Iran: Kita boikot aja Israel!
Gausah kirim minyak, pasok senjata, terus putusin hubungan diplomatik!
Saudi Arabia, Bahrain, UAE, Mesir, Yordania: Kita sih no ya. Gatau Mas Anang…
"Aku pro-Israel soalnya aku Kristen"
Aku gak mau penganut agama Kristen & Muslim di Indonesia jadi 'terpecah' dan saling membenci, semua karena kurangnya edukasi.
Dengan lebih banyak penganut Agama Kristen yang terdukasi, aku harap semakin banyak juga pendukung untuk Palestine.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram membeli produk dari produsen yang mendukung agresi Israel ke Palestina.#newsupdate#update#news#text https://t.co/rIYBjLod6E
Gw amati, keinginan untuk perempuan stay di rumah itu latar belakangnya ngga selalu soal mindset konservatif. Kalo level global leader, dia paham kapitalisme cost-nya tinggi.
Diperlukan perempuan yang stay di rumah ngurus domestik agar laki-laki bisa full kerja di luar rumah. Perempuan kerja tanpa dibayar, jadi hemat.
Bisnis jalan, domestik terkendali.
Supaya kondisi hemat ini terus berjalan, dibikin kondisi sedemikian rupa supaya perempuan di rumah terus:
Penitipan anak mahal, stigma perempuan kembali bekerja setelah punya anak dibiarkan terus negatif (egois, mentingin karir etc), gaji perempuan lebih rendah dll.
Hal begini kejadian di banyak negara maju seperti Switzerland, German dll.
Jadi sesungguhnya kapitalisme itu berhutang pada perempuan. Tanpa perempuan ngurus rumah, bapak-bapak ga bisa fokus kerja.
Kapitalis menunggangi cara pandang konservatif untuk keuntungan bisnisnya.
Dapet 2 buruh tapi bayarnya cuma satu. Untung gede deh.
Sampai sekarang masih suka “gemes” sama lagu ini. Di cafe, resto, atau tempat ngopi selalu diputar, &n” overplayed.
Sebagai orang yang “agak lihai” bermain kata-kata, mendengar lagu ini jadi geli.
Suaranya bagus. Lagunya enak. Liriknya enggak.