Waktu bahas Wisma Dharmala kemarin, banyak yang nyeletuk hal yang sama di komen:
Gedung Sampoerna di seberangnya konon sampai masang puluhan cermin, buat mantulin balik "energi negatif" dari sudut-sudut lancip Dharmala.
Dalam feng shui, sudut lancip itu disebut SHA CHI, panah beracun yang nembakin energi buruk ke sekelilingnya.
Dan perang feng shui antar gedung kayak gini bukan cuma terjadi di Jakarta aja.
Kisah paling uniknya bisa kita temukan di Hong Kong:
Ada gedung bank yang sampai ngarahin "meriam" ke bank komeptitornya.
Yuk simak kisahnya lewat sudut pandang kami sebagai arsitek!
A thread 🧵 by Narasi Visual
@prayoganym secara sistem kurang adil sih kalo perumpamaan di atas, soalnya fb sama ig dulu kan platform terpisah, banyak orang pertama buat akun fb terus bikin di ig dengan usn yang berbeda
WA finally ngasih kita privilege buat ga sebar nomor HP ke semua orang 🤩
Sekarang ada fitur "Nama Pengguna" + "Kunci" 4 digit. Kalau mau chat orang baru tinggal modal username aja sehingga nomor HP aman terkendali.
Plus twistnya: ada KUNCI. Jadi walau orang udah tau username kamu, mereka tetep harus tau kode rahasianya juga baru bisa chat.
Enaknya:
🔐 nomor HP gak bocor ke orang random
🔐 bisa filter siapa aja yang boleh nyapa duluan
🔐 cocok buat yang suka kasih kontak ke grup komunitas/ortu murid tapi males dikepoin
🔐 bisa samain sama username IG/FB biar identitas digital konsisten
⚠️ Kekurangannya:
• Username harus sama persis di seluruh ekosistem Meta (kalau udah dipake orang lain di IG/FB, gak bisa dipake di WA)
• Gak ada direktori pencarian, jadi orang harus tau username kamu duluan
• Fiturnya masih digulirkan bertahap, belum semua orang kebagian
• Nomor HP tetap wajib buat daftar awal, cuma "disembunyikan" doang dari orang yang belum simpen kontak
Belum tau kapan resmi rilis global, tapi udah bisa reservasi nama dari sekarang lewat Settings > Akun > Nama Pengguna.
#UpdateWA
Sahabat gue baru dapet warisan rumah senilai 850 juta. Langsung gas ke notaris buat balik nama sertifikat.
Notaris bilang santai: "Siapin 14 juta aja, Pak. Semua beres, termasuk pajak & BPN."
Sahabat gue bayar tanpa mikir dua kali.
2 bulan kemudian, tetangganya cerita santai: "Gue urus sendiri ke BPN, total cuma 300 ribu!"
Selisihnya 13,7 juta. Gaji 3 bulan lenyap begitu aja. Sahabat gue langsung nyesel berat.
“HIV ITU HOAX. AIDS ITU AKIBAT MINUM ARV.”
Saya mau cerita tentang sesuatu yang saya lihat dengan mata kepala sendiri.
Seorang abdi negara datang dengan tubuh kurus dan ceking.
Dia memakai jaket, topi, masker—seluruh tubuhnya tertutup rapat.
Saat masuk ruang perawatan, perlahan dia membuka semuanya.
Baru saya mengerti apa yang selama ini dia sembunyikan.
Seluruh tubuhnya melepuh.
Dari kepala sampai ujung kaki kulitnya terkelupas.
Luka di mana-mana. Nyeri. Gatal.
Mulutnya penuh luka dan jamur.
Jangan tanya apakah dia bisa makan.
Tentu hampir tidak bisa.
Dia juga diare, batuk, lemah sekali—gambaran yang sering kami lihat pada pasien dengan HIV stadium lanjut yang imunitasnya sudah jatuh.
Setelah keluar dari perawatan, kami belum langsung mulai ARV.
Kami stabilkan dulu kondisinya.
