every person has a child inside, that was me. a little boy crying in the dark. someone who no one understood. someone who had no one to trust. just a little boy.
@cleivmore Ia menggaruk kepala yang tidak gatal. Tak banyak yang bisa dilakukan selama menunggu permainan dimulai, namun ia tetap ingin menikmati kedekatan hingga memutuskan untuk berbaring di paha Alvaro. Melemaskan jari jemarinya.
"Iya, biar bisa gendong-gendong juga. Yuk, let's go...!"
@cleivmore "Public display... of affection..."
Menunjukkan kasih sayang di depan umum, sebagaimana budaya di barat yang menganggap hal seperti itu lumrah. Semburatnya mekar, bagaimana bisa Alvaro adalah pria kaku yang ia kenal tiga tahun silam?
"Iseng. Pantes aku sering diginiin..."
@cleivmore "Jangan PDA, kak..."
Ia belum siap. Segala yang ia lakukan bersama Alvaro adalah kali pertama bagi Gavin, andai pria ini lupa. Kisah fiksi romansa yang gemar ia baca tidak memberi petunjuk, tentang bagaimana ia harus bersikap di saat seperti ini.
"K-Kak...! Udah, dong..." ///)
@cleivmore "...Um... Ya udah... Feel free, kak."
Sama sekali tidak menduga pria ini akan memilih peran yang cukup krusial dalam tim. Ia tersenyum canggung selama memikirkan banyak hal; termasuk bayangan akan Alvaro memainkan karakter yang dia sebutkan.
"Aku MMβ Marksman aja, ya."
@cleivmore "Ya soalnya kakak barusan π£π¦π¨πͺπ΅πΆ...!"
Nyaris memekik, andai ia tak bertahan dengan upaya terakhirnya mengendalikan diri. Canggung; ia bahkan tak lagi berani mengangkat kepalanya. Terus menunduk sambil menyedot kuat minuman,
"Kak, jangan bikin aku jantungan terus dong..."
@cleivmore "Harus sering-sering mabar. Kayak punya Ghani sama Al, udah level 7."
Bahu mereka bersentuhan. Ia ingin melihat pilihan sang kekasih, seraya memeriksa riwayat orang-orang yang bermain bersama mereka. Mengernyit tipis,
"Siapa, kak? Aamon? Berarti mau di... π«-π«πΆπ―π¨ππ¦?" π§
@cleivmore "...?! Kak...! Jangan, ih...!"
Beruntung hanya bisikan yang mengekspresikan betapa terkejutnya ia dengan perlakuan Alvaro, dimana spontan wajah yang lebih muda berubah merah ketika ia melihat ke sekitarββkalang kabut.
"I-Iya, tapi nanti aja ciumnya d-di mobil..."
@cleivmore "Logo gambar mawar. Nanti mawarnya bisa mekar."
Tidak pernah tidak menarik, melihat pria dewasa yang merasa penasaran dengan permainan anak remaja. Lantas, ia mengintip gawai Alvaro.
"Gak kuat aku, kak." Terkekeh halus, "Kak Varo mau main apa? Bisa diganti dulu itu, role-nya."
@cleivmore "Udah, tapi dia masih curi-curi pandang tuh."
Mereka tak dapat mempertontonkan afeksi di muka umum, namun untuk saat ini, genggaman yang hangat sudah lebih dari cukup. Tanpa mengangkatnya, dipereratnyalah tautan itu.
"Ya... Gak harus juga... Maaf, kak. Padahal kamu pacarku..."
@cleivmore "Feel free. Couplean nama juga boleh. Kita bisa pamerin status pacaran juga kalo sering mabar!"
Ia pilih tata bahasa yang mudah dimengerti, namun mereka belum mulai bermain dan tampaknya Alvaro sudah salah paham.
". . . Hah? AKU gendong di game! Bukan gendong beneran, kakakkk."