Hari ini Negara kita genap berusia 81 tahun.
Usia yang panjang untuk sebuah negara yang lahir dari darah, air mata, dan doa para pendahulu.
Jika Indonesia adalah pasien, maka hari ini datang dengan gejala dan tanda fisik yang semua bisa lihat.
Monitor Tanda tanda vital Pancasila sebagai pondasi bangsa, alarmnya menyala semua.
Sila Pertama merintih karena banyak yang tidak takut Tuhan, Korupsi, Judi, Keserakahan dan semua nafsu duniawi laranganNya, dilakukan dengan santainya.
Sila Kedua merintih karena masih banyak yang kehilangan Adab, caci maki, menghina sesama, dan mudah merendahkan martabat orang lain.
Sila Ketiga merintih karena Persatuan sering dikalahkan oleh ambisi, kelompok, dan identitas.
Sila Keempat merintih karena hikmat kebijaksanaan dan musyawarah telah bergeser jadi Adu Kuasa dan transaksi kepentingan.
Sila Kelima merintih karena Keadilan masih terasa sangat amat jauuh, jurang penghasilan dan kekayaan makin dalam dan nyata, yang kuat makin berkuasa dan terasa makin tidak peduli.
Diagnosis sebuah bangsa yang tampak besar di luar, menyimpan penyakit di dalam.
Luka yang dibiarkan akan bernanah,
luka yang diabaikan pasti melemahkan tubuh bangsa.
Tapi Sebagaimana Dokter menatap pasiennya, selain penyakit. Saya juga melihat harapan kesembuhan.
Indonesia masih punya DENYUT NADI.
Dan Nadinya sangat kuat.
Masih banyak anak muda yang CERDAS dan JUJUR, masih banyak yang tulus mengajar generasi penerus dengan hati, masih banyak Ibu yang berjuang setengah mati untuk pendidikan anak-anaknya, masih banyak petani yang setia menanam, masih banyak rakyat yang berjuang tulus.
Rasanya tinggal perlu membangkitkan keinginan ingin sembuh. Tapi itu baru bisa setelah menyadari kita sakit.
Tarik nafas dalam lalu sadari, kita perlu kembali belajar takut kepada Tuhan, kembali Beradab, kembali menegakkan Persatuan, kembali Bermusyawarah dengan Tulus, kembali memperjuangkan Keadilan bagi semua anak bangsa.
Indonesia telah melewati Perang, Krisis, Bencana, dan berkali-kali bangkit dari keterpurukan.
Sehingga saya yakin, Indonesia juga mampu sembuh dari sakitnya hari ini.
Usia delapan puluh satu tahun adalah panggilan untuk menjadi Bangsa yang matang, lebih bijak, lebih kuat.
Hari Merdeka adalah hari yang tepat untuk kita berani jujur pada penyakit.
Indonesia akan sembuh.
Indonesia akan bangkit.
Indonesia akan kembali berdiri tegak, menjadi Rumah yang membanggakan bagi anak cucu kita.
Saya mencintai Negeri ini sepenuh hati.
Merah darahku,
Putih tulangku.
Dirgahayu Republik Indonesia.🇮🇩
Buat guru nih, bentar jangan sebutin pengen gaji 30jt/bulan dulu. Sekarang fokus ke kebutuhan murid, lebih pilih perbaikan sarana prasarana atau tersedianya makanan?
Muridku ada yg pulang-pergi jalan kaki menyusuri lembah dan bukit. Iya kan saya ngajar di lereng gunung ya beb. Ternyata murid rekan saya di lereng gunung lain juga gitu, mereka malah rombongan gitu jalan kaki pulang-pergi. Seikhlas itu berangkat sekolah untuk mencari ilmu.
Gila ya, anak kayak mereka ini kalo udah dateng ke sekolah tuh harusnya disambut dengan gedung sekolah yang mentereng lengkap dengan lab sains, lab komputer, musholla, perpus, lapangan olahraga, ruang kelas, dan sarana prasana lainnya. Anak di lereng gunung ini sangat layak mendapatkan fasilitas belajar yang premium. Tapi yang mereka dapatkan selama ini adalah gedung sekolah biasa dan keropos sana-sini karena bantuan operasional sekolah gak cukup.
Jadi dana BOSP itu diberikan dengan asas equality, dihitung berdasarkan jumlah murid dalam satu sekolah. Otomatis, sekolah yang muridnya besar akan dapat dana yang besar. Sebaliknya sekolah kecil dananya ya segitu-segitu aja. Sekolah kecil di lereng gunung? Wow jangankan bisa merasakan fasilitas belajar yang baik, bisa bertahan saja sudah bagus.
Bukannya dana ini harus berdasarkan asas equity ya? Dimana setiap sekolah mendapatkan support yang sama effortnya untuk mencapai level yang sama. Kalau gak pake asas equity, sampai kapan pun pemerataan kualitas pendidikan ya mustahil terlaksana.
Ada benda paling menakjubkan di alam semesta yang tersembunyi di balik tengkorak kita.