Saya berikan Cotrimoxazole selama 2 minggu untuk mengobati infeksi oportunistik, plus obat jamur dan terapi untuk keluhan kulitnya.
Dua minggu kemudian, dia datang kontrol.
Saya lihat perubahan.
Luka-luka di tubuhnya mulai mengering.
Mulutnya jauh membaik.
Dia sudah mulai bisa makan.
Berat badannya naik 1 kg.
Keluhan yang dulu menyiksa perlahan berkurang.
Saya ikut senang melihatnya.
Lalu kami mulai ARV.
Sebulan kemudian dia datang lagi.
Kali ini… tanpa masker.
Wajahnya bersih.
Matanya hidup.
Tubuhnya tegap.
Ternyata dia pria yang sangat gagah—tinggi, berwibawa.
Memang masih ada bekas luka di sana-sini.
Tapi dia sudah sangat berbeda.
Jadi ketika ada orang yang belum pernah merawat pasien HIV, belum pernah melihat pasien sekarat karena infeksi oportunistik, lalu datang mengajari saya bahwa:
“HIV itu ilusi.”
“ARV yang bikin AIDS.”
Maaf.
Saya tidak bisa menukar ratusan bukti nyata dengan teori konspirasi dari internet.
Saya sudah melihat terlalu banyak nyawa tertolong oleh Antiretroviral therapy.
Saya melihat orang yang tadinya tidak bisa makan… kembali makan.
Yang tadinya tinggal tulang… kembali berisi.
Yang tadinya menunggu ajal… kembali bekerja, merawat keluarga, dan hidup normal.
Opini boleh.
Curiga boleh.
Bertanya juga boleh.
Tapi jangan sampai ketidaktahuan membuat kita menyesatkan orang lain.
Karena satu postingan yang salah…
bisa membuat seseorang menolak pengobatan.
Dan pada HIV, menunda terapi bisa berarti kehilangan nyawa.
Ilmu kedokteran bukan dibangun dari omong kosong atau copy-paste status.
Ilmu dibangun dari penelitian, data, dan bukti nyata pada manusia.
Dan saya sudah melihat buktinya sendiri
“Kalian melihat teori di layar.
Kami melihat pasien di depan mata.
Kalian membaca rumor.
Kami menyaksikan siapa yang hidup… dan siapa yang meninggal.”
Pernyataan dari Dr. @Febelin Idjie ElsaMom
JUST IN: KORBAN KEEMPAT LATSARMIL KDMP 🚨🚨
Satu lagi peserta Latsarmil KDMP dilaporkan meninggal dunia. Korban atas nama Alm. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, peserta dari Satdik 13 Yon Parako 465, Lanud Halim Perdanakusuma.
Almarhum merupakan alumni Program Studi Teknik Elektro UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jawa Barat.
Dengan terus bertambahnya korban jiwa, sudah sepatutnya kegiatan Latsarmil KDMP dievaluasi secara menyeluruh. Hentikan dan lakukan audit independen terhadap seluruh rangkaian kegiatan yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan tugas maupun kepengurusan koperasi!
Tiga peserta Latsarmil KDMP yang meninggal dunia. Pergi sehat, pulang tinggal nama 💔🥀
1. Anisa Muyassaroh, alumni Fisika Universitas Airlangga, meninggal pada 18 Juni 2026.
2. Yonanda Muhammad Taufiq, alumni Manajemen Universitas Bung Hatta, meninggal pada 19 Juni 2026.
3. Novia Rahmadhani Sihotang, alumni Hukum Ekonomi Syariah UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan, meninggal pada 23 Juni 2026.
Mereka adalah anak-anak muda terdidik yang telah menempuh pendidikan tinggi, lulus dengan harapan, lalu berjuang mencari pekerjaan dan masa depan yang lebih baik di negeri yang katanya besar ini.
Kini yang tersisa hanyalah nama, kenangan, dan cita-cita yang tak sempat diwujudkan. Di balik setiap korban, ada keluarga yang kehilangan anak, saudara, dan harapan. Jangan sampai mereka bertiga hanya berlalu sebagai angka dalam kertas laporan.
Selamat jalan adik-adik.