Ramaikan Guys!
Mantan sales mobil tanpa pengalaman konstruksi jadi Komisaris BUMN Konstruksi.
Aisyah Zakkiyah ditunjuk jadi Komisaris PT PP 19 Mei 2026, sebelumnya adalah Juru Bicara Kementerian PU.
Disinyalir kuat memiliki hubungan kekerabatan dengan Dody Hanggodo Menteri PU.
Menteri PU Lebih Kejam dari Fir'aun.
Bayangkan wak, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sudah mengabdi selama 27 tahun 3 bulan separuh hidupnya diabdikan untuk negara tiba-tiba dihancurkan begitu saja hanya karna beliau ungkap kebenaran.
Beliau dari jabatan Eselon III-a yang terhormat, ia dimutasi ke Maluku Utara dan jabatannya diturunkan drastis menjadi Pelatihan Teknis, setara golongan 2d. Penghargaan, pengalaman, dedikasi, dan masa baktinya diinjak-injak hanya dalam satu keputusan
Ini bukan mutasi biasa. Ini penghukuman. Ini perlakuan yang bahkan Fir'aun pun geleng geleng wak.
Semua ini terjadi karena kezaliman Menteri PU. Seorang pemimpin yang seharusnya melindungi dan menghargai pengabdian justru menjadi penghancur karir dan martabat anak bangsa.
Keadilan di mana? Hormati pengabdian ASN, atau mundur saja.
Tolong kepada @DivHumas_Polri@KejaksaanRI dan @KPK_RI periksa menteri PU ini.
@lanangkalintang@KapudS640 Malioboro
Kuliner Pagi &.Mlm
Belanja oleh2 satu tempat
Wisata anak pagi-sore
Duduk bengong Pagi & Malam
30menit? Ya cukup aja kalo cuma beli oleh2 dan sekedar tau
@Sapalocha13@kenhans03 D sekolah anak saya, 1 kelas ga dimakan mbgny eh pas ompreng mau d balikin isinya d masukin k karung sama gurunya. Buat makan ternak katany.
PRESTASI HUKUM TERBAIK 2026: DEMI RAMBUT PIRANG SISWA, SATU KELUARGA GURU DIHANCURKAN
Hari ini, Selasa 20 Januari 2026, kita dipaksa menonton sebuah "komedi tragis" di gedung DPR RI. Seorang guru honorer bergaji Rp 400.000 menangis histeris, bukan meminta naik gaji, tapi memohon agar keluarganya tidak dimusnahkan oleh sistem hukum yang buta nurani.
Berikut adalah fakta kronologis yang membuat akal sehat kita mati:
KRONOLOGI (BERDASARKAN FAKTA PERSIDANGAN HARI INI):
Petaka ini bermula pada 8 Januari 2025 di SDN 21 Muaro Jambi. Ibu Tri Wulansari melakukan penertiban terhadap siswa kelas 6 SD yang mengecat rambutnya menjadi pirang (merah). Tiga siswa menurut untuk dirapikan, namun satu siswa membangkang dan melawan. (Sumber: Kumparan, 20/01/2026).
Saat ditegur, siswa tersebut justru memutar badan dan melontarkan makian kata kotor tepat di wajah gurunya. Terkejut dan refleks ingin mendidik adab, Ibu Tri menepuk pelan mulut siswa tersebut—sebuah teguran spontan agar sang anak sadar bahwa lisan kotor itu haram di lingkungan sekolah. Tidak ada darah, tidak ada cacat fisik. (Sumber: Tribun Jambi, 20/01/2026).
Namun, balasan yang diterima sungguh di luar nalar. Sejak Mei 2025, Ibu Tri ditetapkan sebagai Tersangka dan harus wajib lapor mingguan ke Polres sejauh 80 km. Lebih mengerikan lagi, suaminya (Ahmad Kusai) yang ikut terseret konflik saat membela istrinya yang dilabrak, kini telah resmi DITAHAN oleh kejaksaan sejak 28 Oktober 2025. Sudah hampir tiga bulan ia mendekam di penjara. (Sumber: Detik Sumbagsel & Kumparan, 20/01/2026).
MAU DIBAWA KEMANA NEGERI INI?
Membaca fakta di atas, rasanya ingin berteriak tapi dada terlalu sesak.
Kita sedang hidup di zaman "Edan". Di mana rambut pirang seorang bocah SD dianggap Mahkota Raja yang suci dan tak boleh disentuh, sementara harga diri seorang guru boleh diinjak-injak dan dimaki dengan kata kotor.
Coba renungkan dengan hati nurani Bapak/Ibu sekalian: Hanya karena ingin meluruskan akhlak satu siswa, satu keluarga utuh harus hancur lebur. Istri jadi Tersangka, Suami masuk Penjara. Apakah ini yang namanya Keadilan Restoratif? Atau ini adalah Kriminalisasi yang Membabi Buta?
Di mana letak hati nurani penegak hukum kita? Apakah memenjarakan tulang punggung keluarga (suami Bu Tri) adalah prestasi yang patut dibanggakan, hanya demi memuaskan ego orang tua siswa yang tidak terima anaknya ditegur?
Mau dibawa kemana pendidikan negeri ini? Jika menegakkan disiplin dianggap Kriminal, dan membiarkan anak kurang ajar dianggap Hak Asasi, maka jangan kaget. Jangan kaget jika besok lusa, sekolah-sekolah di Indonesia hanya akan berisi Guru-Guru Pengecut. Guru yang datang, duduk, diam, dan masa bodoh.
Guru yang akan tersenyum manis saat melihat anak Anda merokok, tawuran, atau memaki orang tua. Kenapa? Karena kami sayang keluarga kami. Kami tidak mau nasib kami berakhir tragis seperti Ibu Tri dan suaminya.
Selamat. Kalian telah berhasil membunuh jiwa pendidik kami. Silakan nikmati kehancuran moral generasi masa depan yang kalian bangga-banggakan itu.
Dari segala banyak opini yang berseliweran, kita sering lupa satu hal penting:
Laras adalah warga biasa seperti kita, yang marah ketika melihat polisi MEMBUNUH Affan.
Maka mendukung Laras adalah sikap keberpihakan yang penting bahwa negara GAK BOLEH BUNUH warga serampangan.