Istrinya sakit pinggang. 2 tahun.
dia beliin kasur baru. Rp 2 juta
Niatnya baik. Biar dia tidur nyenyak. Biar sembuh.
Gak sembuh.
Bantal ortopedi. Rp 1juta
Gak sembuh.
Kursi ergonomis. Rp 1 juta
Gak sembuh.
Sampai fisioterapis tanya satu pertanyaan:
"Ibu mandiin anaknya di mana?"
Gilaaaaa gaisss, gw baru nemu cara bikin Claude kagak iyes-iyesss mulu dan beneran mindblown bangeeet wkwkwk 😂
Gw tu ngerasa selama ini emang Claude tuh default-nya terlalu baik yaaa
Gw kasih ide, dia bilang bagus
Gw kasih asumsi, dia bilang masuk akal
Gw nanya hal yang belum pasti, dia tetep jawab dengan pede
Awalnya enak sih
Berasa gw pinter benerrr dah 😭
Ternyataaa, yaelahhh dia lagi cosplay ABS doang
Literally asal bapak senang, alias asal lu happy aja dahh wkwkwk
Nahh ternyata cara benerinnya bukan cuma bilang:
“jangan setuju terus ya”
Ga mantapp itu cuyy
Yang lebih ngaruh ituu, lu harus ngasih instruction yang jelas biar Claude lebih jujur pas belum yakin
Jadi dia gak asal:
- setuju
- ngarang angka
- ngarang sumber
- sok tau soal info terbaru
- ngutip orang padahal belum pasti
Ini bukan bikin Claude jadi gaje yaa
Tapi bikin dia lebih waras dikit
Lebih hati-hati
Lebih jujur
Lebih gak sotoy kalau emang belum tau
Nahh, cara setupnya gampang bangeet. Lu cuman harus:
1) Buka Claude
2) Masuk ke Settings
3) Cari bagian Instructions / Personal Preferences
4) Paste prompt di bawah ini
5) Save
Lu bisa pake prompt dari post aslinya
Atau pake versi Indonesia yang udah gw rapihin ini:
===START PROMPT===
Utamakan kejujuran, akurasi, dan kejelasan di atas segalanya
Prioritas utama bukan terdengar paling yakin. Prioritas utama adalah memberi jawaban yang benar, jelas, dan transparan tentang apa yang diketahui, apa yang belum diketahui, dan apa yang sedang disimpulkan
Ikuti aturan ini dalam setiap jawaban:
1) Ketidakpastian
Kalau belum sepenuhnya yakin tentang suatu fakta, katakan dengan jelas
Gunakan kalimat seperti:
- “Saya belum sepenuhnya yakin, tapi…”
- “Ini sebaiknya dicek lagi…”
- “Saya mungkin keliru di sini, tapi…”
- “Berdasarkan informasi yang tersedia…”
- “Ini perkiraan terbaik saya, bukan fakta yang sudah terkonfirmasi”
Jangan memberikan informasi yang belum pasti seolah-olah itu fakta
Kalau jawabannya bergantung pada konteks yang belum ada, jelaskan konteks apa yang kurang
Kalau ada beberapa kemungkinan jawaban, jelaskan kemungkinan-kemungkinan utamanya daripada memaksakan satu jawaban seolah itu satu-satunya yang benar
2) Sumber
Jangan mengarang sumber
Jangan membuat-buat:
- judul paper
- URL
- penulis
- studi
- statistik
- buku
- kasus hukum
- kutipan
- laporan perusahaan
- referensi sejarah
Kalau tidak bisa menyebutkan sumber nyata yang bisa dicek, katakan saja
Kalau jawabannya berdasarkan pengetahuan umum dan bukan dari sumber spesifik, jelaskan itu dengan jujur
Saat memakai sumber, prioritaskan:
- dokumentasi resmi
- sumber primer
- paper peer-reviewed
- data pemerintah atau institusi
- pernyataan langsung dari orang atau organisasi terkait
Kalau sumbernya mungkin sudah lama atau informasinya bisa berubah, katakan bahwa sumber tersebut perlu dicek ulang
3) Angka dan Statistik
Beri tanda untuk angka, statistik, persentase, ranking, market size, salary, metrik performa, atau estimasi yang belum benar-benar pasti
Gunakan kalimat seperti:
- “Saya rasa ini kurang lebih…”
- “Angka ini mungkin sudah berubah”
- “Cek lagi ke sumber utama sebelum menjadikannya acuan”
- “Saya tidak punya cukup informasi untuk memastikan angka pastinya”
Jangan membuat-buat angka supaya jawaban terlihat lebih berguna
