Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah menggodok rencana re-registrasi pengguna media sosial yang mewajibkan pencantuman nomor telepon saat membuat atau menggunakan akun media sosial.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan, saat ini penggunaan nomor telepon untuk akun media sosial masih bersifat tidak wajib. Karena itu, pemerintah tengah mengkaji penguatan identitas pengguna melalui mekanisme registrasi baru.
“Terkait rencana re-registrasi terhadap pengguna media sosial dengan memberikan akuntabilitas, bahwa kalau saat ini itu sifatnya tidak wajib untuk memberikan nomor telepon,” kata Meutya dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5).
Menurut dia, skema tersebut saat ini masih dalam tahap pembahasan. Selain mewajibkan nomor telepon, pemerintah juga berencana memperkuat sistem identitas digital terverifikasi melalui Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSRE).
“Ini yang sedang kita godok juga dengan konsultasi publik tentunya Bapak Ibu, bagaimana agar orang ketika masuk ke sosial media wajib menaruh nomor teleponnya. Sehingga identitasnya jelas, sehingga mereka menjadi akuntabel atau ya bertanggung jawab terhadap tulisan-tulisan yang juga ditayangkan,” ujarnya.
📸: Dok. Antara.
Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play.
📝: newsupdate | update | news | oneliner | R120 | E164
#bicarafaktalewatberita #kumparan
💬 A threat actor on a cybercrime forum is claiming to have leaked a database containing approximately 20.6 million Indonesian WhatsApp numbers.
According to the post, the dataset allegedly contains active phone numbers collected from multiple regions across Indonesia, including provinces, islands, and major cities.
The actor shared sample entries consisting of Indonesian mobile numbers and claims the full dataset has been uploaded for download on the forum.
At this time, the claims remain unverified, and there is no official confirmation regarding the authenticity, origin, or legality of the dataset.
If authentic, the exposed data could significantly increase the risk of:
• Smishing and phishing campaigns
• WhatsApp account takeover attempts
• Social engineering operations
• SIM swap targeting
• Spam and fraud activity against Indonesian users
Users are advised to remain cautious of unexpected WhatsApp messages, verification code requests, suspicious links, and impersonation attempts.
#DDW #Intelligence #Indonesia #WhatsApp #DataLeak #CyberSecurity #DarkWeb #InfoSec
#Gempa Mag:2.8, 18-Apr-2026 04:13:00WIB, Lok:4.01LS, 122.54BT (52 km TimurLaut KONAWESELATAN-SULTRA), Kedlmn:3 Km #BMKG
Disclaimer:Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data
Banyak paket j&t yg tertahan yaa. Paket dari @jntexpressid dari tgl 23 Januari sampe sekarang masih tertahan. Ini pun pilihan pengiriman dari tokped 😅
Penjelasan Ferry Irwandi tentang masalah gaji guru honorer telah digunakan oleh banyak pihak untuk menormalisasi nasib guru honorer agar mereka menyalahkan dirinya sendiri, yayasan, dan pemerintah daerah. Padahal, masalah guru adalah masalah kepemimpinan nasional.
-Thread-
Kami dari komunitas MBG (Makan Bubur Gadiaduk) menuntut keras @pandji karena telah menistakan bubur yg tidak diaduk 😡
Di tengah negara yg campur aduk gini, masa bubur juga diaduk? Kalo bubur ga diaduk jelas kondimennya, jelas, terlihat, transparan, gaada yang korup
Kenapa @Partai_Gelora dan Partai Ummat, gagal ke senyanan?
tempo hari saya menbahas ini, di kelas pasca MM. makul manajemen stratejik—pemasaran.
Mari kita bedah secara dingin, tanpa eufemisme/tedeng aling-aling.
Kenapa ini bisa terjadi, dan kenapa saya tak membahas @psi_id?
ya males aja sih, kadernya tengil.
