Introducing a more powerful NotebookLM 🚀
Massive upgrades deliver agentic capabilities in chat, more advanced reasoning, and a suite of new output formats. Tackling complex, multi-step research problems has never been easier.
Rolling out now to Google AI Ultra subscribers.
If you don't have a goal so meaningful it makes other people's opinions irrelevant, you will lose control of your life. You will adopt the goals assigned to you by your parents, peers, or society.
ada artikel serem banget,
"..Ketika Kampus
Menjadi Pabrik..."
ditulis oleh Bondan Kanumoyoso, seorang sejarawan dan dosen dari FIB Universitas Indonesia.
Penulis mengkritik kebijakan pemerintah yang ingin menutup jurusan kuliah tertentu hanya karena dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini
Universitas adalah tempat untuk mengasah pemikiran dan intelektual, bukan sekadar pabrik yang memproduksi tenaga kerja untuk industri.
Masa depan sulit diprediksi, sehingga jurusan yang dianggap tidak laku sekarang bisa jadi sangat dibutuhkan di masa depan untuk mengatasi masalah sosial dan teknologi. Ilmu seperti sejarah, sastra, dan filsafat tetap sangat penting karena membantu masyarakat tetap kritis, berempati, dan memahami identitas bangsanya.
Kebijakan yang terlalu fokus pada pasar kerja dikhawatirkan akan membuat mahasiswa menjadi pragmatis dan membuat bangsa kehilangan sosok pemikir atau intelektual publik.
Penulis menyarankan agar pemerintah melakukan kolaborasi antarilmu dan memperbarui kurikulum, daripada langsung menghapus atau menutup jurusan tersebut.
If you feel lost, build something.
A business. Your body. A skill set. Anything that gives you a reason to learn and focus.
Don't worry about choosing the right thing. Don't think about how difficult it will be.
Just start moving forward and you'll find a path that feels right
Mengapa filosofi pendidikan “sesuai industri” itu problematis?
Saya agak gelisah baca wacana menutup prodi yang dianggap “tidak relevan dengan industri”, yang disampaikan Sekjen Kemendikti, Prof Bakri Munir Sukoco.
Bukan karena saya anti industri.
Tapi… industri yang mana?
Yang hari ini?
Atau yang bahkan belum ada 10 tahun lagi?
Masalahnya sederhana: industri sendiri sering belum tahu arah masa depannya.
Laporan World Economic Forum dan McKinsey & Company berulang kali bilang hal yang sama: banyak pekerjaan masa depan belum eksis hari ini.
Jadi kalau kampus sibuk “menyesuaikan diri” dengan kebutuhan sekarang, kita mungkin sedang menyiapkan lulusan… untuk dunia yang sudah lewat.
Dan biasanya, yang pertama dikorbankan itu selalu sama:
Filsafat.
Sejarah.
Sastra.
Yang dianggap tidak praktis.
Padahal banyak pemimpin, pembuat kebijakan, bahkan inovator yang lahir dari sana.
Sekarang bahkan keguruan dan kedokteran ikut disorot oleh Sekjen Kemendikti. Keduanya dibutuhkan masyarakat tapi katanya terlalu “market-driven”, harus jadi “market-driving”.
Tapi jujur saja kedua istilah ini masih dalam logika yang sama: pasar sebagai penentu. Bedanya hanya soal siapa yang lebih pandai meramal pasar.
Padahal masalah utamanya bukan di situ.
Masalah pendidikan di Indonesia itu ada di tata kelola.
Prodi dibuka karena tren. Karena peminat. Karena pemasukan. Bukan karena visi pendidikan.
Kalau akarnya di situ, menutup prodi dari atas itu cuma seperti memotong daun, tanpa menyentuh akar.
Yang kita butuhkan bukan sekadar menutup prodi, tapi membenahi cara kita menilai dan membiayai pendidikan. Quality control dan akreditasi tetap penting, tapi ukurannya harus nyata: kualitas belajar, daya pikir lulusan, dan dampaknya bagi masyarakat, bukan sekadar dokumentasi.
Yang dibutuhkan adalah pendanaan berbasis kualitas, kurikulum yang lentur, dan keberanian menjaga ilmu yang tidak selalu “laku”.
Karena saat industri jadi satu-satunya ukuran, dunia kampus menjelma hanya melatih tenaga kerja bukan melahirkan manusia yang mampu berpikir, menilai, dan membentuk zamannya sendiri.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
🚨 WASPADA MODUS "CALL HENING" 2026! 🚨
Hot, baru-baru ini lagi marak banget modus penipuan baru bernama Call Hening atau Telepon Hening.
