negara
Idup loe aja tuh idealin
Ngacaa dulu
Klo ga mampu beli kaca, biar kami kumpulkan koin 😏
🚨 UGM MELAWAAANNN!!! 🔥🔥
Diskusi yang berlangsung pada Senin, 15 Juni 2026 dalam acara 'Kopdar Bareng Mas Dar' berakhir ricuh.
Budiman Sudjatmiko yang selalu menyebut dirinya sebagai aktivis gerakan reformasi '98 adalah pengkhianat reformasi itu sendiri...
Mereka yang bertanggung jawab atas carut marutnya negara ini tergabung dalam SPPG (Satuan Penjilat Prabowo Gibran)
TETAP KAWAL DAN MELAWAN DEMI RAKYAT... 🔥🔥🔥
TERIMA KASIH TEMAN-TEMAN UGM ✊🏻🔥
patut diakui, editor Bloomberg KEREN banget ngett ngett !!!!!
visualisasi perbandingan GDP beberapa negara di S.E.A tahun 2025 pake motif kain batik gini
ada juga visualisasi Pelemahan Nilai Rupiah juga pake pewayangan gini; ini kreatif banget.
Bloomberg tahu bagaimana bercerita tapi pendengar/audiensnya adalah masyarakat Global dengan identitas Universal.
Bahkan ketika berbicara tentang PILIHAN TAK SEHAT, dia menganalogikan ini semua dengan GORENGAN yang terlihat nikmat namun sesungguhnya unhealthy.
🙂
gua yakin banyak anak UI yg demo kemarin pun mungkin dari kalangan yang berada, cuma mereka peduli ke mereka yg pas pasan, tapi masih kena framing dibayar sama orang yang mungkin justru mereka perjuangin. kurang miris apa coba
KAYAKNYA BARU PEMERINTAHAN PRABOWO,
AJANG MARATHON JADI DEMONSTRASI YANG KEREN, BEBERAPA NOTES NYA :
- RUN BETTER THAN THE GOVERNMENT RUNS THE COUNTRY
- SORRY YEE, MY PACE IS MORE STABLE THAN THE RUPIAH
- YOUR HEART RATE IS STILL LOWER THAN USD $$$$$
- LARI LO LEBIH KUAT DARIPADA RUPIAH
- LARI YANG BENER! KITA DIKEJAR PAJAK!!
- RUN FASTER IF U WANT TO BE RICH
- YAKIN MAU STOP? PRBW* AJA NYALON 5X
- 10 + 6 = 21 KM
- Running 21.1 KM is hard, but being a WNI is harder.
- Cukup media yang dibungkam, jangan sampai kita diam!
- Pace turun masih mending, rupiah jangan.
- Yang dikejar PB, yang nyusul harga-harga.
- Lari 21K lebih gampang daripada cari kerja.
- Kalau capek istirahat, kalau rakyat capek gimana?
- Keep running before the dollar does.
- Naikkan pace, turunkan harga.
- Kaki kuat, dompet belum tentu.
- Lari demi kesehatan, bukan demi efisiensi.
- Personal best naik, daya beli turun.
- Finisher medal > janji kampanye.
- Lari pagi, lihat kurs rupiah, cardio lagi.
- Pajak mengejar, kami berlari.
- My pace is faster than government reform.
- Strong legs, weak rupiah.
- Ga bisa menangani bencana Sumatra? Dibelain.
- Keluar negeri terus? Dibelain.
- Kurban pakai APBN? Dibelain.
- Rupiah melemah? Dibelain.
- BBM naik? Dibelain.
- Harga kebutuhan pokok naik? Dibelain.
- PHK massal terjadi? Dibelain.
- Daya beli masyarakat turun? Dibelain.
- Utang negara bertambah? Dibelain.
- Pajak dinaikkan? Dibelain.
- Defisit melebar? Dibelain.
- IHSG anjlok? Dibelain.
- Lapangan kerja seret? Dibelain.
- Investasi mandek? Dibelain.
- Harga beras naik? Dibelain.
- Harga listrik naik? Dibelain.
- Program kontroversial jalan terus? Dibelain.
- Pejabat bikin pernyataan blunder? Dibelain.
- Kritik publik diabaikan? Dibelain.
- Demonstrasi mahasiswa diremehkan? Dibelain.
- Janji kampanye belum terealisasi? Dibelain.
- Menteri bermasalah dipertahankan? Dibelain.
- Kabinet gemuk? Dibelain.
- Anggaran membengkak? Dibelain.
- Kepercayaan pasar turun? Dibelain.
- Rating pemerintah turun? Dibelain.
- Apa pun yang terjadi: Dibelain.
Siapa pun yang mengkritik:
Disalahin.
Sesuci itu kah sosok yg pernah ada ISU HAM ini di mata kalian?
Jangan nyinyir sama pendemo.
THR, upah minimum, hak lembur, sampai Reformasi 1998 yang membuka jalan demokrasi hari ini. Semuanya lahir dari orang-orang yang berani bersuara dan turun ke jalan.
Whattt? Lu serius? Gw mau nanggepi, tapi maaf kalo panjang karena masalahnya emang panjang. Yg baca ini tolong sebarkan kalo setuju, kalo gak setuju silahkan di debat yg sehat
IHSG membaik? Saat dilantik IHSG di level 7,600 sedang sekarang di lebel 6.000-5.400. Iya memang skrng lagi naik, tapi liat dulu trend kedepan
Rupiah menguat? Whatt? Saat dilantik rupiah masih di angka 15.600 jadi kalo skrng dibilang naik ya enggak
Belum lagi soal UU polri yg di sahkan kemarin. Tau gak kalo sebelumnya MK menolak UU polri dan meminta polri yg menduduki jabatan sipil untuk mundur dari polri. Kok kemarin disahkan? melawan MK dong? Padahal MK itu mahkamah konstitusi, urusan MK bukan hukum tapi konstitusi, beda ya hukum sama konstitusi. Kalo konstitusi terus ditabrak gimana nasib negara kedepan? Padahal konstitusi itu syariat negara, semua harus taat termasuk presiden sekalipun.