kadang gue pengen banget ngebantah dan ngeluarin unek-unek dari setiap hal yang gue temui di hidup gue kek:
"hah???"
"lah kocak ngawur amat"
"make nih orang kalau ngomong"
"nih orang nyimeng jir"
"kosong nih orang"
tapi endingnya gue cuma bisa bilang "ooo,, yayayaa, spakat,,. stuju bgt,,, sip,,, siap ndan" karena males drama🤣
almost cried in the office reading this… the anime profile picture, the joking tone, kinda reminds me that this could may as well be one of my friends :(
inalillahi wa inailaihi rajiun, i may not know who you are but please rest well kak sal
i've tried using Opus 5 in Indonesian because it sounded friendlier than prompting in English, tapi lama-lama ngelunjak ya anjig balik lg tone condescending, sombong, dan sotoynya ini mulai keterlaluan
I think the current gap comes down to training.
Engineers are taught to automate things. Business owners, directors, and managers learn to delegate.
But the vast majority of the population haven’t developed that muscle. If anything, they’ve been trained to tolerate mundane tasks.
These days if I ever do a repeated task, my first thought is how to I automate it using AI – everything from booking fitness classes to looking at flight redemptions.
All I want to do is free up more time for needle-moving tasks or fun during non-work hours where I’d never want to automate myself out of like playing board games or messaging and chatting with family and friends.
I don’t think it’s that most people don’t care, they’re just not aware yet of what kind of lifestyle is possible.
That jump might take some time for most people.
But once setting up an agent becomes so ridiculously easy and the barrier to entry is close to zero, my hunch is that adoption will quickly explode.
A side note on this topic: I think there’s going to be a period of imbalance where people automate too much.
So much of this is about judgement and knowing what to and what not to automate.
Again, that’s a muscle that needs developing.
Gw kuliah sebuah mapel unik namanya "Rising China in the Globalized World". Yang ngajar orang Singapore
Disitu dibuka semua trik2 PRC soal diplomasi, politik, ekonomi, dll. Bahkan di pertemuan pertama, dia wanti2
"Kalian chinese? Kalau ga bisa bicara bebas dan kritik pemerintah kalian, saya persilahkan untuk cari mapel pengganti"
Setengah chinese ga balik di minggu kedua.
Di salah satu diskusi kita, dia underline kalau manuver2 diplomasi china sampe ngasih pinjaman murah itu bukan buat nguasai negara lain kek US lakuin, tapi disiapkan jadi pasar PRC karena mereka overcapacity. Mereka gabisa bikin demand dalam negeri buat bisa mencukupi kapasitas mereka ya akhirnya kudu "memaksa" negara2 lain untuk nyiptain demand buat mereka.
Contoh paling deket adalah pembangunan PLTU produk china selalu memberikan pinjaman jauh lebih murah drpd Jepang dengan tenor yg lebih panjang
Dan juga dalam klausulnya selalu budling ama segala raw material dan manufaktur didatangkan dari china
Ini salah satu cara buat create the demand itu tadi. Kalo demand ga ada, maka pabrik2 bakal berhenti produksi dan PHK dimana2, akhirnya legitimasi pemerintahan jatuh dan bisa saja yg paling ditakutkan terjadi
Kekuasaan komunis China jatuh