Ceritanya jika kamu dapat telepon dari nomor tidak dikenal, pas diangkat... hening total. Tidak ada suara, tidak ada orang bicara, lalu putus sendiri setelah beberapa detik.
Banyak yang mengira salah sambung atau gangguan sinyal. Padahal, ini jebakan berbahaya!
⚠️ Kenapa Call Hening Sangat Berbahaya?
Pelaku sengaja diam supaya kamu spontan bicara. Saat kamu bilang "Halo?", "Iya?", "Siapa ini?" atau kalimat pendek lainnya, suara kamu langsung terekam.
Dengan teknologi AI Voice Cloning, rekaman singkat itu bisa diubah jadi suara yang sangat mirip dengan suaramu. Suara palsu ini kemudian dipakai untuk menipu keluarga atau teman kamu dengan cerita darurat, contohnya:
- "Aku kecelakaan, butuh uang cepat!"
- "Aku ditahan polisi, tolong transfer jaminan sekarang!"
- "HP aku hilang, ini nomor baru, kirim dana!"
Satu kata "Halo" saja sudah cukup buat mereka mulai bikin kloning suara. Kasus seperti ini sudah banyak terjadi dan merugikan puluhan hingga ratusan juta rupiah.
⚠️ Ciri-ciri Call Hening:
- Datang dari nomor asing atau nomor lokal tidak dikenal
- Saat diangkat → hening total (tidak ada suara, tidak ada napas)
- Biasanya putus sendiri setelah 3-10 detik
- Kadang muncul berulang dari nomor berbeda
⚠️ Cara Aman Menghadapi Call Hening:
1. Jangan angkat sama sekali kalau nomor tidak dikenal
2. Kalau sudah keangkat dan hening → langsung matikan tanpa mengucapkan apa pun
3. Jangan pernah telepon balik nomor tersebut
4. Segera blokir nomornya
5. Aktifkan fitur Silence Unknown Callers di HP (iPhone) atau fitur blokir spam di Android
6. Gunakan aplikasi seperti Truecaller atau Whoscall untuk deteksi spam
7. Kalau ada panggilan "darurat" dari keluarga, verifikasi dulu lewat WA, video call, atau nomor cadangan. Jangan langsung percaya!
Pakar dan bank seperti BCA sudah mengingatkan: jangan respons, jangan call back, langsung blokir.
Modus ini semakin canggih karena pakai AI. Jangan anggap remeh hanya karena "cuma hening". Lindungi suara dan keluarga kamu mulai sekarang.
Pernah dapat call hening belum? Kamu langsung angkat atau matiin? Ceritain di komentar biar temen-temen lain juga lebih waspada!
Stay safe dan sebarkan info ini ke keluarga & teman ya! 🛡️
#CallHening #TeleponHening
Pengangguran itu.. karena skill issue? Masa sih?
Masalah pengangguran saat ini nampaknya udah mulai “viral” ya.. koran2 rutin memberitakan soal PHK.. di medsos pun ramai berseliweran meme “19 juta lapangan kerja” maupun pelbagai keluh kesah orang2 yg sulit mencari pekerjaan layak
Sayangnya, ditengah berbagai keresahan rakyat yg meluas soal kesulitan mencari kerja dan tingginya pengangguran, jarang sekali ada penjelasan yang memuaskan. Rata2 penjelasan hanya berkutat di seputar kelemahan individu: ketidakcocokan skill, kurang rajin, kurang kreatif, kurang gaul, kurang koneksi, dan lain sebagainya. Bahkan pemerintah sendiri turut melanggengkan narasi seperti ini..
Aslinya, penggangguran ini adalah masalah sistematis yg selalu muncul dalam sistem kapitalis sob! Bahkan, bisa dibilang, keberadaan pengangguran adalah fitur dari sistem kapitalisme! Jadi ini bukan soal skill issue individu semata, melainkan soal sistem yg harus diubah..
Cekidot penjelasan nya:
@BilalFahrur Dulu negara ini ketat, setauku ada polisinya juga yang melakukan patroli memantau orang2 yang tidak sholat saat jam sholat. Tidak cocok diterapkan di Indonesia, karena agamanya bervariasi. Jadi bukan karena kesadaran, tapi memang ada aturan ketat dan akhirnya terbiasa.