Kalau angka yang presisi tidak tersedia, berikan range hanya kalau memang masuk akal. Kalau tidak, katakan bahwa angkanya belum diketahui
4) Informasi Terbaru
Jangan menebak-nebak tentang hal yang mungkin sudah berubah
Ini termasuk:
- berita
- pemilu
- hukum
- regulasi
- fitur produk
- leadership perusahaan
- versi software
- kemampuan AI model
- data pasar
Untuk topik yang cepat berubah, katakan bahwa informasinya mungkin sudah berubah dan sebaiknya dicek ke sumber terbaru
Jangan memberikan informasi lama seolah-olah masih pasti berlaku sekarang
5) Orang dan Kutipan
Jangan mengaitkan kutipan ke orang nyata kecuali benar-benar yakin bahwa orang tersebut memang mengatakannya
Kalau belum yakin, katakan:
- “Saya belum bisa memastikan kutipan ini akurat”
- “Kutipan ini sering dikaitkan dengan orang tersebut, tapi saya belum bisa memverifikasinya”
- “Saya tidak tahu siapa sumber asli kutipan ini”
Jangan mengarang pernyataan, keyakinan, atau motivasi orang nyata
Pisahkan fakta yang terkonfirmasi dari interpretasi
===END PROMPT===
Save, repost, dan like postingan ini yaa kalau lu ngerasa bermanfaat 🙌
Food for thought.
Trump’s Deal With Indonesia: Mahan at the Strait of Malacca
Hu Jintao warned China about this moment more than twenty years ago. In 2003, the then Chinese president coined the phrase “Malacca dilemma” to describe a simple, brutal fact: the country’s economic rise depended on foreign oil sailing through a narrow strait that other powers could, in a crisis, choose to close. Most of China’s imported crude and gas still squeezes through that same bottleneck between Indonesia, Malaysia and Singapore. The US has just moved to wire that vulnerability, and it is no accident this is happening on Donald Trump’s watch.
Washington’s new Major Defense Cooperation Partnership with Indonesia is being sold in the usual diplomatic euphemisms: capacity building, maritime security, joint training. Strip away the boilerplate and you see something far sharper. The agreement’s focus on maritime domain awareness, subsurface and autonomous systems, and special forces training is about giving Indonesia and by extension the U.S. and its allies, a far richer picture of everything that moves between the Indian Ocean and the South China Sea, and greater ability to shape it in a crisis. As with Trump’s broader Indo‑Pacific posture, this is one more move to reassert the US as the pre‑eminent maritime power of the age, and to ensure China feels that reality every time a tanker clears the Strait.
Hu’s “Malacca dilemma” was never only about a single shipping lane. It was about the geometry of China’s energy dependence. Oil from the Gulf and Africa has to arrive by sea. The shortest, cheapest route runs past India, through Malacca and adjacent Indonesian straits, and then up into waters where the U.S. Navy and its partners have operated for decades. A coalition that can see, track and, if necessary, interdict that flow holds a lever over China’s economy that no amount of rhetoric about multipolarity can wish away.
More than a century ago, Alfred Thayer Mahan argued that sea power, fleets, chokepoints and maritime commerce, would decide the fate of great powers. The Malacca dilemma is Mahan’s theory rendered in modern energy terms: a continental power whose trade and fuel move by sea lives or dies by access to narrow maritime bottlenecks policed by others. Trump’s Indonesia move is pure Mahan: rather than chasing dominance on land, Washington is tightening its grip on the sea lanes and straits through which China’s economic lifeblood must flow.
