1/
Saya kira problem argumen Rocky Gerung soal MBG/KDMP bukan sekadar setuju atau tidak dengan kritiknya.
Problemnya ada pada struktur logikanya.
Kalau direkonstruksi, argumennya kira-kira begini.
Ya memang Rocky Gerung lagi-lagi benar. Orang dungu gak ngerti konsep penegakan hukum yang paling penting itu bukan besaran sanksi.
Tapi sanksi yang diharapkan (expected sanction). Rumus menghitungnya itu kemungkinan/probabilitas ditangkap dikali besaran sanksi.
Artinya kalau kemungkinan ditangkap karena korup itu mendekati 0 tapi sanksi gede gak ada gunanya itu hukum.
Masih aja geng Pati dongok pro RUU Perampasan Aset ini ngerasa bermanfaat buat negara padahal merusak.
Udah tau belum?
Mamdani Walikota New York bikin Municipal Groceries Store yang tujuannya sama kaya Koperasi Desa Merah Putih yang jual harga barang subsidi.
Tapi gak gedebak-gedebuk sembarangan, ini bikinnya pake konsep, dimulai dari 5 unit dulu, dengan harga bahan pangan pokok 30% lebih murah dari harga pasar.
Kenapa bisa lebih murah?
Karena biaya overhead dan pajaknya ditanggung oleh anggaran kota bukan karena beli lebih murah dari supplier.
Canggihnya setiap produk bisa di cek bar code nya yang berisi transparansi harga dan edukasi program.
Ini praktik sosialisme yang bener.
Sebuah uraian yg menarik oleh pak Gita Wirjawan.
Di tiongkok ada orang IQ 140 jago fisika murni tapi nggak bisa ngomong.
Yang kedua IQnya 78,49 jago joget di tiktok.
Di Tiongkok yang pasti terpilih untuk posisi kepemimpinan adalah yg pertama, nggak ada kesempatan buat yang kedua.
Tapi sayangnya demokrasi sekarang lebih tergugah oleh hal-hal yg sensasional dan festival. Sehingga orang yang jago joget dengan IQ 78 bisa terpilih
Let's him cook Mr Gita Wirjawan
Ada sopir truk asal Tiongkok yang capek pisah jauh dari istri dan anak gara-gara kerjaannya.
Solusinya sederhana: bak truknya diubah jadi rumah kecil, keluarganya ikut di jalan.
Nggak lama, istrinya ambil SIM truk sendiri.
Sekarang mereka gantian nyetir, jadi satu keluarga tetap utuh sambil tetap cari nafkah.
Ini kelihatan remeh, tapi sebenarnya nyentil satu hal besar: sistem kerja kita hari ini sering maksa milih antara nafkah atau keluarga, padahal seharusnya nggak perlu dikorbankan salah satu.
Jutaan sopir truk, pelaut, dan pekerja migran Indonesia ngalamin versi lebih berat dari ini ,kerja jauh bertahun-tahun, keluarga pecah karena aturan kerja yang kaku, bukan pilihan bebas.
Waktu kerja yang manusiawi itu bukan kemewahan, itu hak dasar buruh.
“Yang penting kerja, bukan teori.”
Mungkin ini adalah racun pemikiran terbesar dalam cara berpikir bangsa kita. Sebuah pernyataan paling bodoh yang diucapkan dengan kesombongan moral yang terselubung.
Dua hal yang hanya dimiliki Homo sapiens: dagu, dan kemampuan berteori.
kemampuan berteori (membentuk model mental abstrak untuk menjelaskan realita dan memprediksi masa depan) adalah ciri khas evolusi kognitif Homo sapiens.
No great nation despise theory. Ketika ada pandemi, bencana, atau anything unpredictable, the first thing a great nation does is to build “models” - turning uncertainty into foresight, and chaos into governance. We on the other hand confuse improvisation with progress. Gali sumur panas bumi, gagal, gali lagi, repeat.
Skeptisisme akan kemampuan berteori adalah peninggalan kolonialisme yang diinternalisasi:
Teori adalah milik barat (maka jahat), kerja itu takdir pribumi (maka baik).
Pikiran ini mencemari ruh perguruan tinggi; Itulah mengapa sangat sedikit, kalaupun ada, penulis Indonesia yang memiliki ekspertis/menulis buku/berteori tentang negara lain. Tapi banyak sekali penulis asing berteori tentang Indonesia.
9 solusi usulan dari LPEM UI ini sangat bagus dan realistis. Juga berbasis riset x data.
Presiden harusnya mau sungguh2 menerapkan usulan para teknokrat yg kompeten.
Ekonom n teknokrat harusnya lbh aktif ajak RI 1 ngobrol. Pelan2. Bujuk n ajak RI 1 agar lbh rasional.
(Thread) Selamat pagi dr Qatar. Siang ini akan diskusi dgn teman2 diaspora. Jadi ingin bicara lagi ttg #KaburAjaDulu di sini boleh ya? Inilah argumen yg ingin saya ajukan: Jumlah org Indonesia yg berkiprah di luar negeri masih amat kurang, kita butuh lebih banyak. Jadi begini...
@tanyarlfes inimah gausah bawa" gen, klo diperlakuin ga adil udah seharusnya jujur. ini hal yg normal, tp pd sering meromantisasi perbudakan jd pas ada yg confront dikata berani. tinggal atasannya aja jg ga boleh semena-mena. ngeri malah baperan krn diconfront.
Kalau direnungkan, mencoblos di Pilkada itu satu tindakan kecil dengan dampak besar. Ia juga bentuk harapan akan kehidupan yang lebih baik secara kolektif. Namun, persoalannya mengapa seperti dihadapkan pada ilusi pilihan, di mana akhirnya sama saja.
Filsuf adalah pencinta kebijaksanaan, bukanlah sang bijak itu sendiri. Dia memahami ketidaktahuannya karena itu dia mencari. Tak pernah sampai, namun perjalanan itulah memperdalamnya.
Ayah dari Son Heungmin bilang dia tidak menerima uang sepeserpun dari Son Heungmin.
“Tentu saja saya harus cari uang sendiri ‘kan?”
“Uang anak saya adalah miliknya. Uang saya, ya milik saya. Uang istri saya, ya milik istri saya. "
"Kesuksesan anak saya adalah hasil keringatnya sendiri".
Bukan apakah sesungguhnya manusia itu baik atau jahat secara filosofis, namun yang jelas dan lebih mengerikan adalah manusia mampu membangun narasi yang membuat kejahatan dapat diterima.