@fluoxetan Feminisme dan kelompok lainnya hanyalah contoh ya. Pertanyaan utamanya tetep sama, tentang generalisir oknum ke kelompoknya.
Ini lo mikirnya masih "gua defense feminisme" kah?
@BacotBelajar@fluoxetan pantes si ega kalo ada discourse nyata kayak soal islamophobia, persekusi lgbt, dimana banyak orang termasuk radfems mengkritik islam dia diem2 bae. setelah gue baca2 ternyata emang lebih suka koar2 kasar gak jelas, pake ngata2in orang udah tua lah boomer lah. muslimah my ass 😂
@benjidarma@pohonpisaaang_ Nyadar ga bang, dalam banyak syarat, cewek selalu minta cowok gak melakukan hal buruk sementara syarat cowok adalah cewek harus melakukan sesuatu? Sejak awal kalian cowok emang ga dididik jadi manusia sehingga hal basic aja harus dilarang. Ga selingkuh aja udah diatas rata2.
The fact that women can say “untung gak punya suami” (soalnya ngeribetin) but no man can say “untung gak punya istri” karena mereka butuh istri (yg akan ngurusin mereka)
@Putz8888@haechanbible@petsreid_ Penyebab perempuan matane. Itu si laki kalo lempeng ya mau si cewek kayak gmn ya nggak bakal ada apa2. Ingine si cowok lemah tp nggak mau disalahin wkwk
@petsreid_ itulah projection, dia ngiranya si laki beneran dewas, stabil, bisa ngurus keluarga. padahal mah dgn dia selingkuh aja udh keliatan kl dia gk stabil dan gabisa ngurus keluarga😂 dua2nya oon
Karena laki-laki naturally, socially, jadi raja di rumah melihat konstruksi sosial yang patriarki. Tanpa kamu minta, laki-laki otomatis jadi kepala keluarga, people expect the family (esp the wife) to respect him. Worse, to submit.
No, misogyny and misandry are not "equally bad".
Men are a threat to women.
Women are not a threat to men.
Men are raping and murdering women en masse.
Women are not slaughtering men.
Stop being stupid on purpose. 🙃
@hypebleasy Intinya, yang perlu dinormalisasi itu menghargai pilihan. Nggak submit bukan otomatis lebih bermartabat, submit juga bukan otomatis haus validasi. Tiap musisi berhak menentukan jalur karier yang paling selaras dengan prinsip dan strateginya masing-masing.
Orang-orang kayak lo juga sih yang berisik ketika perempuan memutuskan untuk tidak menikah dan/atau tidak memiliki anak.
Lo tidak melihat apa yang diperjuangkan oleh perempuan untuk perempuan karena lo sejak brojol aja sudah mendapatkan privilege. Hak lo melekat otomatis, tapi tidak bagi perempuan.
Begitu lo lahir, lo udah disiapkan untuk menjadi pemimpin. Semua kebutuhan lo disiapkan oleh perempuan di dalam rumah lo. Perempuannya terpaksa menjadi pelayanan. Kebutuhan mereka menjadi sekian nomer di bawah kebutuhan lo.
Lo cuma melihat dari kacamata kenyamanan lo sehingga perjuangan feminis lo anggap sebagai sebuah ancaman, atau paling tidak sebagai gangguan atas kenyamanan lo itu.
Lo menuntut perempuan untuk mengambil bagian sebagai pekerja kasar karena menurut lo itulah kesetaraan. Lo udah pernah main ke Pasar Induk Kramat Jati belum? Lo liat deh seberapa banyak perempuan yang bekerja sebagai pekerja kasar di sana. Atau lo coba liat di pasar-pasar pagi deh.
Lo juga menuduh perempuan akan tunduk pada pria mapan. Lo mau tau kenapa? Karena banyak perempuan yang tak punya kesempatan untuk menjadi mapan. Tambahan pula, opini lo itu seringnya diucapkan oleh pria yang tidak mapan baik secara emosional maupum finansial.
Jika lo sudah memperlakukan perempuan dengan manusiawi, tidak ada yang perlu lo takuti dari feminisme.