Beijing has spent two decades trying to escape this trap with pipelines from Central Asia and Russia, a corridor through Myanmar and a “string of pearls” of ports from Gwadar to Djibouti. Yet the volumes tell a less reassuring story: overland routes move at the margin, while the bulk of China’s energy still comes by tanker and still passes through Southeast Asian chokepoints. The dilemma has been managed, not resolved.
That is why Indonesia matters. Jakarta insists it is not choosing sides and will continue to balance between Washington and Beijing. It doesn’t have to do more than that for this pact to bite. As Indonesian officers train with American counterparts and integrate U.S.‑supplied surveillance and patrol systems, the operational environment quietly changes. Chinese planners contemplating a crisis over Taiwan, the South China Sea or even a clash around Hormuz now have to assume that traffic through Malacca and its alternatives will unfold under a web of sensors and partnerships that lean, in practice if not in rhetoric, toward Washington.
Another move by President Trump, in other words. From rebuilding American shipyards to pouring money into Indo‑Pacific maritime forces, the pattern is clear: the United States intends to remain a maritime superpower, and to make China live with Hu Jintao’s old nightmare instead of escaping it. Mahan would have recognised the logic instantly: in the end, it is the power that commands the sea, and the straits, that sets the terms for everyone else.
Pasti pernah lihat gabah padi yang "mekar" dan gumpalan oranye kayak begini? Banyak petani pikir itu jamur biasa. "Ah cuma jamur oncom biasa"
Padahal ini kode yang harus dibaca. 👇️
Kemarin ada tetangga (dia masih muda) yg jualan sayur di CFD, awalnya dia jualannya kayak di warung2 sayur. Pembeli ngambil, ditimbang, dan bayar.
Tapi, beberapa kali jualan, sayurannya sisa masih banyak. Terus mereka nyoba opsi jualan sayur yg packingan. Ternyata bisa habis.
Satu pack harganya 5K. Sementara pembeli jg masih bisa beli sayur eceran. Pembeli tertarik beli yg packingan, tapi jg tetep dapet pelanggan yg mau beli dikit.
Saya ngasih saran lagi, biar gak repot ngasih kembalian, bisa pake QRIS. Soalnya sempet pas rame gak ada kembalian. Jadi bakal mengefisienkan waktu buat ngelayanin pembeli.
Ada saran lagi, buat yg lagi jualan kayak gini?
Dan kira2, per pack sayuran dijual 5K itu kemahalan atau kemurahan, guys?
Menurut google setelah ditanya: Definisi petani.
Petani adalah orang yang mata pencahariannya bercocok tanam, mengelola lahan, atau membudidayakan tanaman (pangan, hortikultura, perkebunan) untuk mendapatkan hasil yang berfaedah.
Secara filosofis menurut Bung Karno, petani sering disebut sebagai akronim dari Penyangga Tatanan Negara Indonesia, yang menonjolkan peran vital mereka sebagai pilar pangan bangsa.

Berikut adalah rincian mengenai penggunaan dan persamaan kata "petani":
- Petani Sawah: Individu yang mengelola lahan basah untuk menanam padi.
- Petani Hortikultura: Orang yang membudidayakan sayur-sayuran, buah-buahan, atau tanaman hias.
- Petani Perkebunan: Orang yang mengelola tanaman industri seperti kopi, sawit, atau teh.
- Buruh Tani: Seseorang yang mengerjakan lahan pertanian milik orang lain. 
Synonyms (Persamaan Kata) "Petani":
- Penggarap: Orang yang mengerjakan lahan.
- Pekebun: Orang yang mengelola kebun.
- Pecocok Tanam: Pengolah tanaman.
- Peladang: Orang yang mengerjakan ladang.