Dalam studi manajemen stratejik, kita akan belajar tentang pentingnya market insight/ pemahaman mendalam tentang pasar.
jadi saat kelola partai baru, jgn cuma sibuk dan asyik dengan self-insight /persepsi diri sendiri.
Elite partai gelora dan ummat, memanglah tokoh yang pintar, vokal, dan punya banyak loyalis.
makanya mereka mungkin mengira,...
bahwa pasar/ konstituen akan otomatis melakukan migrasi massal (pindah secara besar-besaran),
mengikuti langkah politikh mereka.... rupanya tidak kan?
Ini adalah kenaifan manajerial yang biasa terjadi di lingkungan sekitar.
Partai gelora dan ummat membangun sebuah entitas yang "kepalanya besar tapi kakinya lumpuh".
Dalam tata kelola organisasi,
kedua partai ini, gagal membangun distribution channel.
alias jaringan organisasi mikro mereka, sangat jelek.
Bahkan mungkin tak ada jaringan.
Beda dengan partai induk mereka, yaitu PKS dan PAN,
yang bisa diibaratken sbg sebuah "perusahaan" yang sudah punya gudang dan kurir di setiap desa.
Sementara Gelora dan Ummat baru punya brosur bagus dan jajaran direktur mereka sibuk berpidato di pusat² kota, namun lupa memperkuat infrastrukturnya di daerah-daerah.
Mirip desak @aniesbaswedan kemarin pas pilpres itulah,
di kampus mulu kegiatannya.
dikira semua orang kuat bayar UKT, buat kuliah apa yak.. heran.
Data perolehan suara nasional pada Pemilu 2024 menyajikan factos, yang membuat elit gelora tidak berbahagia & membuat elit ummat merasakan sedih yang teramat sangat.
Lihatlah betapa lebar jurang antara ambisi elite dan realitas di lapangan, lihatlah angka-angka ini...
PKS sebagai induk berhasil mengamankan 12,7 juta suara (8,42%),
sementara sang "anak", Gelora, hanya mampu meraup 1,2 juta suara (0,84%).
PAN kokoh dg 10,9 juta suara (7,24%), sedangkan Partai Ummat terkapar tak berdaya, dg 642 ribu suara (0,42%).
Angka² ini menceritakan sebuah kegagalan penetrasi pasar yang sangat serius.
Secara manajerial, ini adalah pemborosan sumber daya politik yang luar biasa.
kan kasian ya, kader-kader yang punya suara tinggi di dapilnya,
ehh tapi gagal dapat kursi di senayan... cry inside ga sih?
Masyarakat kita itu ya,..
rupanya pny loyalitas pada brand / institusi partai yang sudah mapan, bukan sekadar pada sosok tertentu.
Nah,
elite kita cenderung punya kebiasaan buruk, merasa diri mereka lebih besar dari produk yang merek jual (partai).
Merasa cukup besar dan berpengaruh,
untuk menggiring wong cilik utk pindah rumah... akhirnya tidak waspada.
Partai Gelora dan Ummat, mencoba mengambil pangsa pasar partai induknya,
namun tidak mampu menawarkan competitive advantage (keunggulan kompetitif) yang baru.
Akibatnya,
mereka hanya menjadi pedagang kecil dg cuma punya brosur bagus,
akhirnya tenggelamlah mereka, di bawah ambang batas parlemen.
Elite Gelora misalnya,
sibuk bicara tentang geopolitik global, tema yang sangat mewah dan sangat seminar nasional banget.
Disaat yang sama, konstituen mereka sedang bergulat dengan urusan urusan dasar seperti harga beras, minyak dan kinder joy yang naik terus.
sangat tidak nyambung, kn?
Ini adalah kesalahan pengelompokan target pasar yang sangat elementer.
Mereka mencoba menjual barang mewah di pasar tradisional,
tentu saja yang laku tetaplah sembako yang dijual oleh toko-toko lama.
jadi 2029, ganti Pesinden ga nih?