Beratnya hanya sekitar satu setengah kilogram, lunak bagai Tofu, namun darinya lahir cinta, logika, puisi, dan seluruh peradaban manusia.
Otak.
Paduan tiga unsur sederhana, air, lemak, dan protein, dalam harmoni yang tidak mampu diciptakan mesin mana pun.
Dari kombinasi itu lahir kemampuan kita untuk berpikir, mengenang, mencipta, dan merasakan keindahan.
Organ ini bekerja tanpa pernah melihat dunia yang ia tafsirkan bagi kita. Ia tidak tahu warna langit, tidak mendengar gemericik air, tidak merasakan angin di kulit.
Dari aliran listrik kecil di dalamnya lahirlah seluruh realitas yang kita alami setiap hari.
Otak menjadi jendela menuju semesta sekaligus cermin dari Penciptanya.
Setiap detik ia mengolah lebih banyak informasi daripada teleskop raksasa di luar angkasa. Di dalam bagian korteks sebesar pasir tersimpan dua ribu terabyte kemungkinan, cukup untuk menampung seluruh film yang pernah dibuat.
Bayangkan betapa agung rancangan ini.
Di sanalah kemuliaan atau kekejaman manusia bersemayam. Organ yang membuat kita sadar bahwa kita hidup.
Teman-teman, rawatlah otak kita sebagaimana kita merawat jiwa.
Tidurlah cukup agar ia pulih.
Bergeraklah agar darah mengalir ke setiap selnya.
Berilah ia nutrisi dan ilmu agar terus tumbuh.
Gunakanlah ia untuk berpikir baik, berbuat baik, dan memahami hidup dengan lebih bijak.
Karena di balik setiap ingatan, setiap ide, dan setiap rasa syukur yang muncul dalam diri, ada berkah dan karuniaNya.
Agar kita hidup dengan kesadaran dan penuh kasih.
Teraturnya dunia adalah bergantung pada penduduknya, dan penduduk itu terkumpul dari pada rakyat, sedang teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap para elit pimpinan yang adil.
- Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari -
Cinta yang Tak Berlalu Meski Ramadan Pergi
“Tuhan yang kamu sembah di bulan Ramadan itu sama dengan Tuhan yang kamu sembah di luar bulan Ramadan. Lantas, mengapa caramu beribadah berbeda?” — Rumi
Pertanyaan ini menghantam pelan tapi dalam. Mengapa saat Ramadan datang, hati kita terasa hidup, sajadah tak pernah kosong, dan malam-malam menjadi taman rindu? Tapi ketika Ramadan berlalu, gairah itu ikut surut. Padahal Tuhan tak pernah pergi. Tak berubah. Tak berpaling.
Pertemuan dengan Ramadan membuat hidup lebih jernih. Waktu terasa suci, dan dada dipenuhi harap ampunan. Tapi perpisahan dengannya seolah mengembalikan kita pada dunia lama—tempat di mana doa-doa sering tertinggal dan hati kembali beku. Padahal Tuhan yang kita sembah sebelum dan sesudah Ramadan tetap sama. Lantas, kenapa cinta kita berbeda?
Mungkin inilah ujian cinta sejati. Pecinta tak menunggu momen, tapi menciptakan momen. Ia mencinta dalam hadir dan dalam jarak. Tak peduli musim. Tak peduli waktu. Karena yang dicinta tetap satu, tak berubah dan tak bergeser. Cinta itu menetap, bukan sekadar singgah.
Malam ini—malam ke-29—mungkin adalah malam ganjil terakhir. Mungkin pula malam perpisahan. Tapi jika ini perpisahan, biarlah ia jadi luka yang indah—luka karena takut tak mampu menjaga cahaya yang telah dinyalakan Ramadan.
Kalau ini benar malam terakhir, biarlah ia menjadi malam janji. Bahwa selepas Ramadan pun, kita tetap mencintai Tuhan yang sama, dengan rindu yang sama. Karena cinta sejati tak mengenal akhir. Ia bukan singgah sesaat saat kita butuh atau nyaman. Ia bukan ritual musiman yang on - off. Tapi ikatan jiwa yang tak lepas, relasi yang hidup sepanjang usia. Dan semoga, sepanjang usia itu, kita tetap bersama-Nya—dalam perjumpaan, juga dalam perpisahan dengan Ramadan.
Mungkin ini malam ganjil terakhir kita.
Mungkin ini Ramadan terakhir dalam hidup kita.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Kalau impiannya tinggi, solatnya jangan nanti-nanti
kalau impiannya lebih dari satu, solatnya jangan di akhir waktu
kalau impiannya mahal, sholatnya jangan ditinggal
Kalian pernah ga sih penasaran gimana di balik layar anak yg langganan dpt medali emas olimpiade matematika?
Pas nemenin anak ikut lomba, gue ngobrol dgn ortu yang anaknya sering menang. Dan ternyata, ada hal-hal mengejutkan di balik prestasi itu! 😱✨
A thread buat parents 👉🏻