- Agrikulturis: Ahli pertanian.
Orang2 di x = farming engagement
🧑🌾
Ternyata obat sedihnya perempuan itu bukan hanya 'sabar' dan 'tawakal', tapi...
Ketika Maryam as. sangat sedih karena merasa takut dengan cemoohan orang-orang karena hamil tanpa suami, maka Allah menenangkannya.
Allah berkalam,"Makan, minum dan berbahagialah engkau." Ternyata, untuk berbahagia, Allah menganjurkannya untuk makan dan minum.
Sepertinya, ibu-ibu pasti setuju dengan hal ini. Bahwa kebahagiaan bisa diraih salah satunya dengan diajak makan dan minum bersama di luar. 😃
Bagi bapak-bapak, apa yang kita berikan untuk istri selalu dihitung sedekah oleh Allah.
Maka.. win-win solution insyaallah.
155k stars di GitHub. Isinya ribuan prompt AI yang dikurasi, gratis.
Lo masih nulis "tolong bantu saya..." ke ChatGPT sementara orang lain pake prompt yang udah dioptimasi dari repo ini.
https://t.co/TwmNeLRj3p
Pernah penasaran kota atau daerah tempat kamu tinggal dulu keliatannya seperti apa ratusan tahun lalu?
Ada website yang ngumpulin lebih dari 1 juta peta historis dari seluruh dunia dalam satu platform.
Gratis, bisa dicari berdasarkan lokasi, dan resolusinya tinggi.
Namanya OldMapsOnline.
Resepnya udah bener. Bahannya udah lengkap. Takarannya udah pas. Tapi hasilnya tetap “kurang mantap"
Kemungkinan besar masalahnya ada di satu langkah yang kamu anggap remeh dan buru-buru yaitu: cara kamu memperlakukan rempah sebelum masuk ke masakan
Sebuah Utas🧵
Gua Jadi Rutin Minum Kopi Pagi Karena Jurnal Ini!
Banyak perdebatan kapan sih seharusnya kita minum kopi biar optimal, ada yang bilang pagi hari, bahkan ada yang bilang malam hari pun tidak apa-apa.
Nah ternyata ada penelitian yang bahas tentang timing minum kopi ini.
Yuk kita bahas!
Selama ini kita mikir kopi cuma buat ngusir ngantuk. Ternyata gak disangka-sangka juga punya efek untuk menurunkan risiko penyakit jantung!
Penelitian menunjukkan bahwa minum kopi pagi-pagi (jam 4 pagi - 12 siang) bisa menurunkan risiko kematian akibat penyakit jantung hingga 48% dan semua penyebab hingga 29%.
Hasil ini berdasarkan penelitian skala besar dari European Heart Journal (2025), yang meneliti lebih dari 40 ribu orang dewasa selama 20 tahun.
Efek ini dibandingkan antara minum kopi pagi hari dengan minum kopi kapanpun.
Nah karena itu deh, gue pokoknya sebelum jam 12 siang tuh pasti udah minum kopi. Demi kesehatan jantung yang lebih baik kan!
🚨BREAKING: The man who won the "Nobel Prize of Computing" says 99% of people use AI like a toy.
Yann LeCun invented the technology inside every AI tool you touch. He's Meta's Chief AI Scientist. Turing Award winner.
And he says your prompts are embarrassingly shallow.
Here are 9 Claude prompts built on LeCun's cognitive architecture that turn shallow AI into expert-level reasoning:
It’s official: The current world order has broken down.
In my parlance, we are in the Stage 6 part of the Big Cycle in which there is great disorder arising from being in a period in which there are no rules, might is right, and there is a clash of great powers.
How Stage 6 works is explained in detail in Chapter 6, “The Big Cycle of External Order and Disorder,” in my book Principles for Dealing with the Changing World Order.
If you can, I think it would be worth your time to read.
Ray Dalio just released 500 years of data showing exactly how empires collapse.
His conclusion? America is in Stage 6 of 9.
The dangerous stage.
Here's what his math actually says about where we're headed:
Dalio studied every major empire collapse since 1500.
Dutch. British. American.
The pattern repeats with machine-like precision every 50-100 years.
Not because of politics or ideology.
Because of math.
The "Big Debt Cycle" has nine stages.
We're currently in Stage 6.
The dangerous one.
Here's how it works:
Stages 1-4: The Rise
Countries borrow to build infrastructure.
Debt is productive. GDP grows faster than debt service costs.
Everything feels sustainable.
This was the U.S. from 1945-2000.
Low debt-to-GDP. Strong productivity growth.
Borrowing made sense.
Stage 5: The Top
Debt service hits 15-20% of GDP.
Interest costs start crowding out productive spending.
But everyone's too comfortable to notice.
Markets boom. Wealth gaps explode.
The U.S. crossed this threshold around 2008.
Stage 6: The Crisis
This is where we are now.
Federal debt exceeds 120% of GDP.
Two choices: Let interest rates rise and crash the economy.
Or print money and create inflation.
Both destroy wealth.
Just differently.
In the 1930s, we chose deflation.
In 2008, we chose money printing.
In 2026, we're doing both at the same time.
Stages 7-9: The Reset
Either massive restructuring through negotiation.
Or war.
History shows wars resolve 90% of these cycles.
Not because humans are violent.
Because debts become mathematically impossible to service.
Dalio's data is clear:
When internal inequality peaks AND external rivals emerge, conflicts become inevitable.
The U.S. has both right now.
Wealth inequality hasn't been this high since 1929.
China's GDP grew 6-8% annually while we borrowed to maintain consumption.
Dalio's advice for Stage 6 is simple:
Sell debt. Buy gold.
Not because gold produces anything.
Because governments print money to escape debt traps.
Gold has risen 3x since 2020.
Exactly as the model predicted.
But here's what actually matters for regular investors:
You can't stop the Big Cycle.
But you can position for it.
Dalio's framework identifies five big forces that drive every transition:
1. Productivity growth
2. Debt cycles
3. Money supply
4. Wealth gaps
5. Geopolitical power shifts
When all five align in the same direction, the cycle turns.
Right now, all five are pointing toward Stage 7.
Productivity growth is slowing.
Debt service costs are rising faster than GDP.
Money supply expanded 40% since 2020.
Wealth concentration is at century highs.
China is building parallel financial infrastructure.
The math doesn't lie.
So what does positioning actually look like?
Dalio's research across 500 years shows three consistent patterns:
Pattern 1: Fiat currencies lose value during Stage 6-7 transitions
Every time. No exceptions.
Governments print to escape debt traps.
The dollar, pound, and euro all follow the same path.
This is why gold and hard assets outperform during these periods.
Pattern 2: Geographic diversification matters more than asset class diversification
When one empire declines, another rises.
Dutch to British. British to American.
The cycle doesn't end. It relocates.
Portfolios concentrated in declining empires get crushed.
Pattern 3: Volatility spikes 3-5x during Stage 6
The 1930s saw 50%+ market swings.
The 1970s stagflation created wild inflation volatility.
2008-2009 saw daily 5% moves.
Stage 6 isn't calm. It's chaos punctuated by brief stability.
Here's the data that should terrify you:
U.S. debt-to-GDP: 120% (highest since WWII)
Annual interest costs: approaching $1 trillion
China's GDP growth: 6-8% while U.S. averages 2-3%
Time between 1929 inequality peak and crash: 8 months
Time since current inequality peak: We're in it now
Buku IoT dengan Python Machine Learning, Data Analysis total 500++ halaman, 70% praktek, 30% teori. Silahkan di ambil di https://t.co/M80exWuSlR ... dalamnya ada buku Python untuk AI 500+ halaman juga
Rumput ini sangat sering ditemukan di lahan kita. Selain bikin capek, karena susah nyabutnya sebenarnya rumput ini memberikan sinyal lain.
Ada yang sadar ?